Senin, 04 November 2019

pilihan.sulit.


Jangan cintai aku apa adanya

Ini empat kalinya Saya menonton konser Tulus di Youtube. Kali ini menemani Saya menulis tentang kehidupan yang menghadapkan Saya pada pilihan sulit. Pilihan yang mungkin juga dihadapi setiap manusia pekerja. Pekerja di sini bukan yang berkeahlian khusus seperti seniman atau dokter, misalnya ya. Pilihan untuk bekerja di kantor atau di rumah. Saya anggap di rumah adalah juga bekerja. Pernahkah kalian berada dalam situasi ini?

Biarkan hati kecilmu bicara

Apa penyebabnya?
Setiap manusia di usianya yang produktif pasti akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan kalian yang kekayaannya sudah diturunkan tujuh turunan juga pasti akan terlibat dalam suatu pekerjaan, entah sebagai pemimpin atau hanya pencantuman nama sebagai komisaris. Motivasi bekerja bisa saja berbeda satu dengan yang lain. Motivasi Saya bekerja waktu itu dan hingga saat ini sejujurnya hanyalah tentang mengisi waktu, menjalin relasi dan menjaga kualitas diri. Bonusnya : dibayar. 

Ini tahun ke tujuh Saya bekerja pada suatu perusahaan swasta di Jogja. Tahun ini juga Saya dipercaya memiliki seorang anak perempuan, usianya baru empat bulan. Meninggalkan dia di rumah dengan orang tua berarti mempercayakan segalanya dan tidak bisa memaksakan kehendak Saya dalam membesarkan anak perempuan Saya. Ada saja banyak hal yang membuat kami berselisih tentang cara asuh. Jatuhnya Saya harus mengalah, toh, setiap siangnya selalu dilewatkan bersama orang tua Saya. Intinya selama anak kami baik - baik saja, kami ikut cara asuh yang orang tua kami yakini. Tapi sampai kapan? Hal ini yang akhirnya menghadapkan Saya pada pilihan sulit : meneruskan bekerja di perusahaan atau berhenti bekerja kantoran dan menemani anak di rumah.
Bukan hanya karena masalah pribadi, beberapa alasan tentang lingkungan kerja juga bisa menjadi alasan pekerja memilih berhenti bekerja pada suatu perusahaan. Hubungan atasan bawahan, lintas departemen atau rekan kerja yang tidak kondusif. Bisa juga karena beban kerja yang sudah tidak sesuai dengan porsinya. Beberapa penyebab bisa juga terjadi, tapi letak poinnya sebagian besar menjadi sama : ketidaknyamanan.

Kita berevolusi

Kita menghabiskan 8 - 9 jam untuk bekerja setiap harinya. Beberapa orang bahkan bekerja lebih dari jamnya. Mencari tempat bekerja yang nyaman adalah mutlak hukumnya. Tingkat kenyamanan memiliki standar yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang nyaman karena jam kerjanya fleksibel. Ada yang nyaman karena gajinya. Ada juga yang nyaman karena semua kendali berada di tangannya. Beda - beda. 
Ketika seseorang sudah menemukan titik nyaman, bergelut di dalamnya dalam keseharian dan mulai jatuh hati pada pekerjaannya, kecenderungan untuk keluar dari zona nyaman adalah hal yang mustahil dilakukan tanpa sesuatu yang memaksa. Kadang keadaanlah yang akan mengusik kenyamanan dan bisa saja berujung pada keputusan untuk berhenti. Perombakan struktur organisasi perusahaan, misalnya. Atau rekan kerja yang baru dan mulai mengancam posisi kita. 

Dalam kasus Saya, ketidaknyamanan muncul dari ekstern perusahaan. Kehidupan pribadi. Memiliki anak bayi pasti menyenangkan. Tapi proses ini terasa terlalu cepat untuk Saya adopsi. Mempengaruhi ritme Saya dalam bekerja pada akhirnya. Fokus pikiran terpecah. Lantas apakah Saya berhenti bekerja adalah solusi terbaik? Sementara dengan bekerja, Saya merasa jauh lebih baik secara mental. Saya memiliki waktu untuk bergelut dengan diri sendiri. Bonusnya : Saya bisa membantu suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Egoiskah jika Saya berada pada pilihan untuk tetap bekerja sementara mungkin anak Saya membutuhkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi? Meskipun Saya masih memandikannya setiap pagi, mencium keningnya, pulang menyusu di sela jam istirahat, menemani bermain dan memeluk erat di setiap tidur malamnya. Egoiskah?



Rabu, 09 Oktober 2019

baby.blues

Apa kabar baby bluesku?

Saya terserang baby blues pasca melahirkan anak pertama. Tentang baby blues bisa dicari tahu sendiri ya. Yang Saya alami sebatas perasaan bersalah terus menerus dan merasa tidak mampu. Mulai dari kesulitan mengejan, asi tidak langsung keluar lancar, hingga metode merawat bayi. Semuanya membuat perempuan perfeksionis seperti Saya merasa gagal. Mendekati habis masa cuti kala itu, rasanya semakin menjadi. Kawatir akan segala kemungkinan, terlebih waktu itu mili lagi getol getolnya belajar minum susu menggunakan botol dot. Belum lagi tentang caranya belajar yang tak bisa Saya paksakan orang rumah untuk "mengajarkan" mili tentang ini itu. Karena dasarnya Saya hanya menitipkan mili. Saya tidak bisa memaksa orang untuk mengubah hidupnya demi mili. Misal : kebiasaan eyang merokok tidak bisa serta merta Saya minta berhenti karena mili di rumah, atau tentang jam minumnya mili : ya terserah yang jaga mau ngasih minumnya kapan dan saat apa. Karena ini keluarga dan bukan pembantu yang Saya bayar untuk jaga mili (ada pembantu tapi alih fungsi jadi mengurus rumah), jadi Saya tidak bisa seenaknya 'perintah' ini itu. Alasan utamanya karena Ibu Saya agak sulit menerima masukan dari Saya. Kami musuh bebuyutan soalnya. Satu - satunya yang Saya coba hindari atas hubungan Saya dan mili.

Kali pertama dinas ke luar kota setelah empat bulan absen. Dengan berbagai pertimbangan, Saya memutuskan mengambil pekerjaan ini. Di tengah tak mudahnya menidurkan mili dan membantunya menyusu menggunakan botol. Sekarang pun DBF nya sebentar - bentar banget. 

Di sela menunggu waktu pesawat datang, sore ini, sebelum pulang ke pelukan mili, Saya memikirkan tentang semuanya. 
Saya belum sungguh berproses sebagai seorang ibu. Tak sanggup mengajarkan anak Saya tentang cara minum dari botol dot. Tak selalu berhasil menidurkan dia pada jamnya. Tak mengerti mengapa mulutnya mendadak dipenuhi bercak putih. Tak mengajaknya bermain dengan mainan yang merangsang inderanya. Belum lagi besok ketika dia mulai makan. Tak paham bagaimana mengajarinya banyak hal. Saya gagal. Tapi tak pernah sedikitpun cinta Saya berkurang untuk anak perempuan Saya. Kelak dia dewasa dan membaca tulisan ini, Saya harap dia akan mengerti dan memaafkan Saya : ibunya yang (merasa) gagal.

Saat ini pilihannya adalah tentang tetap bekerja kantoran atau berada di rumah bersama mili demi melihat tumbuh kembangnya. Kupikirkan perlahan dalam perjalananku pagi tadi dan tetap belum bisa kutemukan jawabnya. 

Ini perjuangan kita. Biarlah semesta menyertai kemanapun kaki kita melangkah




Jumat, 21 Juni 2019

emillia.renjana.

Hampir lima tahun Saya menantikan kehadiran buah hati dalam rumah tangga Saya. Tahun lalu Tuhan percayakan janin tumbuh dalam rahim Saya. Usianya delapan minggu waktu itu. Awal perubahan dan penyesuaian diri. Tiga puluh sembilan minggu yang menyenangkan, meski tak selalu mudah. Paling berat adalah menyiapkan mental untuk cuti panjang dari pekerjaan dan rutinitas.




Mendekati waktu persalinan, Saya semakin sering berkomunikasi dengan anakbayi supaya lahir tepat waktunya. Jumat pertama di bulan Juni, Saya masih sempat mengikuti ibadat sore hari, pergi makan sate taichan sama suami dan adik Saya. Jam sembilan malam sampai di rumah, ganti baju tidur dan sesaat setelah rebahan, pecahlah ketuban. Bersiap menuju RS Panti Rapih ditemani seisi rumah. Sampai di RS, bukaan dua dan belum merasakan sedikit pun yang nama kontraksi.




Di ruang transit semua Saya lewati dengan baik. Senyum, tarik nafas panjang di setiap kontraksi, dan mengingat betapa kehadiran anakbayi adalah waktu yang begitu lama Saya nantikan. Untuk yang belum kebayang rasanya kontraksi, itu seperti mules menstruasi tapi versi dua kali lipat. Bukaan delapan, di ruang bersalin. Tak ada lagi yang Saya inginkan selain segera mendengar suara dokter untuk membantu persalinan. Mulai mengerang kesakitan. Senyum pun sulit. Minum hanya sesekali. Dan setiap kontraksi datang (dalam hitungan detik), genggaman tangan Saya menguat pada tangan suami dan menatapnya tajam.

Dokter datang kurang lebih pukul empat pagi. Setiap kontraksi datang, Saya dipandu untuk mengejan. Tak semulus apa yang Saya pelajari dari senam hamil atau akun media sosial. Lima kali mengejan dan anakbayi lahir setengah lima pagi, tanpa tangisan. 




Di sela melahirkan plasenta dan dokter menjahit sobekan pada jalan lahir, tatap mata Saya tak lepas dari anakbayi yang sedang berjuang di sebelah Saya. Beberapa saat tangisnya terdengar. Meski sepatah patah. Lega. Karena ketuban pecah dan Saya terlalu lama mengejan, anakbayi minum air ketuban dan nafasnya belum stabil, jadi harus pisah ruang dirawat di NICU hingga kondisinya membaik. 





Tanyakan bagaimana perasaan Saya. Perasan bersalah adalah yang paling kuat Saya rasakan detik itu : Saya menyebabkan anakbayi kesulitan bernafas dan merepotkan banyak orang, terutama suami. Tangis Saya pecah ketika berada di ruang bersalin berdua dengan suami. Hanya tangisan. 

Permasalahan selanjutnya adalah asi yang tak mengucur deras. Tapi Saya dikuatkan oleh dokter, suster dan suami, juga beberapa kerabat, bahwa asi akan segera mengucur dan anakbayi belum terlalu lapar karena masih dibantu infus, pun lambungnya masih seukuran kelereng kecil. Saya diijinkan pulang pada hari ketiga dan anakbayi menyusul sehari berikutnya.

Fase berikutnya adalah fase yang tak Saya duga akan menimpa Saya. Saya kira persiapan Saya sudah matang untuk meminimalisir baby blues. Menjadi begitu sensitif dan menangis beberapa kali, padahal Saya tahu persis akan menghadapi permasalahan ini : saran dan kritik dalam proses pemulihan, segala tata cara merawat bayi dan tetek bengeknya, plus orang tua yang berkali - kali mengkhawatirkan asi untuk anakbayi sehingga menyarankan susu tambahan, semua yang Saya lakukan di rumah selalu salah : "bukan gitu, harusnya gini". Belum lagi jam istirahat kami yang masih harus menyesuaikan dengan anakbayi. Badan rasanya tak nyaman. Bahkan sempat menggigil hebat di satu malam.  Dalam permasalahan ini, Saya mengandalkan suami yang lebih bisa berkomunikasi dengan orang tua Saya. Meski Saya tahu dia juga sangat kelelahan. Sedari dulu memang Saya selalu kesulitan berkomunikasi dengan orang tua, terutama ibu. Kami tak dekat seperti kebanyakan ibu dan anak perempuannya. Satu hal yang akan Saya perbaiki bersama anak perempuan Saya. 

Hari ini, dua minggu berlalu. Kami mulai saling beradaptasi : mengatur aktivitas dari pagi hingga malam, bahkan membuat jadwal tertulis : kapan harus makan, mandi, berbagi pekerjaan rumah dengan suami. Tak selalu baik rasanya. Tapi di titik inilah Saya bangkit. Mengambil satu fokus yang membuat Saya tenang : Saya bisa mengatasi sesuai kemampuan (plus ingat bagaimana Saya merindukan kehadiran anakbayi dalam waktu yang panjang).  Namanya tinggal dan hidup dengan banyak orang. Tak ada salahnya untuk mendengar kritik dan saran. Bahkan ketika salah dan disalahkan. Ambil yang bisa diterapkan dan tinggalkan yang tidak. Yakin saja bahwa semua dilakukan karena kita disayangi.

Emillia Renjana Sanggaputri
Anak perempuan yang memiliki rasa hati yang kuat. Kami memanggilnya Mili. Kami ingin hidupnya terus mengaliri sekitar dengan cinta dan kasih.

Lahir normal 8 Juni 2019 
Panjang 50 cm
Berat badan 3,14 kg




Terima kasih untuk suami yang selalu memberikan dukungan dan meyakinkan bahwa kita mampu mengatasi permasalahan sedikit demi sedikit. Terima kasih untuk semua support system : nante ell, pakde, bude, eyang, mbah, teman - teman dan kerabat yang selalu menanyakan kabar dan perkembangan Mili. Juga untuk tenaga medis yang membantu selama kehamilan, persalinan dan pemulihan kami (malah kayak pidato penerima penghargaan ya).

Terima kasih untuk membiarkan kami beradaptasi dan menemukan kenyamanan kami sendiri. Terima kasih untuk membantu kami menemukan bahagia.






Untuk pejuang di luar sana, mari berbagi kisah dan biarkan jiwa kita menari bersama segala gelisah. Hidup kita, cuma kita yang tentukan arahnya. Begitulah bahagia akan tercipta. Tepat pada waktunya, tidak akan terlambat atau terlalu cepat. Versi Saya.




Jumat, 24 Mei 2019

nafsu.logika.


Tak ada menang kalah yang seharga persatuan bangsa - Najwa Shihab

Ini tentang rangkaian Pemilihan Umum di Indonesia.

17 April 2019 Pemilu diselenggarakan serentak untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, beserta anggota legislatif. Penghitungan cepat sementara mengeluarkan hasil unggul untuk pasangan calon 01 Jokowi - Ma'aruf Amin. Seketika juga muncullah reaksi dari kubu pasangan calon 02 Prabowo - Sandi, klaim kemenangan pun terucap dari kubu ini. Kemenangan atas hasil penghitungan cepat yang mereka lakukan sendiri.

Dari sinilah semua bermula. Kondisi setiap hari semakin panas di media sosial. Politik : klaim kemenangan dan kecurangan. Begitu seterusnya sampai 21 Mei KPU mengumumkan hasil akhir Pemilu unggul untuk pasangan calon 01. Sontak unjuk rasa yang memang sudah dipersiapkan untuk menolak hasil pengumuman KPU ini digelar. 

Saya terbangun dini hari dan terjaga menonton siaran langsung TV One mengenai kondisi saat itu. Geram rasanya. Mengutuki manusia - manusia sampah yang demi rupiah kemudian rela memecah belah. Sementara mereka berpeluh darah, para elite yang mungkin mereka bela itu sedang tidur nyenyak berselimutkan pelukan kepuasan. 

Hari berikutnya aksi damai kembali digelar. Entah apa yang coba disuarakan, sementara elite yang dibela sudah meminta mereka mengalah dan menempuh jalur hukum untuk hasil Pemilu yang tidak mereka terima. Kali ini siaran langsung di televisi berhasil memperlihatkan betapa harunya keadaan di luar sana. Pengunjuk rasa yang hendak membubarkan diri harus menghalau provokator yang tiba - tiba melemparkan beberapa benda ke arah aparat. Mereka menjadi tameng dari aksi mereka sendiri, lawan bangsa sendiri. Aparat yang berjaga menahan diri cukup baik untuk tidak melakukan apapun. Hanya bertahan. Menahan diri secukupnya. 



Provokator mungkin tak lebih menyedihkan dari para pengunjuk rasa. Rela seharian nongkrongin gedung Bawaslu. Berorasi. Berpanasan. Beberapa juga mungkin berpuasa, mengingat ini bulan Ramadhan. Berjuang demi apa yang mereka yakini benar. Yang membedakan hanyalah provokator ini dibayar untuk melakukan aksinya. Apapun akan dilakukan demi uang. Lumayan lah. Bikin onar dan dibayar. Naluri perusak terpenuhi, kebutuhan raga pun tercukupi. Seolah tak peduli berapa banyak kerugian yang orang lain harus tanggung karenanya. Manusia kasta bawah.

https://today.line.me/ID/article/Y96pDN?utm_source=copyshare

Pikiran para elite beda lagi. Persiapkan provokator dengan harapan keadaan akan memanas, memancing aparat untuk bertindak. Kalau jatuh korban, tinggal salahkan aparat yang tidak menghargai kebebasan berpendapat. Pengunjuk rasa menyalahkan aparat, menyerang pemerintahan. Sederhana.



Saya merasa beruntung dibesarkan dan dididik dengan cara orang tua Saya. Ditanamkan dasarnya, dibiarkan mencoba apa yang Saya inginkan dan diajarkan bertanggungjawab atas setiap tindakan Saya. Pendirian Saya nggak kuat - kuat banget, tapi paling tidak, Saya selalu membuat pertimbangan untuk setiap langkah yang Saya ambil. Kalo langkahnya salah bahkan kalah, ya sudah. Saya bersyukur untuk memiliki akal sehat dan tidak mudah disetir. Tidak merugikan orang lain dan memelintir.

Kembali ke kasus Pemilu dan huru haranya. Pemerintah dan aparat bertindak dengan baik menurut Saya. Semuanya. Termasuk tindakan preventif yang diambil untuk memblokir penyebaran foto dan video di media sosial beberapa saat. Ini dilakukan untuk mengurangi sebaran hoax, terorisme dan segala hal yang akan menimbulkan kepanikan. Keren.

Entah apa yang akan terjadi ke depan. Tapi berhenti melakukan tindakan bodoh dalam hidup tak pernah ada ruginya. Berjalan sebagaimana mestinya manusia. Tak memuja sesuatu secara berlebihan. 

Selesailah dengan diri sendiri dan berdamai.


Sabtu, 06 April 2019

Ringkih

Nah lho, urusan bercandaan bisa jadi panjang lebar.

Beberapa waktu yang lalu baru aja ngobrolin tentang ini. Tentang sensitif dan ribetnya manusia sekarang ini. Salah kata sedikit, jadi musuh bersama. Jadi muncul kubu bela rasa. Dikepoin sedikit (tanpa disenggol), jadi salah tingkah, langsung tutup akun atau ngeblock sana - sini tapi besokannya diunblock lagi karena takut kekurangan follower dan jadi kurang eksis. Dikomentarin sedikit, jadi sakit hati, kepikiran, terus stres. Apalagi kalo sampai salah pilih kubu perjuangan, neraka mungkin yang bicara.

Waktu denger materi lawakan Pandji tentang hewan (kalian bisa searching sendiri ya kasusnya) ini pun Saya nggak ngeh dimana letak perendahan martabatnya. Mungkin karena Saya tidak memperjuangkan apapun, jadi Saya kurang sensitif dan kurang ribet. Mungkin juga Saya nggak terlalu suka nimbrungin obrolan di media sosial, kecuali nerusin bercandaan recehan  di akun temen.

Media sosial sekarang itu serem. Bukan lagi jadi tempat berbagi, apalagi mau bicara privasi. Bahkan bisa menimbulkan kebencian pada orang yang bahkan tidak dikenal sebelumnya. Hanya berakar pada apa yang orang itu ucapkan satu kali atau hanya karena mendengar omongan orang lain. Begitu mudahnya kebencian tumbuh dan memecahbelah. Inilah kehidupan manusia saat ini. Ringkih.

Media sosial bagi sebagian orang mungkin menjadi ajang pembentukan citra. Tak lagi mengunggah atau menulis sesuai apa yang diinginkan. Terkadang harus diedit maksimal. Sekaligus menjadi area perang verbal dan visual. Perang status. Berharap dengan mengunggah kekesalan dan opini di media sosial maka serangan akan mengenai sasaran. Nanti kalau udah ada yang merasa tersinggung, lantas berdalih "kan itu tidak Saya tujukan untuk menyebut salah satu pihak". Pekerjaan sebagai buzzer juga semakin merajalela karena lahan ini basah untuk diolah.

Kembali ke kasus materi lawakan Pandji, beberapa komentar di postingannya mempermasalahkan sulitnya Pandji untuk meminta maaf. Kebingungan Saya kemudian terletak pada mengapa dan kepada siapa Pandji harus meminta maaf? Kepada hewan yang dijadikan materi lawakan? Kepada komunitas terkait? Kepada mereka, followers Pandji yang merasa ikut tersakiti? Atau kepada siapa?
Lantas apa yang diperoleh setelah permintaan maaf terucap? Kemenangan atas apa? Atau ini hanya tentang pengakuan bahwa aku benar dan dia salah? Kemampuan berpikir Saya belum sampai pada tahap ini. Dan selalu terheran - heran tentang betapa sensitifnya manusia saat ini.

Bahkan hari ini Saya sempatkan membaca semua komentar dipostingan Pandji dan terkekeh rasanya. Begitu sensitif dan lucunya tingkah manusia yang terluka hatinya atas apa yang mereka yakini.

Why so seriuos, people?




Minggu, 03 Maret 2019

adil.mengadili.

"Mereka yang kelaparan tidak akan mempedulikan keadilan. Mereka hanya akan peduli bagaimana mengisi perut sendiri".

Kalimat itu ada dalam salah satu adegan film Foxtrot Six. Diucapkan oleh Wisnu sebagai kepala pasukan partai yang membantu pemerintah memanipulasi kondisi di negara saat itu kepada Angga seorang anggota dewan yang akhirnya membantu kelompok bawah tanah mengungkapkan keadilan.

Sadar atau tidak, atau pura - pura tidak, cerita dalam film ini terasa dekat dengan kehidupan manusia. Di sekitar Saya dan Anda. Dekat dan lekat. Terutama menjelang Pemilu Presiden 2019 pada April nanti, puluhan kasus dihembuskan untuk saling menjatuhkan, tingkat sensitifitas meningkat, janji - janji dihembuskan seolah memberi angin segar kepada mereka yang kelaparan. Menakutkan.

Mereka yang haus kekuasaan dan pujian hidup dengan menguasai orang lain. Caranya halus dan manis : memenuhi kebutuhan mereka yang lapar. Sementara yang lapar, tak peduli bagaimana cara kekuasaan diperoleh, selama mereka tak mati kelaparan. Lupa bahwa hidup mereka dikuasai penguasa keji dan serakah yang menimbulkan kelaparan itu sendiri. Lupa akan serigala yang bisa berbulu domba.

Injil minggu ini pun rasanya pas dengan film Foxtrot Six yang baru saja Saya tonton : "Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu" (Luk 6 : 39 - 45).

Tapi Saya meyakini, bagaimana dan berapa lama pun diperjuangkan, keadilan akan datang dengan cara yang sudah ditetapkan. 

Kamis, 21 Februari 2019

prioritas.untukmu.

Seketika jadilah diam
bersama segala gelisah
biarkan menyatu dan menyatu
Tentang tenang yang kadang tak mampu kita bicarakan
ditantang untuk paham dalam ketidaktenangan
Besarlah hati akan sembilu yang diperjuangkan 


Beberapa waktu yang lalu Saya dan adik perempuan membicarakan tentang prioritas. Berawal dari kekhawatiran akan masa yang berjalan. Mengakibatkan kami semakin jarang bertemu. Ketakutan akan kesendirian dan habisnya waktu untuk sekedar saling mentertawakan. Hanya mengandalkan aplikasi untuk berkomunikasi. 

Setiap kita akan memiliki prioritas yang berbeda sesuai masanya. Di bangku sekolah prioritasnya nilai - nilai akademis yang baik. Masuk dunia kerja, prioritasnya akan berubah menjadi bagaimana meningkatkan prestasi kerja. Menikah maka prioritas akan berganti lagi : fokus dan mengutamakan rumah tangga. Begitu seterusnya.

Saat ini, setelah empat tahun menikah dan akhirnya dipercaya untuk hamil, prioritas Saya perlahan berubah. Dulu Saya fokus dan memprioritaskan pekerjaan. Beberapa bulan ini Saya jadi membuat prioritas baru : fokus pada kehamilan dan segala tetek bengeknya. Iya. Prioritas itu Saya buat. Tidak dengan mudah tercipta karena Saya sudah terbiasa dengan prioritas yang sebelumnya. Apalagi Saya sangat mencintai pekerjaan Saya. Rasanya tak mudah untuk mengubah prioritas dalam hidup.

Tapi hidup yang begitu dinamis ini menuntut Saya membuat prioritas untuk mencapai bagian terbaik pada suatu masa. Tanpa memilah mana yang harus diutamakan, kehidupan Saya pasti akan berjalan tumpang tindih. Berantakan mungkin. Tidak fokus ingin melakukan apa dan harus bagaimana. Misalnya : seminggu ini pekerjaan Saya sedang sangat padat, puluhan meeting harus ditaklukkan, ribuan perdebatan harus dimenangkan. Akhir pekan menjadi waktu yang tepat untuk refreshing ke pantai, cari udara segar. Jika Saya tidak membuat prioritas, maka Saya mungkin akan memaksa diri untuk menempuh perjalanan jauh demi bertemu pinggir lautan. Sementara anak bayi di dalam perut bisa saja kelelahan karena ritme kerja Saya yang padat seminggu ini.

Itulah mengapa prioritas menjadi penting untuk Saya buat dalam hidup. Membantu Saya untuk fokus pada tujuan dan mengontrol pikiran Saya. Kadang juga berhasil membuat Saya jauh lebih tenang. Meski tak pernah mudah mengubah prioritas. Membiasakan diri dengan sesuatu yang baru. Tak mudah melepas apa yang sudah kita miliki.

Meski posisinya bisa bergeser pada beberapa kasus, tapi keluarga adalah tetap menjadi prioritas. Saya memprioritaskan keluarga dan menyembah beberapa akhir pekan untuk dihabiskan bersama. Karena mereka begitu berharga untuk Saya kesampingkan.

Terima kasih sudah menjadi prioritasku yang baru, nak. Aku menikmati setiap detik kebersamaan kita. Perkembanganmu. Perubahan bentuk tubuh dan sikapku.
Enam bulanmu ini memberi bahagia untukku. Kamu semakin aktif bergerak. Kamu merespon banyak hal. Dan menyadarkan aku betapa tak ada apa - apanya aku di mata Tuhanku.
Tumbuhlah tangguh, anakku. Aku mencintaimu.