Rabu, 19 Desember 2018

lepas

Setelah mengingkari janji untuk menulis sebulan sekali dan tergantikan dengan patahan - patahan sajak di caption foto instagram atau sekedar umpatan di twitter - facebook, mari menulis kembali tentang hari. Ditemani anak bayi yang tenang tumbuh bersama saat ini.

Tahun ini adalah tahun banyak kehilangan, sekaligus awal beberapa pertemuan. Suasana yang menyenangkan dihilangkan oleh cerita karangan beberapa pihak, menjadi menjijikkan rasanya. Saya juga kehilangan keseimbangan dalam berkendara yang mengakibatkan beberapa minggu kesulitan beraktifitas. Shiro, anjing maltese kesayangan kami meninggal di November kemarin.



Kehilangan yang berimbang dengan pertemuan. Kami bisa berkumpul utuh sebagai keluarga dan punya foto keluarga komplit, meskipun cuma nebeng di kawinan sodara. Pertemuan dengan beberapa teman lama. Pertemuan dengan banyak kegiatan baru. Dan pertemuan yang paling menyenangkan di akhir tahun adalah pertemuan Saya dengan makhluk bernama janin. Saya hamil delapan minggu, di November, setelah empat tahun menunggu giliran. Kuasa yang sungguh tak pernah berhenti Saya mimpikan. Pertemuan yang pasti akan mengubah kehidupan Saya ke depan.









Setahun ini menjadi refleksi hidup yang mengasyikkan. Terlibat rasa yang tak kunjung padam, hingga mungkin menyakiti beberapa pihak di luar Saya. Sekalinya dalam hidup yang membuat Saya sadar bahwa tak melulu indah arti pertemanan. Juga tentang ketulusan yang dengan mudahnya dihancurkan oleh cerita karangan yang menjanjikan. Memudarnya kepercayaan dan cinta. Pergumulan di sana sini yang berujung keikhlasan. Saya percaya, kehidupan ini akan seimbang dengan caranya. Tak perlu mengutuki kehilangan dan mengkhawatirkan sebuah pertemuan.

Dan yang paling penting, Saya belajar melepaskan dan menjadi bahagia dengan sendirinya. Belajar untuk menghadapi keseimbangan dan jadi lebih berani, seperti ketika dulu bayi belajar berdiri sendiri.

Di ujung tahun ini, doa Saya selalu tentang fokus. Saya ingin fokus pada janin, pekerjaan dan kehidupan kami. Saya ingin jauh lebih fokus membagikan kebahagiaan. Saya bersyukur untuk hidup yang terus mendewasakan. Sampai bertemu di tahun yang baru, 2019, dengan keseruan lainnya.


















Sabtu, 20 Oktober 2018

makassar.vacation.

Namanya laut. Angin pasti kenceng.

Beberapa hari yang lalu Saya berkesempatan berkunjung ke Makassar, Sulawesi Selatan. Berangkat dari Jogja menggunakan penerbangan pagi Garuda Indonesia 08.10 WIB (ada perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari di Jogja). Penerbangan yang menyenangkan selama satu jam empat puluh lima menit ini berhasil membuat Saya tidak tidur lama seperti biasanya. Padahal pagi itu Saya bangun lebih pagi dari biasanya. Mungkin karena excited mau ke kota yang belum pernah Saya kunjungi sebelumnya.



Sampai di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin sudah ada panitia penyelenggara acara yang menjemput Saya bersama empat orang lainnya untuk segera menuju penginapan kami di Aston Makassar.


Kuliner pertama yang Saya coba di hari pertama adalah Coto Makassar  Daeng Tayang. Beruntungnya karena lokasinya dekat dari penginapan dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih lima menit. Dan lebih beruntung lagi karena rasa cotonya enak banget. Dua mangkok coto, tiga kupat, dan dua es jeruk menghabiskan total Rp 87.000. Lumayan untuk dompet karyawan di Jogja seperti Saya.



Malam harinya Saya makan malam bersama rombongan di Losari Restaurant. Menu makannya ikan dengan segala macam olahan, cumi, dan sambal. Makanan di Makassar hari pertama ini rasanya enak dan pas di lidah Saya.



Hari kedua adalah hari bekerja. Table Top. Saya akan bertemu banyak agen tour & travel di acara ini. Menginformasikan mengenai perusahaan di mana Saya bekerja dan membuka peluang - peluang kerja sama. Begitulah bisnis terus berjalan.





Sore hari Saya dan beberapa teman menuju Pantai Losari untuk melihat matahari terbenam. Jalan kaki kurang lebih 10 menit dari penginapan. Angin kencang Makassar selalu Saya temui ketika berjalan kaki. Menyenangkan tertepa angin kencang khas pantai. Meskipun ternyata di Makassar, atau secara khusus di Pantai Losari, tidak ada ombak bergelombang seperti pantai yang selalu Saya bayangkan. Hanya bisa duduk dan menikmati angin saja tanpa menyentuh air pantai. Di area sepanjang Pantai Losari biasa digunakan untuk beraktivitas warga Makassar seperti senam, lari santai atau sekedar menikmati suasana di sana. Ada juga jasa foto keliling yang akan membantu mengambil gambar di depan tulisan Pantai Losari. Biayanya Rp 10.000 untuk lima foto yang akan dikirimkan melalui Whatsapp. Kalau ingin berkeliling mengitari pantai, ada alternatif menggunakan perahu motor yang disewakan Rp 10.000 per orang. Melihat matahari terbenam dari atas perahu motor hari itu menghilangkan segala kelelahan Saya.









Puas menikmati matahari terbenam, Saya menuju rumah makan Aroma Palopo. Rumah makan ini menjual makanan khas Makassar yang namanya sulit Saya ingat, selain Es Pisang Ijo. Makanan di Makassar sangat kuat rasa rempahnya dan kebanyakan berbahan dasar sagu.



Hari kedua ini Saya akhiri dengan mengunjungi Trans Studio Mall. Salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan menjadi pilihan pertama di Makassar. Kali ini Saya menggunakan Go Car untuk menuju Trans Studio Mall. Dari Aroma Palopo ke Trans Studio Mall menggunakan Go Car kurang lebih 15 menit Rp 16.000.

Perjalanan pertama di hari ketiga dimulai dengan mengunjungi Kampung Berua, di desa Ramang - Ramang. Membutuhkan kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan mobil dari penginapan menuju Ramang - Ramang. Tiba di pelataran Ramang - Ramang, Saya melanjutkan menggunakan perahu motor. Menyusuri sungai yang ditumbuhi tanaman bakau di kanan kirinya. Tiba di Kampung Berua  pemandangan bukit karst mengelilingi. Ada dua gua yang juga bisa dikunjungi di sana. Tidak berlama - lama di Kampung Berua, Saya menuju pusat oleh - oleh khas Makassar. Membeli beberapa kain songket dan kripik pisang untuk dibawa pulang.












Ford Rotterdam menjadi tempat berikutnya. Berisi cerita sejarah Makassar. Ada replika rumah adat, kapal Phinisi, senjata tradisional, pakaian adat dan sebagainya. Saya kurang tertarik di sini jadi kesulitan untuk mendeskripsikan isinya.




Tujuan terakhir hari ini adalah Pantai Akarena. Pantai dengan ombak seperti yang Saya inginkan walaupun sedikit kotor. Tak butuh waktu banyak untuk merasakan air pantai membasahi kulit. Menyenangkan.




Saya menghabiskan waktu di pantai ini sebelum menuju bandara untuk penerbangan pukul 19.35 WITA. Terima kasih, Makassar.

Selasa, 11 September 2018

mati.serius.

Kenapa kamu bisa mentertawakan banyak hal dalam hidupmu? Saya balik bertanya : kenapa kita tidak bisa mentertawakan banyak hal?

Hidup Saya tak melulu bahagia dan tertawa. Bahkan sebagai perempuan pisces yang melankolis, hampir seluruh hidup saya isinya kebaperan. Belakangan tulisan pendek Saya isinya tentang kesedihan dan kalut. Tapi toh orang tetap saja melihat hanya kegembiraan Saya. Emosi (positif atau negatif) hanyalah tentang cara pandang. Semua tentang cara pandang kita terhadap sesuatu.

Why so serious?
Suatu masalah datang, menggiring emosi negatif kita. Tidak perlu dipikirkan terlalu serius. Terima oleh akal sehat, cerna oleh perasaan, dan selesaikan dengan tepat.

Kamu tahu?
Menentukan bahagia atau tidak adalah hak masing - masing pribadi. Tahu sedikit tentang sesuatu bisa saja merenggut banyak bahagia yang tadinya kita rasakan. Berganti dengan sedih, marah dan takut. Karena bahagia adalah satu - satunya emosi yang kita inginkan. Maka akan banyak hal di luar sana yang rela melakukan segala cara untuk merenggutnya.

Lantas bagaimana ketika emosi negatif menguasai? Setiap kita punya cara masing - masing untuk menghilangkan emosi negatif. Cuma kadang belum menemukan cara yang efektif. Untuk Saya, cara paling mudah : kedipkan mata perlahan, paksakan senyuman, dan mulailah merasa bodoh akan setiap emosi negatif yang kita hadirkan untuk mengatasi suatu hal. Tertawakan dan biarkan emosi negatif menghilang dengan sendirinya.

Santailah.
Bahagialah dengan cara yang bisa kita tentukan sendiri. Sungguh, bahagia dan segala rasa yang kita alami hanyalah tentang cara pandang. Nikmatilah semua rasa yang sementara.


Jumat, 17 Agustus 2018

ragu.mendayu.

Percakapan dua pria di meja sebelah ini menginspirasi Saya untuk menulis tentang cinta, mencintai, dicintai, dan diingkari.

"Dia yang nggodain. Aku sih nggak ada rasa. Tapi jangan bilang ke orangnya ya"

Kalau kenal, rasanya ingin kutempelkan cermin besar tepat di matanya. Perempuan yang baik tidak akan (terus) menggoda laki - laki jika tidak ada respon. Mau bilang, "nggak enak kalo nggak ngrespon?" atau "perempuannya yang baperan?"
Mampus saja kau dengan segala pembenaranmu.

Perempuan akan berhenti menggoda (katakanlah memang perempuannya menggoda) ketika laki - laki yang dipuja bersikap tegas. Tidak, jika memang tidak ingin. Jangan bilang tidak, tapi masih mau perhatiannya, masih mau manja - manjanya. Bicaralah kau pada penismu. 

___

Untuk maraknya perselingkuhan
Salahkah?
Untuk mudahnya hati berpaling
Salahkah?
Mengapa?

Ketika sudah membuat komitmen kemudian merasa jatuh pada hati yang lain, manusiawi. Hati kita diajarkan untuk berbagi. Sederhana.

Tapi, sungguhkah mampu berbagi?
Sungguhkah rasa sakitnya tak akan menyerang kita?
Benarkah jatuh pada hati yang lain adalah pilihan alami yang tak mampu dikondisikan? Sungguhkah tak tahu bagaimana caranya untuk kembali pada rasa yang sama? Tak adakah ingatan akan janji yang pernah terucap?

Cinta berat pada pasangan, tapi tawaran cinta yang lain sungguh menggoda. Mulai membandingkan. Mencari titik nyaman yang lain. Begitu seterusnya. Bahkan ketika merasa sudah bertemu pasangan yang tepat sekalipun. Pilihan untuk berbagi hati semakin tinggi. Dari yang adem ayem, sampai yang berantakan. Ada yang berujung kembali ke pasangan asli, dan mengingkari. Tapi tak sedikit yang berakhir di hati yang baru. Tergantung tingkat kerumitan dan alasannya. Hidup.

Bagaimana kita mengambil kesempatan adalah menjadi pilihan masing - masing. Termasuk juga memilih berada di satu kubu atau berpaling ke kubu yang lain, atau berada di dua kubu selama sama - sama paham resiko, misalnya.

Untuk yang sama - sama meraja di hati, berjuanglah. Jujur pada diri sendiri dan berhenti mengatasnamakan bahagia di tangan orang lain. Karena begitu segala sesuatu berjalan tak sesuai angan, matilah pada kata - kata.


Nanti,
ketika aku menyadari bahwa rasaku tak tepat, terjerat di sana secara dalam,
terjebak tapi ingin tetap tinggal
Satu satunya rasa yang akan membuatku lepas hanyalah lara
Lara untuk membiarkan bahagiamu utuh
Aku berjanji, aku tak akan lari
Aku di sini, menebus semua rasaku dan mengijinkannya berlalu darimu, sayangku

Tulisan ini hanya semu. Tentang aku yang meragu pada hatimu, canduku. Merdekalah mencinta, berdua denganku.