Jumat, 24 September 2021

rasa.takut.

Salah satu alasan aku tidak sepola asuh dengan Ibuku adalah beliau tidak mentolerir rasa takut yang dirasakan seorang anak. Sementara aku mengijinkan rasa takut dirasakan sebagai sebuah rasa. Sama seperti rasa berani. 

Mili itu takut sama suara yang belum dia kenal. Jinggel es potong, misalnya. Atau penari yang menari di perempatan dengan musik yang keras dan menggunakan topeng. Tapi Ibuku selalu menyangkal "kok apa - apa takut sih". Nggak jarang juga mili langsung dibawa ke sumber ketakutannya. Biasanya kalo sudah begini, aku akan ambil alih mili. Bukan tentang "ya kalo nggak dikenalin nggak berani - berani", tapi aku tahu anakku. Ketakutannya akan hal yang dianggap sepele oleh orang dewasa, biasanya akan terbawa sampai tidurnya. Mimpi. Teriak - teriak. Alih - alih mengajari cucunya melawan rasa takut, malah bisa saja menimbulkan trauma bagi anakku.

Juga atas metode mengancam yang kerap dilakukan, atau juga memberikan kalimat sindiran supaya anakku mau menurut. Aku tidak sepakat karena mili belum berada di usia bisa disindir. Misalnya "eh, jangan mandi lho ya, biar gatel - gatel aja kan". Yang ada mili akan berpikir bahwa tidak apa - apa untuk tidak mandi.

Juga tentang menyapa orang lain. Sering banget mili dipaksa salim yang sebetulnya itu nggak harus. Wajar seorang anak takut bertemu dengan orang yang belum dikenal. Tapi bagi Ibuku, itu adalah kekurangan, sehingga harus dihilangkan. Mili akan dipaksa untuk mau salim. Dan biasanya akan kurebut kembali anakku sembari bilang dengan ketus "maaf ya, om / tante / eyang, mili belum mau salim, belum pernah ketemu". Nanti Ibuku akan menimpali dengan "ini kan om ini, mosok takut, blablabla". Sebelum semakin panjang, biasanya akan kubawa pergi anakku dari situ.

Kemudian kubayangkan bagaimana beliau akan menerapkan pola asuh pada anak lelakiku : "anak cowok nggak boleh nangis", misalnya. 

Ya mungkin semua orang tua juga pernah bertingkah seperti yang Ibuku lakukan dalam mengasuh anak - anakku, tapi ijinkan aku memilih untuk menerima rasa takut yang dirasakan anak - anakku untuk pelan - pelan kujelaskan bagaimana cara mengelola rasa takutnya. Hingga pada waktunya anak - anakku akan tumbuh dengan berani menerima setiap rasa, mengungkapkan apa yang dirasakan, dan bukan memendamnya seperti yang kebanyakan orang lakukan. Terlebih untuk anak lelakiku, nggak apa - apa untuk menangis karena menakutkan sesuatu.

Keluarga Cemana 💛

Senin, 06 September 2021

olah.jiwa.

Yes, You Are!

Sebagai seorang calon penyintas (Ya Tuhan, bantuin sembuh sih) gangguan mental dan kejiwaan, ijinkan aku kembali membagikan part of my life ya. Lagi - lagi supaya kalian yang merasa setipe denganku bisa bangkit dan memiliki harapan yang sama. 

Lika - liku lukanya bisa kalian baca di blog ini juga.

Semua kepedihanku semakin menjadi kurang lebih setahun yang lalu, setelah memutuskan berhenti bekerja kantoran dan beralih profesi sebagai ibu rumah tangga yang berdagang dari rumah. Tak semudah membalikkan telapak tangan ternyata. Tekanan terbesar datang dari ibu kandungku. Pola asuh, pengangguran tak berguna dan nananinanya. Memuncak di akhir tahun 2020 dengan drama kubawa pergi anak dan suamiku (aku masih tinggal numpang sama beliau, fyi).

Please, jangan meninggalkan komentar semacam "kamu yang sabar, ngalah, gimana pun beliau orang tuamu, coba berada di posisi beliau yang mungkin hanya ingin membesarkan cucunya". Dalam sesi ini, ijinkan aku berbagi tanpa dihakimi. 

Keinginan untuk bertemu psikiater atau psikolog selalu kuurungkan. Tapi aku butuh dibantu. Tahapanku sudah berada di "aku nggak ingin berhadapan dengan ibuku". Aku lebih banyak di kamar untuk menghindari emosi - emosi yang bisa kapan saja meledak jika bersentuhan dengan tingkah beliau. Beliau ibuku, durhakalah aku jika terus menerus melawan. Pun kujaga agar tak melukai anak - anakku. Maka, kubentengi diri sendiri.

Hingga aku dipertemukan dengan seorang penyembuh. Dijelaskannyalah kondisiku yang remuk redam habis - habisan. Ragu - ragu kuijinkan treatment dilakukan jarak jauh. Aku takut bertemu diriku yang rusak. Tapi aku ingin dibantu. Aku ingin menyudahi semua kecewa dan sedihku. Tidak ingin anak - anakku merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin menjadi surga yang sembuh untuk anak - anakku.

Tangisku pecah ketika treatment dilakukan. Menyadari beberapa hal yang kusesali, sekaligus memiliki kekuatan untuk menerima keadaan, menerima bahwa part of my life belum bisa memaafkan lukanya, dan itu tidak apa - apa.

Berhari kemudian dengan sendirinya ada dorongan dalam diriku untuk menerima, bukan melarikan diri. Senyumku tetap mengembang, bahkan semakin ikhlas. Amarah yang kutahan semakin mengecil frekuensinya. Aku memiliki tujuan kali ini, fokus pada rasa bahagia dan masa depan yang ingin kuciptakan. Sembuhkah?

Perjalananku sembuh masih panjang. Kadang amarahku datang menguji. Tapi kali ini air mataku tak jatuh dan aku semakin jujur pada diri sendiri. Karena dengan mengenal diri sendiri dan membaurkan keadaan yang pahit dalam satu tujuan bahagia adalah caraku untuk sembuh (juga mendengarkan musik sebisaku). Juga diberitahu bahwa anak - anak mencintai dan mengkhawatirkan kondisiku, akan jadi pertolonganku untuk pulih.

Kalo ada yang bertanya separah apa lukaku? Parah. Aku sampe nggak kenal lagi siapa aku ini. Nggak seceria yang kalian dulu kenal, misalnya. Sering tetiba nangis sendiri. Banyak melamun (jorok, eh?!), yang bukan aku banget. Anak - anak juga terdampak. Beberapa kali kuteriaki, cubit bahkan kupukul anakku hanya karena menangis tengah malam, yang seharusnya aku sadar anakku hanyalah batita yang belum tahu bagaimana menyesuaikan diri.

Hah?! Sampe segitunya?! Iya.

Karena itu, berdoalah untukku di sela doa kalian. Milikilah harapan dan bertumbuhlah. Berhenti di aku.