Satu setengah jam yang lalu, Saya tiba di pom bensin dan mulai mengantri. Antrian panjang sudah mengular, di luar dugaan. Dari kemarin sore memang sudah terdengar kabar mengenai kelangkaan premium bersubsidi. Tapi, seperti yang sebelumnya terjadi, Saya tidak terfokus ke sana. Bahkan tak berusaha mencari kabar kelanjutannya. Hingga tadi pagi bensin di motor sudah memasuki zona berwarna merah. Dan merasa sial karena tiga pom bensin yang Saya lewati memiliki antrian cukup panjang. Daripada telat meeting pagi, akhirnya Saya mengurungkan niat untuk ikut antri pagi tadi.
Lebih karena kebutuhan, mau tidak mau, sore ini Saya harus mencari pom bensin terdekat dari kantor. Dan lagi-lagi Saya mengurungkan niat ketika melihat antrian cukup panjang terjadi di pom dekat kantor. Pilihan terakhir jatuh pada pom bensin di Lempuyangan. Kali ini tidak bisa lagi mengurungkan niat. Padahal kalau tidak isi bensin sekarang, besok Saya punya alasan tidak masuk kantor karena bensinnya habis, hehehe.
Dalam antrian panjang, yang bisa dilakukan hanyalah mengamati, sambil sesekali nge-twit juga sih. Sebagian besar pengantri melakukan aktivitas yang sama : mengamati. Sementara yang lain mulai menggerutu, melongok-longok antrian di depan, dan anak-anak mulai rewel. Satu jam mengantri, mulai ada tingkah manusia sia-sia yang minta didahulukan dalam mengisi bahan bakarnya. Menyerobot antrian untuk mobil yang jauh lebih pendek antriannya daripada antrian motor. Dalihnya macam-macam. Ada yang "saya tidak tahu antrinya darimana", "saya terburu-buru" dan satu lagi yang cukup menggelikan telinga "saya mau beli pertamax". Jelas menggelikan karena kami semua mengantri satu jam yang lalu untuk membeli pertamax karena premium sudah habis. Dan betul-betul tidak ada satupun manusia sia-sia yang berhasil menyerobot antrian, bahkan ketika mereka sudah sampai di depan isian bensin, petugas tidak mau mengisikan pertamax ke motornya. Tetap dengan pilihan kata yang baik dan meminta maaf karena mereka tidak bisa mengisi pertamax karena menyerobot antrian.
Saya salut dengan semua karyawan SPBU ini. Selama mengatasi antrian dan manusia sia-sia yang berusaha menyerobot antrian tadi, mereka tetap tersenyum. Meski lelah dan kesal mendera. Malam ini Saya belajar tentang kesabaran dan menghargai hak orang lain. Malulah untuk menjadi manusia sia-sia yang tidak mampu menghargai sesamanya, yang tidak sabar mengantri 1-2 jam. Belajar menikmati hidup dari sisi yang berlainan. Terima kasih, SPBU Lempuyangan dan juga pemerintah Indonesia-ku, untuk pelajaran berharga yang Saya amati malam ini.
Lebih karena kebutuhan, mau tidak mau, sore ini Saya harus mencari pom bensin terdekat dari kantor. Dan lagi-lagi Saya mengurungkan niat ketika melihat antrian cukup panjang terjadi di pom dekat kantor. Pilihan terakhir jatuh pada pom bensin di Lempuyangan. Kali ini tidak bisa lagi mengurungkan niat. Padahal kalau tidak isi bensin sekarang, besok Saya punya alasan tidak masuk kantor karena bensinnya habis, hehehe.
Dalam antrian panjang, yang bisa dilakukan hanyalah mengamati, sambil sesekali nge-twit juga sih. Sebagian besar pengantri melakukan aktivitas yang sama : mengamati. Sementara yang lain mulai menggerutu, melongok-longok antrian di depan, dan anak-anak mulai rewel. Satu jam mengantri, mulai ada tingkah manusia sia-sia yang minta didahulukan dalam mengisi bahan bakarnya. Menyerobot antrian untuk mobil yang jauh lebih pendek antriannya daripada antrian motor. Dalihnya macam-macam. Ada yang "saya tidak tahu antrinya darimana", "saya terburu-buru" dan satu lagi yang cukup menggelikan telinga "saya mau beli pertamax". Jelas menggelikan karena kami semua mengantri satu jam yang lalu untuk membeli pertamax karena premium sudah habis. Dan betul-betul tidak ada satupun manusia sia-sia yang berhasil menyerobot antrian, bahkan ketika mereka sudah sampai di depan isian bensin, petugas tidak mau mengisikan pertamax ke motornya. Tetap dengan pilihan kata yang baik dan meminta maaf karena mereka tidak bisa mengisi pertamax karena menyerobot antrian.
Saya salut dengan semua karyawan SPBU ini. Selama mengatasi antrian dan manusia sia-sia yang berusaha menyerobot antrian tadi, mereka tetap tersenyum. Meski lelah dan kesal mendera. Malam ini Saya belajar tentang kesabaran dan menghargai hak orang lain. Malulah untuk menjadi manusia sia-sia yang tidak mampu menghargai sesamanya, yang tidak sabar mengantri 1-2 jam. Belajar menikmati hidup dari sisi yang berlainan. Terima kasih, SPBU Lempuyangan dan juga pemerintah Indonesia-ku, untuk pelajaran berharga yang Saya amati malam ini.