Tanah airku Indonesia
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala
Melambai - lambai nyiur di pantai
Berbisik - bisik raja kelana
Memuja pulau nan indah permai
Tanah airku Indonesia
Saya tidak menyelam jauh di dunia politik, meskipun sekolahnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Paling jauh cuma denger atau baca berita. Kadang nanya suami atau papa. Cuma untuk sekedar tahu.
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Yang kupuja sepanjang masa
Tanah airku aman dan makmur
Pulau kelapa yang amat subur
Pulau melati pujaan bangsa sejak dulu kala
Melambai - lambai nyiur di pantai
Berbisik - bisik raja kelana
Memuja pulau nan indah permai
Tanah airku Indonesia
Saya tidak menyelam jauh di dunia politik, meskipun sekolahnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Paling jauh cuma denger atau baca berita. Kadang nanya suami atau papa. Cuma untuk sekedar tahu.
Terpaan media yang Saya terima sepanjang periode dari Pilkada DKI, penistaan agama, hingga turunnya vonis nampaknya kurang beragam. Isinya kebodohan, versi Saya. Dari program yang tidak matang, keberpihakan, aksi - aksi, dan saling serang di media sosial. Mengumandangkan isu SARA. Bukan dukungan, hanya kebodohan yang terbalut solidaritas.
Pertama terlintas di pikiran Saya ketika vonis dijatuhkan sangat sederhana : di penjara sana makannya apa ya? Tidurnya gimana? Anak-anaknya? Istrinya? Kalau musuhnya balas dendam bagaimana? Apa Presiden Indonesia jadi target selanjutnya? Orde lama? Agama Saya dan yang lainnya? Apa akan ada aksi balasan? Dan segudang pertanyaan sederhana lainnya. Saya ketakutan.
Jika Ahok dengan peringainya (baca : kutip mengutip ayat) bisa membuat dia seolah salah dan dikalahkan, besok bisa saja Saya yang Katolik, bertato dan gemar berucap sembarangan tetiba tertembak mati dan hilang. Bisa saja kegelapan masa lalu yang sering Saya dengar ceritanya akan kembali mewarnai hari - hari generasi penerus. Bisa saja anak - anak Saya tak mengenal lagi perbedaan. Tak ada lagi genggaman dan tawa dalam hidup bersama. Hidup dalam ketakutan dan tekanan. Kebencian tumbuh subur. Keseragaman dijunjung tinggi. Keberagaman kembali mati. Perjuangan menjadi Bhinneka Tunggal Ika menjadi sia - sia.
Kasus Basuki Tjahaja Purnama hanyalah segelintir contoh bentuk tekanan dan polah masyarakat haus kuasa. Kekuasaan sungguh menjadi tujuan utama yang mengerikan untuk ditempuh. Memperjuangkannya mati - matian. Tak peduli langkah mana yang harus ditempuh untuk sebuah harga kekuasaan. Memiliki kuasa memungkinkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, pribadi maupun kelompok. Menindas yang berada di luar kepentingannya. Mengambil keputusan yang diinginkan kelompoknya saja tanpa mempertimbangkan benar dan salah. Memiliki kuasa memungkinkan menjatuhkan vonis satu tahun penjara untuk koruptor dan puluhan tahun hukuman untuk pencuri satu ekor ayam. Tapi memiliki kuasa juga memungkinkan manusia memperbaiki sistem yang kurang tepat menjadi jauh lebih efisien.
Saya berharap dan terus memiliki harapan semoga pemain politik yang saat ini sedang memainkan strateginya, diberkati dan dijauhkan dari segala niat untuk meyakiti sesama makhluk hidup. Apalagi mengatasnamakan SARA di atas segalanya. Hingga Saya dan Anda kembali bebas bernafas, menyerukan keprihatinan dan keadilan. Karena Saya sungguh percaya bahwa Yesus, Muhammad, Buddha, Sang Hyang Widhi mengajarkan untuk menjadi manusia yang baik.
Untuk rangkaian kata kebencian. Untuk ribuan bunga yang tertata rapi. Untuk nyala lilin di tengah kegelapan. Untuk setiap gerakan yang terjadi. Tak sedikitpun gentar ragaku untuk mencintaimu.
Untukmu, Indonesiaku, yang masih kumiliki dalam detak jantungku. Jika ragaku tak gentar untukmu, berjuanglah bersamaku. Milikilah harapanku untuk tumbuh bersamamu. Selalu.
*Nb :
Beberapa foto ini diambil pada 10 Mei 2017 pukul 20.30 WIB pada aksi keprihatinan akan penahanan bapak Basuki Tjahaja Purnama atas kasus dugaan penistaan agama. Sempat ada provokator yang menyalakan mercon dan menimbulkan suara ledakan sehingga aksi ini harus dibubarkan untuk meminimalisir kerusuhan yang mungkin saja terjadi. Tapi relawan tidak pergi begitu saja, berdiri di samping jalan sekitar Tugu Jogja. Hingga kemudian lagu - lagu nasionalisme berkumandang. Saya? Melangkah maju, mendokumentasikan, dan bernyanyi bersama. Air mata Saya menggenang di sudut mata. Detak jantung Saya berdebar. Pilu. Haru. Tak tergambarkan. Ada saja manusia yang berusaha menghancurkan kebersamaan. Saya datang bukan untuk keberpihakan tapi supaya Saya ingat rasanya berkumpul dan bersatu.
*Nb :
Beberapa foto ini diambil pada 10 Mei 2017 pukul 20.30 WIB pada aksi keprihatinan akan penahanan bapak Basuki Tjahaja Purnama atas kasus dugaan penistaan agama. Sempat ada provokator yang menyalakan mercon dan menimbulkan suara ledakan sehingga aksi ini harus dibubarkan untuk meminimalisir kerusuhan yang mungkin saja terjadi. Tapi relawan tidak pergi begitu saja, berdiri di samping jalan sekitar Tugu Jogja. Hingga kemudian lagu - lagu nasionalisme berkumandang. Saya? Melangkah maju, mendokumentasikan, dan bernyanyi bersama. Air mata Saya menggenang di sudut mata. Detak jantung Saya berdebar. Pilu. Haru. Tak tergambarkan. Ada saja manusia yang berusaha menghancurkan kebersamaan. Saya datang bukan untuk keberpihakan tapi supaya Saya ingat rasanya berkumpul dan bersatu.



