Senin, 04 November 2019

pilihan.sulit.


Jangan cintai aku apa adanya

Ini empat kalinya Saya menonton konser Tulus di Youtube. Kali ini menemani Saya menulis tentang kehidupan yang menghadapkan Saya pada pilihan sulit. Pilihan yang mungkin juga dihadapi setiap manusia pekerja. Pekerja di sini bukan yang berkeahlian khusus seperti seniman atau dokter, misalnya ya. Pilihan untuk bekerja di kantor atau di rumah. Saya anggap di rumah adalah juga bekerja. Pernahkah kalian berada dalam situasi ini?

Biarkan hati kecilmu bicara

Apa penyebabnya?
Setiap manusia di usianya yang produktif pasti akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan kalian yang kekayaannya sudah diturunkan tujuh turunan juga pasti akan terlibat dalam suatu pekerjaan, entah sebagai pemimpin atau hanya pencantuman nama sebagai komisaris. Motivasi bekerja bisa saja berbeda satu dengan yang lain. Motivasi Saya bekerja waktu itu dan hingga saat ini sejujurnya hanyalah tentang mengisi waktu, menjalin relasi dan menjaga kualitas diri. Bonusnya : dibayar. 

Ini tahun ke tujuh Saya bekerja pada suatu perusahaan swasta di Jogja. Tahun ini juga Saya dipercaya memiliki seorang anak perempuan, usianya baru empat bulan. Meninggalkan dia di rumah dengan orang tua berarti mempercayakan segalanya dan tidak bisa memaksakan kehendak Saya dalam membesarkan anak perempuan Saya. Ada saja banyak hal yang membuat kami berselisih tentang cara asuh. Jatuhnya Saya harus mengalah, toh, setiap siangnya selalu dilewatkan bersama orang tua Saya. Intinya selama anak kami baik - baik saja, kami ikut cara asuh yang orang tua kami yakini. Tapi sampai kapan? Hal ini yang akhirnya menghadapkan Saya pada pilihan sulit : meneruskan bekerja di perusahaan atau berhenti bekerja kantoran dan menemani anak di rumah.
Bukan hanya karena masalah pribadi, beberapa alasan tentang lingkungan kerja juga bisa menjadi alasan pekerja memilih berhenti bekerja pada suatu perusahaan. Hubungan atasan bawahan, lintas departemen atau rekan kerja yang tidak kondusif. Bisa juga karena beban kerja yang sudah tidak sesuai dengan porsinya. Beberapa penyebab bisa juga terjadi, tapi letak poinnya sebagian besar menjadi sama : ketidaknyamanan.

Kita berevolusi

Kita menghabiskan 8 - 9 jam untuk bekerja setiap harinya. Beberapa orang bahkan bekerja lebih dari jamnya. Mencari tempat bekerja yang nyaman adalah mutlak hukumnya. Tingkat kenyamanan memiliki standar yang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada yang nyaman karena jam kerjanya fleksibel. Ada yang nyaman karena gajinya. Ada juga yang nyaman karena semua kendali berada di tangannya. Beda - beda. 
Ketika seseorang sudah menemukan titik nyaman, bergelut di dalamnya dalam keseharian dan mulai jatuh hati pada pekerjaannya, kecenderungan untuk keluar dari zona nyaman adalah hal yang mustahil dilakukan tanpa sesuatu yang memaksa. Kadang keadaanlah yang akan mengusik kenyamanan dan bisa saja berujung pada keputusan untuk berhenti. Perombakan struktur organisasi perusahaan, misalnya. Atau rekan kerja yang baru dan mulai mengancam posisi kita. 

Dalam kasus Saya, ketidaknyamanan muncul dari ekstern perusahaan. Kehidupan pribadi. Memiliki anak bayi pasti menyenangkan. Tapi proses ini terasa terlalu cepat untuk Saya adopsi. Mempengaruhi ritme Saya dalam bekerja pada akhirnya. Fokus pikiran terpecah. Lantas apakah Saya berhenti bekerja adalah solusi terbaik? Sementara dengan bekerja, Saya merasa jauh lebih baik secara mental. Saya memiliki waktu untuk bergelut dengan diri sendiri. Bonusnya : Saya bisa membantu suami untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Egoiskah jika Saya berada pada pilihan untuk tetap bekerja sementara mungkin anak Saya membutuhkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi? Meskipun Saya masih memandikannya setiap pagi, mencium keningnya, pulang menyusu di sela jam istirahat, menemani bermain dan memeluk erat di setiap tidur malamnya. Egoiskah?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar