Selasa, 05 Mei 2020

henti.karir.kali ini.

Menemui kesalahan : bicara pada mereka yang "beda frame". Memperbaiki kesalahan dengan sikap yang sama : "tak perlu dibalas, kita beda kelas".







Tepat tahun ke tujuh berkarya bersama tim terbaik di PT Aseli Dagadu Djokdja. Mengawali karir tahun 2013 dengan posisi Marketing Officer brand Dagadu Bocah. Setahun kemudian berpindah brand ampuan : Dagadu Djokdja. Brand besar dengan sejuta rasa. Dua tahun bekerja, diangkat menjadi karyawan tetap dan karir terus cemerlang. Empat tahun selanjutnya berjalan sebagai Marketing Executive brand Dagadu Djokdja. Gaji naik terus, beban kerja naik lurus. Bukan tidak mudah berkarya di sini. Cuma kadang pelik dengan setiap permasalahan yang ada. Tapi juga happy dengan setiap lempar canda. Banyak orang mengincar posisi ini karena terlihat mudah dan menyenangkan. Percayalah, semua kembali ke bagaimana kita memilih mengambil sikap. Never choose the Company, choose the Culture.








Perusahaan terus bergulir ke depan. Menemui perubahan. Berganti kepala, berganti anggota badan. Terhadang pandemi Covid - 19. Waktunya berkemas. Langkahku terhenti di sini. Daripada hidup sebagai parasit di perusahaan yang sudah tak se-prinsip, aku memilih hengkang kali ini. Dengan hati yang lapang dan rendah. Kuusahakan langkah yang ringan dan senang bukan kepalang. Semoga segala cerita yang kucipta meninggalkan kenangan yang kelak dapat kita putar bersama. Terima kasih, PT Aseli Dagadu Djokdja, untuk setiap cinta dan kasih  membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat lagi. 







Bagaimana langkahku ke depan, belum jelas hilalnya. Yang dapat kami (aku dan bapakmili) pastikan, berjuang bersama gadis kecil kecintaan kami (dan menjauhi mafia - mafia orde lama) adalah satu yang akan kami syukuri pertama kali. Karena ini adalah juga impian yang kusembunyikan : bercita - cita menjadi perempuan dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga.










Fyi. Sedari SMA aku ingin sekali menjadi guru taman kanak kanak, bahkan sempat tercetus akan membuka TK sendiri bersama seorang teman yang sekarang aktif di salah satu rumah sakit (semoga kamu baca tulisan ini yaaa, aku masih ingat khayalan kita waktu itu, nna). Kemudian kuurungkan impianku karena aku lebih suka memiliki tato di sekujur tubuhku. You knowlah. Setelah itu cita - citaku berubah : aku ingin menjadi ibu rumah tangga yang punya kedai kopi kecil di halaman depan rumah. Tak pernah kuceritakan ini kecuali pada dia yang kini menjadi bapak dari seorang anak perempuan yang kucintai, bernama Renjana. Mungkin ini waktunya kuwujudkan impianku. Semesta, perbuatlah untukku (lagi). 


Berhenti sejenak, kan lebih baik kelak.