Nah lho, urusan bercandaan bisa jadi panjang lebar.
Beberapa waktu yang lalu baru aja ngobrolin tentang ini. Tentang sensitif dan ribetnya manusia sekarang ini. Salah kata sedikit, jadi musuh bersama. Jadi muncul kubu bela rasa. Dikepoin sedikit (tanpa disenggol), jadi salah tingkah, langsung tutup akun atau ngeblock sana - sini tapi besokannya diunblock lagi karena takut kekurangan follower dan jadi kurang eksis. Dikomentarin sedikit, jadi sakit hati, kepikiran, terus stres. Apalagi kalo sampai salah pilih kubu perjuangan, neraka mungkin yang bicara.
Waktu denger materi lawakan Pandji tentang hewan (kalian bisa searching sendiri ya kasusnya) ini pun Saya nggak ngeh dimana letak perendahan martabatnya. Mungkin karena Saya tidak memperjuangkan apapun, jadi Saya kurang sensitif dan kurang ribet. Mungkin juga Saya nggak terlalu suka nimbrungin obrolan di media sosial, kecuali nerusin bercandaan recehan di akun temen.
Media sosial sekarang itu serem. Bukan lagi jadi tempat berbagi, apalagi mau bicara privasi. Bahkan bisa menimbulkan kebencian pada orang yang bahkan tidak dikenal sebelumnya. Hanya berakar pada apa yang orang itu ucapkan satu kali atau hanya karena mendengar omongan orang lain. Begitu mudahnya kebencian tumbuh dan memecahbelah. Inilah kehidupan manusia saat ini. Ringkih.
Media sosial bagi sebagian orang mungkin menjadi ajang pembentukan citra. Tak lagi mengunggah atau menulis sesuai apa yang diinginkan. Terkadang harus diedit maksimal. Sekaligus menjadi area perang verbal dan visual. Perang status. Berharap dengan mengunggah kekesalan dan opini di media sosial maka serangan akan mengenai sasaran. Nanti kalau udah ada yang merasa tersinggung, lantas berdalih "kan itu tidak Saya tujukan untuk menyebut salah satu pihak". Pekerjaan sebagai buzzer juga semakin merajalela karena lahan ini basah untuk diolah.
Kembali ke kasus materi lawakan Pandji, beberapa komentar di postingannya mempermasalahkan sulitnya Pandji untuk meminta maaf. Kebingungan Saya kemudian terletak pada mengapa dan kepada siapa Pandji harus meminta maaf? Kepada hewan yang dijadikan materi lawakan? Kepada komunitas terkait? Kepada mereka, followers Pandji yang merasa ikut tersakiti? Atau kepada siapa?
Lantas apa yang diperoleh setelah permintaan maaf terucap? Kemenangan atas apa? Atau ini hanya tentang pengakuan bahwa aku benar dan dia salah? Kemampuan berpikir Saya belum sampai pada tahap ini. Dan selalu terheran - heran tentang betapa sensitifnya manusia saat ini.
Bahkan hari ini Saya sempatkan membaca semua komentar dipostingan Pandji dan terkekeh rasanya. Begitu sensitif dan lucunya tingkah manusia yang terluka hatinya atas apa yang mereka yakini.
Why so seriuos, people?

