Selasa, 10 Agustus 2021

tua.alami.

Seorang teman memberikan komentar melalui direct message Instagram atas unggahan story yang memperlihatkan kerutanku begitu menumpuk di wajah. Dia berkata "mbuk udah perlu pake ini nih (salah satu produk maksudnya)". Kujawab dengan sederhana : aku menjadi tua secara alami kok. Tentu dengan menyelipkan emoticon ketawa setelahnya supaya terasa cair untuknya.


Aku salah satu wanita yang tidak rutin merawat diri apalagi berdandan. Sesimpel cuci muka waktu mandi pun jarang kulakukan. Ya wajar kemudian kerutan menumpuk di usia yang semestinya. Dulu pernah perawatan di salah satu klinik karena ada jerawat batu dan dibiayain ibuku, kemudian ketergantungan krimnya. Kalau lepas satu dua hari tanpa krim, wajahku akan langsung bentol bentol merah perih panas. Beruntung ketika hamil dua tahun lalu kuhentikan konsumsi krim - krim ini. Bertahan dengan perihnya beberapa waktu. Sekarang setelah melahirkan kedua kalinya aku belum kembali menggunakan krim - krim, bahkan sekedar hand and body pun jarang kupakai. Nggak ada waktu, lebih tepatnya. Dua bayiku mengambil semua waktuku. Iya, semua. Mana ada lagi waktu untuk sekedar streching di pagi hari, apalagi pergi ke gym. Waktu untuk sekedar ngerapiin rambut pun aku belum punya. 

Jadi, semakin menjadilah penerimaanku akan diriku apa adanya, sesuai waktunya. Aku mengagumi semua wanita yang mampu merawat dirinya dengan baik. Aku pun ingin. Tapi rasanya hasratku sampai hari ini masih jatuh pada rambut nanggung diuwel - uwel, muka bentol bentol kepanasan, keringet numpuk di T area, celana pendek, kaos bolong dan sandal jepit.

Perkara nanti suami dan anak - anak protes "kok mbuk jelek sih sekarang, nggak kayak difoto ini (foto puluhan tahun yang lalu)", paling bisa dijawab : "gpp ya sekarang jelek, mbuk udah pernah muda dan mempesona e". Aku ingin menjadi tua secara alami, sesuai waktuku.


Dear, my best Maria Stella Vita,
terima kasih terus memperhatikanku dan gencar berdagang. Tulisan ini kuunggah karena kamu menginspirasi aku. Terima kasih, cub!