Kamis, 19 Februari 2015

Kerja. Kaya.

Kurang lebih enam tahun yang lalu Saya mulai mencoba bekerja. Menghasilkan uang saku tambahan. Berpindah - pindah lahan sesuai kesenangan. Tiga tahun belakangan Saya memulai karir full time di dalam sebuah perusahaan. Marketing. Menjual dan menyusun strategi. Pengalaman yang seru, mengingat latar pendidikan Saya bukan di jalur yang sama, hanya mirip di beberapa bagian, seperti -  tentang bagaimana cara memasarkan- misalnya.
Di tempat kerja sebelumnya, Saya terbiasa bekerja sendiri. Memutuskan sendiri bagaimana cara mencapai target bulanan, promo mana yang bisa dijalankan, proposal mana yang bisa disupport dan mana yang tidak. Menyenangkan. Tapi nggak punya teman kerja untuk tik-tok, selain dengan pemilik usaha. Di tempat sekarang ini, keterbiasaan bekerja sendiri harus diredam karena Saya bekerja dalam tim. (Lebih) menyenangkan. Harus menahan banyak ego dan keinginan karena kepala lain pasti punya ego dan keinginan yang lain. Stres tapi harus diatasi.
Anggota tim datang dan pergi silih berganti. Cocok tidak cocok. Suka tidak suka. Sekalinya bertemu dengan tim yang pas, sudah harus habis masa kontraknya. Mood naik dan turun. Bersyukur karena kemudian Saya menyadari bahwa untuk menjaga mood tetap baik dan suasana kerja tetap menyenangkan, sumbernya hanya ada di kepala Saya sendiri.
Pilihan untuk mengesampingkan ego dalam pekerjaan adalah yang paling tepat. Dan mencoba mencintai adalah yang lebih tepat untuk Saya pilih saat ini. Saya mencintai pekerjaan Saya, kesulitan-kesulitan di dalamnya dan tim yang menyenangkan. Kamu?







Jumat, 13 Februari 2015

ego

Tepat di hari kasih sayang ini, Saya terbangun tengah malam. Ach.

Belum genap sebulan Jingga pindah kerja ke Jogja. Senang karena akhirnya doa Saya dikabulkan. Tapi ternyata tidak pernah semudah yang Saya bayangkan. Mengenal Jingga selama kurang lebih 6 tahun tidak menjamin apa-apa. Saya belum tau banyak tentang Jingga. Tau sih tentang joroknya laki-laki, tapi nggak terbayang sejorok ini. Tau juga tentang gedubragannya, tapi nggak separah ini. Tau banget tentang perhatiannya, tapi nggak membayangkan akan se-lebay ini. Tidak pernah mengira akan semenyebalkan ini  hidup bersama Jingga. Dan Saya jadi tukang protes luar biasa sejak berada dalam zona satu atap ini.
Hingga Saya berada di titik ini. Titik dimana Dia menuntun dan menunjukkan Saya tentang apa yang (mungkin) sedang terjadi. Kemarin malam Jingga mengigau memanggil nama adik laki-lakinya. Malam ini mimpinya mungkin lebih seru, secara dia ketawa gitu lho. Ketawa seperti biasa dia bercanda dengan bapak ibunya. Sebelum terjaga malam ini, dalam mimpi Saya, Jingga juga bilang rindu ibunya.
Positif nggak bisa tidur sekarang. Seketika merasa berdosa. Sadar. Selama bersama Saya, Jingga pasti sebegitu tersiksanya. Perbedaan kebiasaan ini menjadi kesulitan besar yang ternyata sama-sama kami pendam dalam hati. Dalih untuk belajar menerima perbedaan berubah menjadi senjata tajam yang melukai hati. Menuliskannya di sini pun, mungkin jadi momok karena mengumbar pergulatan hati (bahasanya gini banget ya hehe) yang bersifat pribadi.
Tapi yang ingin Saya bagikan bukan sisi negatifnya. Saya ingin mengungkapkan rasa syukur karena Dia yang Saya puji sepanjang hari menuntun Saya sebelum terlambat. Sebelum apa yang kami pendam menjadi bom peledak. Sebelum kebahagiaan yang kami susun menjadi hancur berantakan. Sebelum hari kasih sayang berakhir hari ini.
Ini cara yang tepat untuk mengingatkan Saya bahwa cinta akan dengan sendirinya mengalahkan ego untuk kemudian meraih bahagia yang kami benar-benar ingin rasakan.

Happy Valentine's Day
Semoga semua makhluk berbahagia :)


Minggu, 01 Februari 2015

love.inside.

Awal bulan penuh cinta ini, seru untuk Saya jalani.

Seru karena sudah memegang 4 tiket nonton konser Tulus dan Sheila on 7 di tengah bulan nanti. Seru karena pekerjaan sampingan terus datang. Dan lebih seru karena Jingga, akhirnya, merelakan diri untuk pindah ke Jogja. Pas juga, dapet kerja pengganti di Jogja. Bisa ngrasain hidup bareng. Akhirnya kan?! Iya, akhirnya. Akhirnya bebas dari masa bully-an karena udah menikah tapi masih tinggal beda kota *langsung tag orang di kantor*

Serunya berasa banget pagi ini. Hari pertama Jingga masuk kerja di tempat baru. Berantakan deh. Salah hitung jam, hehe.. Mudah-mudahan nggak telat sampai kantor baru ya

Baru berasa deg-degannya tinggal satu rumah sama Jingga dalam waktu yang panjang. Belum bisa masak, belum bisa bangun pagi, belum bisa enjoy ninggal adek cantik tidur sendirian dan masih banyak lagi 'belum-belum' yang lain. Menyatukan kebiasaan yang berbeda antar individu menjadi satu bagian yang seru. Apalagi kewajiban membagi waktu dengan porsi yang seimbang. Memilih pergi ke acara keluarga Jingga atau ke acara keluarga Saya, dan atau memilih tetap bekerja.

Masih banyak keseruan yang pasti akan terjadi bulan ini dan bulan-bulan selanjutnya. Tapi, satu yang membuat Saya yakin bisa menikmati keseruan ini adalah kemauannya untuk berubah dan merelakan ego demi membuat Saya bahagia. Meski kemudian Saya berpikir keras bagaimana cara membalas semua yang telah dikorbankan, karena dibalik semua yang terjadi, intinya cuma - kuhanya ingin dekatmu.

Love here to stay