Rabu, 23 Desember 2015

countdown.christmas.

24.12.2015
Bangun tidur paling pagi yang Saya lakukan setahun belakangan. Sehari sebelum Natal. Sudah tidak sabar pergi ke Gereja, terus pulang ke rumah Uti. Rasanya sudah haru tak karuan. Saya begitu merindukan suasana di sana. Keluarga - canda - tawa - tangis - makan - jalan - bahagia.

Masing-masing kita memiliki cara sendiri dalam memaknai Natal. Saya, sederhana saja. Natal memberi Saya kesempatan untuk menambah energi positif, meningkatkan mood, dan berbagi. Setelah hampir 365 hari berkutat dengan kesibukan tanpa henti, Natal adalah perhentian. Berhenti dari kesibukan, merenungkan kesibukan, untuk kemudian siap kembali disibukkan.

Saya beruntung setahun ini dikelilingi oleh mereka yang luar biasa. Mereka yang membuat hidup Saya sungguh penuh warna. Mereka yang membuat kesulitan, mengajak berpikir, membuat tertawa, menimbulkan amarah, dan mengajarkan besar hati. Mereka yang membuat Saya merasa kecil, sekaligus merasa besar dalam satu waktu. Pekerjaan, sosial, dan cinta.

Untuk Natal dan tahun yang akan berganti, Saya bersyukur.
Semoga sukacita terus ditambahkan dalam kehidupan Saya dan disempatkan membaginya dengan sesama. Amin

Selamat Natal dan Tahun Baru 2016


*Meskipun Natal ini tanpa mas Bonna, mbak Louiz, mas Dome, dan debay, tapi Saya yakin mereka tetap ada di hati (dan tetap kami rindukan)
















Jumat, 23 Oktober 2015

tidak.berhenti.

Puji Tuhan.
Sudah akhir minggu. Nafasnya bisa dihela sedikit.
Seminggu yang berat untuk dilalui.

Tertimpa cyber crime oleh teman sekantor akibat hobi selfie (dan ketidakbisaan orang lain menempatkan diri). Ritme kerja yang tetiba meningkat. Cibung yang sedang kurang sehat. Gagal membanggakan orang tua. Dipamitin tim hore pindah ke ibukota. Tabungan yang mengempis (baca : menahun sih kalau yang ini). Dan prithilan-prithilan lain yang terjadi begitu negatif seminggu belakangan.

Setiap tawa boleh tertahan. Setiap kesenangan bisa hilang. Sayangnya Saya belum akan berhenti. Tangan Saya masih akan mengepal, kaki Saya masih tetap menopang, dan otak Saya masih akan berputar. Toh, akhir pekan sudah datang.




Jumat, 02 Oktober 2015

un.stabil.

Eits! Hampir saja lupa menulis. Sudah terlewat satu bulan tidak memosting di sini.

Biar kekinian, nampaknya menarik menuliskan pemikiran Saya tentang perubahan perekonomian yang terbahas di sana sini. Bukan tentang apa yang terjadi di kancah perekonomian negara sih. Hanya menulis dan berbagi mengenai apa yang kemudian terjadi akibat isu ini (atau paling tidak coba mencari hubungannya).

Saya bukan pengamat ekonomi dan sejujurnya Saya belum merasakan langsung (secara pribadi) dampak atas pergulatan perekonomian. Semua kebutuhan masih terbeli dan cicilan masih terbayar. Di timeline sosial media Saya juga tidak banyak yang membicarakan atau mengeluhkan dampaknya. Ya iyalah, temenannya enggak sama menteri sih.

Kemudian menjadi cethek kah Saya dalam menilai? Tentu tidak secethek itu. Imbas yang Saya rasakan lebih kepada perusahaan dimana Saya bekerja dan brand yang Saya ampu. Beberapa produk harus mengalami kenaikan harga karena harga bahan baku yang terus meningkat. Kunjungan menurun meskipun tidak lantas menjadi sepi. Semangat pun semakin hilang karena kesulitan mencapai target. Klasik. Kalo gajiannya pakai dolar, enak nih.

Semoga perekonomian di Indonesia tetap stabil sehingga Saya dan Anda dapat hidup sejahtera. Membesarkan generasi penerus tanpa berkekurangan. Menyekolahkan mereka di tempat yang baik dengan biaya yang terjangkau. Memberikan liburan yang menyenangkan di negeri sendiri tanpa memikirkan biaya mahalnya. Pada akhirnya Saya dan Anda melihat mereka hidup bahagia.

Up, up, revenue, up.

Jumat, 21 Agustus 2015

who.am.i.

Menjadi berbeda tidak melulu menyenangkan. 
Saya merasa ini tepat, sedangkan kebanyakan orang merasa yang sebaliknya. 
Dia beranggapan bahwa itu hal biasa, sedangkan tidak untuk Saya. 
Saya panik tentang satu hal, sedangkan orang lain menanggapi dengan santai. 
Saya perencana sejati dan selalu berhadapan dengan manusia tanpa rencana pasti. 
Saya berpikir tentang A, sedangkan dia dan mereka berpikir tentang Z. 

Tidak pernah mudah  belajar memahami bagaimana cara orang lain berpikir. 
Tentang ini. Saya sering kali merasa aneh. Serasa makhluk asing di bumi. 
Alien. 
Idiot. 
Kali ini Saya lupa bagaimana caranya bersyukur ketika menjadi berbeda itu menyakitkan. 
Saya lupa.
Tapi, Saya, dia dan mereka bisa saja saling menghargai. 
Bisa saja saling membantu. Bisa saja mencoba memahami untuk kebaikan bersama. 
Bisa.

Menjadi berbeda terkadang bukan pilihan. 
Kebanyakan karena bawaan sedari lahir dan melihat dunia. 
Menerima perbedaan bukan hal mudah JIKA diri sendiri tidak bisa mensyukuri yang berbeda. 
Jadi, Saya mulai menerima perbedaan yang disematkan dalam pribadi Saya sedari lahir dan mentolerir yang lain. Hingga indahlah kehidupan dan Saya menjadi bagian di dalamnya.


Kamis, 06 Agustus 2015

jujur. bahagia.

Sementara yang lain meneruskan ke pasca sarjana, 
Saya asyik  bekerja kantoran. 
Sementara yang lain memasak untuk pasangannya, 
Saya asyik shopping beli ini itu. 
Sementara yang lain belajar jadi ibu, 
Saya masih asyik menemani cibung bertumbuh.

Saya terlambat di segala bidang kehidupan. Tapi Saya bersyukur, terlebih untuk bagian terakhir. Saya menikmati betul mendampingi papah mamah (bersama kakak Saya) dalam membesarkan cibung. Hingga tiba di tahap yang ini. 

Tahap yang mau tidak mau, suka tidak suka, Saya melihat dia menjadi mahasiswa. Jelas akan semakin banyak waktunya yang terbuang untuk bersama Saya, sekedar cerita dan tertawa. 

Sudah hari ketiga ospek dan rasanya terlalu haru di setiap paginya melihat cibung masuk gerbang kampusnya. Sudah 17 tahun. Sudah kuliah. Sudah.

Ach!

Jangan cepat tua, nak, mbak tis masih pengen nguyel-uyel kamu. Jangan penuh kekhawatiran karena Tuhan menjamin hidupmu. Selamat menikmati jenjang yang baru. Tetaplah polos, jujur dan bahagia. Tuhan memberkati kamu.







Minggu, 02 Agustus 2015

tertulis

Tertulis untuk abang kecil kesayangan ontis.

Dua hari sebelum Lebaran, keributan terjadi (lagi), nak. Antara bapak dan ibumu.

Ketidakcocokan mereka sudah terjadi sebelum menikah, entah bagaimana Sang Empunya menuliskan garis hidup mereka hingga pernikahan tetap terjadi. Tiga hari setelah kamu lahir, keributan besar terjadi karena ibumu tidak pernah bisa menerima ibu dari bapakmu dan bapakmu begitu menghormati ibunya. Itu hari terakhir kami melihatmu, nak. Ibumu dan keluarganya menutup semua akses kami untuk tahu kabarmu. Bapakmu begitu luar biasa menutupi kesedihan di depan kami. Setiap pulang ke Jogja, bapakmu begitu terlihat bahagia, seakan lupa betapa rindunya untuk bertemu kamu. Cukup lama, nak, sampai hari eyang uyut sedo. Ibumu membawa kamu untuk kami, atau paling tidak, untuk menghormati eyang uyut. Ontis bersyukur untuk hari itu. Hari dimana kami bisa melihat Domenico Savio Louna Arakata.

Kami mulai bisa melihat perkembanganmu, kamu tumbuh pintar, meskipun ketawamu jarang-jarang. Satu tahun usiamu dan ontis ada di sana. Ontis berdoa semua ini akan terus membaik dan semakin membaik karena kebahagiaan bapak dan ibumu (juga kamu) adalah semangat untuk ontis.

13  Juli 2015. Ontis rasanya mau mukulin orang. Bapak dan ibumu (juga keluarganya) ribut di rumah Jogja. Intinya ibumu mau ikut keluarganya pulang ke Salatiga, sementara bapakmu memegang komitmen awal untuk Lebaran di Jogja, bersama keluarga besar eyang kung. Ontis kecewa karena ibumu menangis terisak menahan emosi sembari menggendong kamu yang sedang tidur pulas. Ontis tahu kamu bisa merasakan, nak (ontis banyak baca tentang hubungan ibu dan bayinya). Ontis tidak lagi peduli apa yang bapak dan ibumu ributkan, ontis hanya ingin sekali memeluk kamu karena ontis merasa hari itu akan jadi hari terakhir kalinya ontis bisa dekat kamu, seperti yang setahun lalu terjadi.
Bapak begitu marahnya ke ibumu dan keluarganya. Entah emosi yang sudah terpendam berapa lama. Semuanya bapak lakukan demi bisa memegang tanganmu, nak. Ontis bisa merasakan segala amarah dan kesedihan yang bapakmu simpan.

Hari ini ontis memutuskan untuk menulis, meski eyang memperingatkan ontis berkali-kali untuk menghindari media sosial karena ibumu begitu sensitif. Ontis menulis supaya lega, nak. Amanah yang eyang putri titipkan ke ontis dan onell kemarin sungguh menjadi beban pikiran ontis. Eyang putri begitu sakit di hati atas perlakuan ibumu sedari awal, eyang putri begitu kecewa dengan pembelaan eyang kakung untuk ibumu yang menurut ontis juga kurang pantas.

Ontis menyayangi kamu, nak, terlebih karena ontis mengenal bapakmu dan tidak memahami sikap ibumu. Ontis akan ingatkan bapakmu untuk tidak kembali bertengkar di depanmu. Tapi ontis berjanji, ontis tidak akan menanyakan kabarmu, nak, karena ontis tahu itu akan membebani bapakmu dan bukan tidak mungkin akan menimbulkan keributan yang lain. Tumbuh sehat, abang kecil, jangan takut. Kamu Tuhan kirim untuk menjaga bapak dan ibumu.

Saya menuliskan ini di blog pribadi (dan tidak Saya share) supaya setiap sejarah tercipta ada catatannya. Dan Saya bisa mengenang bagaimana sejarah tertuliskan.





Rabu, 17 Juni 2015

love.letter.

(Berandai-andai punya anak esok hari)

Aku menuliskan ini supaya kamu tahu betapa aku ingin kamu tumbuh dengan baik menurut sudut pandang kami (ayah dan ibumu).

Nak, aku tidak dibesarkan dalam keluarga yang kaya raya dan harmonis. Masa kecilku cukup. Cukup sebagaimana mestinya seorang anak tumbuh. Main boneka, masak-masakan pakai daun dan tanah, belajar naik sepeda, berenang dan berebut mainan dengan sebayaku. Aku akan mengajarkan kamu bermain selayaknya anak di usiamu. Di sela waktumu bermain, aku akan mencontohkan kepadamu tentang berbagi. Aku ingin kamu menjadi generasi yang lebih ingin memberi daripada menerima.

Dengan memperlihatkan kepadamu indahnya berbagi, aku berharap kepekaan dalam dirimu akan tumbuh dan mengakar. Iya, nak, aku ingin kamu menjadi generasi yang peka. Peka akan lingkungan di sekitarmu dan segala mahkluk di dalamnya. Peka akan menjadikan kamu manusia yang bisa menghargai hidup. Peka juga bisa menjadikan hidupmu penuh kasih. Kasih yang tulus ikhlas.

Tentang kasih atau lebih akrab aku ucapkan -cinta- akan kutunjukkan di masa remajamu. Cinta kepada lawan jenis akan kamu rasakan pertama kali, nak, meski aku tidak tahu harus merasa apa jika kelak mendapati kamu jatuh cinta. Itu akan jadi moment pertama aku mempersiapkan diri kehilangan kamu dan segala cintamu kepadaku. Bagikan cinta secukupnya karena cinta akan membuatmu mati jika dibagikan secara berlebihan. Bagikan cinta sama rata, sama rasa untuk pasanganmu, untuk pendidikanmu, untuk masa depanmu, untuk teman dan saudaramu. Dan sisakan sedikit untukku.

Di masa dewasamu, aku akan menambahkan sedikit tentang menjadi generasi yang kuat. Bukan angkuh dan kasar, nak. Aku ingin kamu melihat kehidupan dari segala sisi sebelum kamu menilai. Aku ingin kamu tahu rasanya jatuh dan kemudian bangkit lagi. Aku ingin kamu merasakan sakit untuk kemudian tahu caranya sembuh. Aku ingin kamu menjadi rasa aman untuk segala ketakutan di bumi ini. Aku ingin kamu bisa diandalkan.

Semoga pengalaman hidupku 27 tahun ini cukup menjadi bekalku membesarkanmu, kelak.

Minggu, 17 Mei 2015

ayah. anak.


Terima kasih anak muda Kolese John De Britto untuk Ekaristi Kaum Muda yang mengena dan sederhana.
Tema yang diangkat tentang komunikasi dalam keluarga, menyoroti lebih ke komunikasi ayah dan anak. Insightfull sekali kan?!
Ayah adalah musuh anak laki-laki (dan pacar pertama anak perempuan). Larangan dan aturan yang ayah buat untuk anak lelakinya terkadang lebih berat dibanding untuk anak perempuannya. Seperti yang ayah Saya terapkan. Meski tidak terlalu mencolok karena karakter Saya memang lebih keras kepala dibanding kakak laki-laki Saya. Misalnya tentang tato. Mati-matian kakak Saya pengen tato, tapi Saya duluan yang tatoan. Ini selain karena kakak Saya sabar dan berprinsip, tapi juga karena papah pernah secara tidak langsung menentang keinginannya untuk mentato tubuh. Nasehat dan cara hidup juga lebih sering diberikan papah untuk kakak Saya. Ini terkadang membuat anak laki-laki kesal terhadap ayahnya. Menjadi menarik karena EKM ini tidak hanya menyajikan realita anak muda, tapi juga mengajak kami untuk merenungi apa yang terjadi. Melihat lebih dalam mengapa ayah bersikap sedemikian keras dan acuh. Mengapa ayah tidak meluangkan waktu? Benarkah keras dan acuh? Atau sedang mempersiapkan hal baik untuk kita? Benarkah tidak meluangkan waktu? Atau sedang berjuang untuk kita?

Atau kita yang tidak punya waktu untuk Ayah??

Kakak Saya sudah menjadi seorang Ayah. Suami Saya kelak akan menjadi Ayah. Semoga mereka mengingat moment belajar naik sepede pertama kali. Mengingat tentang rokok dan bir bersama ayah. Mengingat amarah dan bentakan untuk menjadi tangguh. Semoga apa yang ayah tanamkan menjadi bekal mereka dalam menghasilkan generasi yang berani, penuh cinta dan berpengharapan.
Selamat hari komunikasi :)









**update foto 16 Desember 2016











 

Jumat, 24 April 2015

percaya.partner.

Malam ini Saya mendapati partner Saya berusaha menyembunyikan sesuatu di handphonenya. Entah apa yang sedang terjadi, tapi satu-satunya yang melintas di pikiran Saya hanyalah pertanyaan - kenapa?-
Kebersamaan kami ternyata memang tidak menjadi jaminan bahwa diantara kami tidak ada rahasia (lagi). Bahkan mungkin semua rahasia tersimpan rapi di handphone. Dari dulu Saya meyakini bahwa benda ini adalah wilayah paling privasi yang dimiliki seseorang dan tidak akan Saya sentuh tanpa ijin pemiliknya. Sampai malam ini, sayangnya pendirian Saya masih teguh. Saya tidak marah, hanya kesedihan Saya tetiba membuncah. Penasaran. Atau mungkin meragu.
Bagaimana bisa kepercayaan tumbuh kalau hati Saya ragu?
Jadi inget film Street Dance. Menari berpasangan akan menjadi hidup ketika penarinya saling percaya. Ada passion yang terjaga untuk menghasilnya nyawa dalam setiap gerakan. Menari saja membutuhkan kepercayaan dan kerja tim yang baik, apalagi hidup.
Saya banyak menerka, mencari ke dalam diri sendiri. (Sekali lagi) Saya tidak merasa sedang terbakar amarah. Hanya kebingungan. Dan kemudian tersadar. Mungkin kesalahannya ada di dalam diri Saya sendiri. Mungkin ini bukan tentang rahasia atau kebohongan yang sedang ditutupi. Mungkin ini hanya tentang privasi. Ruang nyaman yang tidak perlu diusik.

Selamat malam, partner kesayangan, semoga kita tetap menjadi tim yang baik meski privasi ada di tengah kita. Aku (hanya) menyayangi lebih dari yang selalu aku katakan :)

Rabu, 15 April 2015

bosan. belajar

Sedang bosan.
Ingin coba menulis.
Dalam kebosanan.

Belajar dari Singapura. Tercengang dengan sistem di sana. Seolah semua berjalan dengan sistem yang baik. Transportasi, misalnya. Wajar tidak banyak kendaraan pribadi di jalanan karena transportasi umumnya nyaman untuk digunakan beraktivitas sehari-hari. Penunjuk arah dibuat semudah dan sebanyak mungkin untuk wisatawan yang berkunjung. Penyebrangan dan area merokok ada tempatnya sendiri. Peraturan dibuat dan warganya menaati.





Museum di Singapura juga keren, meskipun sama sepinya dengan di negeri Saya. Olah seni yang disajikan dengan detil dan indah. Rapi. Banyak mall di Singapura. Mall besar yang menjual produk bermerk ternama. Baju, tas, asesoris, sepatu dan gadget yang menarik mata. Gaya berpakaian warga kotanya enak dilihat mata. Fashionable dan elegan. Gedung bertingkat menarik mata dan nampak hidup di malam hari karena lampu yang menyala. Tercengang.










Marina Bay,  Sentosa Island dan Universal Studio pasti udah banyak yang ceritain ya :))











Senang berada di Singapura untuk beberapa waktu dan mencuri banyak ide dari sana.