Jumat, 21 Agustus 2015

who.am.i.

Menjadi berbeda tidak melulu menyenangkan. 
Saya merasa ini tepat, sedangkan kebanyakan orang merasa yang sebaliknya. 
Dia beranggapan bahwa itu hal biasa, sedangkan tidak untuk Saya. 
Saya panik tentang satu hal, sedangkan orang lain menanggapi dengan santai. 
Saya perencana sejati dan selalu berhadapan dengan manusia tanpa rencana pasti. 
Saya berpikir tentang A, sedangkan dia dan mereka berpikir tentang Z. 

Tidak pernah mudah  belajar memahami bagaimana cara orang lain berpikir. 
Tentang ini. Saya sering kali merasa aneh. Serasa makhluk asing di bumi. 
Alien. 
Idiot. 
Kali ini Saya lupa bagaimana caranya bersyukur ketika menjadi berbeda itu menyakitkan. 
Saya lupa.
Tapi, Saya, dia dan mereka bisa saja saling menghargai. 
Bisa saja saling membantu. Bisa saja mencoba memahami untuk kebaikan bersama. 
Bisa.

Menjadi berbeda terkadang bukan pilihan. 
Kebanyakan karena bawaan sedari lahir dan melihat dunia. 
Menerima perbedaan bukan hal mudah JIKA diri sendiri tidak bisa mensyukuri yang berbeda. 
Jadi, Saya mulai menerima perbedaan yang disematkan dalam pribadi Saya sedari lahir dan mentolerir yang lain. Hingga indahlah kehidupan dan Saya menjadi bagian di dalamnya.


Kamis, 06 Agustus 2015

jujur. bahagia.

Sementara yang lain meneruskan ke pasca sarjana, 
Saya asyik  bekerja kantoran. 
Sementara yang lain memasak untuk pasangannya, 
Saya asyik shopping beli ini itu. 
Sementara yang lain belajar jadi ibu, 
Saya masih asyik menemani cibung bertumbuh.

Saya terlambat di segala bidang kehidupan. Tapi Saya bersyukur, terlebih untuk bagian terakhir. Saya menikmati betul mendampingi papah mamah (bersama kakak Saya) dalam membesarkan cibung. Hingga tiba di tahap yang ini. 

Tahap yang mau tidak mau, suka tidak suka, Saya melihat dia menjadi mahasiswa. Jelas akan semakin banyak waktunya yang terbuang untuk bersama Saya, sekedar cerita dan tertawa. 

Sudah hari ketiga ospek dan rasanya terlalu haru di setiap paginya melihat cibung masuk gerbang kampusnya. Sudah 17 tahun. Sudah kuliah. Sudah.

Ach!

Jangan cepat tua, nak, mbak tis masih pengen nguyel-uyel kamu. Jangan penuh kekhawatiran karena Tuhan menjamin hidupmu. Selamat menikmati jenjang yang baru. Tetaplah polos, jujur dan bahagia. Tuhan memberkati kamu.







Minggu, 02 Agustus 2015

tertulis

Tertulis untuk abang kecil kesayangan ontis.

Dua hari sebelum Lebaran, keributan terjadi (lagi), nak. Antara bapak dan ibumu.

Ketidakcocokan mereka sudah terjadi sebelum menikah, entah bagaimana Sang Empunya menuliskan garis hidup mereka hingga pernikahan tetap terjadi. Tiga hari setelah kamu lahir, keributan besar terjadi karena ibumu tidak pernah bisa menerima ibu dari bapakmu dan bapakmu begitu menghormati ibunya. Itu hari terakhir kami melihatmu, nak. Ibumu dan keluarganya menutup semua akses kami untuk tahu kabarmu. Bapakmu begitu luar biasa menutupi kesedihan di depan kami. Setiap pulang ke Jogja, bapakmu begitu terlihat bahagia, seakan lupa betapa rindunya untuk bertemu kamu. Cukup lama, nak, sampai hari eyang uyut sedo. Ibumu membawa kamu untuk kami, atau paling tidak, untuk menghormati eyang uyut. Ontis bersyukur untuk hari itu. Hari dimana kami bisa melihat Domenico Savio Louna Arakata.

Kami mulai bisa melihat perkembanganmu, kamu tumbuh pintar, meskipun ketawamu jarang-jarang. Satu tahun usiamu dan ontis ada di sana. Ontis berdoa semua ini akan terus membaik dan semakin membaik karena kebahagiaan bapak dan ibumu (juga kamu) adalah semangat untuk ontis.

13  Juli 2015. Ontis rasanya mau mukulin orang. Bapak dan ibumu (juga keluarganya) ribut di rumah Jogja. Intinya ibumu mau ikut keluarganya pulang ke Salatiga, sementara bapakmu memegang komitmen awal untuk Lebaran di Jogja, bersama keluarga besar eyang kung. Ontis kecewa karena ibumu menangis terisak menahan emosi sembari menggendong kamu yang sedang tidur pulas. Ontis tahu kamu bisa merasakan, nak (ontis banyak baca tentang hubungan ibu dan bayinya). Ontis tidak lagi peduli apa yang bapak dan ibumu ributkan, ontis hanya ingin sekali memeluk kamu karena ontis merasa hari itu akan jadi hari terakhir kalinya ontis bisa dekat kamu, seperti yang setahun lalu terjadi.
Bapak begitu marahnya ke ibumu dan keluarganya. Entah emosi yang sudah terpendam berapa lama. Semuanya bapak lakukan demi bisa memegang tanganmu, nak. Ontis bisa merasakan segala amarah dan kesedihan yang bapakmu simpan.

Hari ini ontis memutuskan untuk menulis, meski eyang memperingatkan ontis berkali-kali untuk menghindari media sosial karena ibumu begitu sensitif. Ontis menulis supaya lega, nak. Amanah yang eyang putri titipkan ke ontis dan onell kemarin sungguh menjadi beban pikiran ontis. Eyang putri begitu sakit di hati atas perlakuan ibumu sedari awal, eyang putri begitu kecewa dengan pembelaan eyang kakung untuk ibumu yang menurut ontis juga kurang pantas.

Ontis menyayangi kamu, nak, terlebih karena ontis mengenal bapakmu dan tidak memahami sikap ibumu. Ontis akan ingatkan bapakmu untuk tidak kembali bertengkar di depanmu. Tapi ontis berjanji, ontis tidak akan menanyakan kabarmu, nak, karena ontis tahu itu akan membebani bapakmu dan bukan tidak mungkin akan menimbulkan keributan yang lain. Tumbuh sehat, abang kecil, jangan takut. Kamu Tuhan kirim untuk menjaga bapak dan ibumu.

Saya menuliskan ini di blog pribadi (dan tidak Saya share) supaya setiap sejarah tercipta ada catatannya. Dan Saya bisa mengenang bagaimana sejarah tertuliskan.