Rabu, 01 November 2023

permakluman.perundungan.

Berawal dari kejadian demi kejadian perundungan yang kubaca di media sosial kemudian aku menanggapi salah satu beritanya tentang seorang anak yang harus diamputasi kaki kiri akibat dijegal temannya di sekolah. Ini link berita yang kubaca :

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20231102090253-20-1018967/kaki-siswa-sd-bekasi-diamputasi-usai-dijegal-dibully-teman-sekolah

Ngeri rasanya membayangkan aman tidaknya seorang anak berada di lingkungan sekolah selama beberapa jam setiap harinya. Lebih terasa menyeramkan karena di kasus ini pihak sekolah mengomentari sebagai candaan biasa anak - anak. 

https://www.pramborsfm.com/news/kronologi-siswa-di-bekasi-dibully-hingga-amputasi-kaki-guru-sebut-hanya-bercanda

Permenunganku kemudian adalah tentang diriku sendiri. Mili baru empat bulan ini masuk sekolah TK A. Memang menjadi hal yang baru untuk Mili, juga untuk kami orang tuanya. Mili selalu menceritakan tentang teman - teman di sekolah. Ada yang baik karena berbagi bekal yang dibawa, ada juga yang baik karena ajak Mili main atau sekedar memberi tisu basah ketika Mili lupa kubawakan sapu tangan.

Tapi beberapa kali juga Mili bercerita dengan raut sedih karena ada teman yang usil atau tidak mengijinkan Mili bermain bersama. Biasanya akan kutanggapi dengan respon positif seperti : "oh iya? tidak apa - apa, mungkin teman sedang ingin main sendiri saja" atau "temennya mungkin cuma pengen ajak mbak main, bukan usil, tidak apa - apa ya". Dan sambil lalu cerita kami selesai di hari yang sama.

Kemarin siang, Rabu 1 November 2023, agak berbeda. Pulang sekolah Mili cerita kalo temannya usil lepas - lepas perekat sepatunya berulang kali, juga tangkap Mili dengan mencengkeram pergelangan tangannya sampai rasanya sakit sekali. Teman satunya lagi juga tangkap Mili seperti memeluk dari belakang kencang sekali sampai perutnya sakit. Aku dengarkan dan memberikan perhatian penuh sembari membiarkan matanya terpejam tidur siang. Malam harinya Mili mengeluhkan lagi perutnya yang sakit di kiri dekat pusar. Bahkan minta duduk bersandar saja.

Kutanya kembali tentang kejadian siang tadi di sekolah. Kuminta Mili peragakan dan ceritakan ulang pelan - pelan supaya aku tahu dimana letak salahnya. Dan ketika kutanya : "mbak, sudah bilang jangan ke temannya?". Mili jawab : "mbak sudah bilang jangan, mbuk, tapi temennya masih tangkap mbak lagi, jadi mbak diem aja biar nggak ditangkap lagi".

Jawaban Mili ini terasa perih untuk kudengar keluar dari mulut kecilnya. Anak dengan hati lembut dan belum memiliki daya yang kuat harus menghadapi teman - teman dengan berbagai karakter. 

Di momen itulah aku merasa gusar. Sudah tepatkah caraku memaklumi perundungan yang terjadi di antara anak - anak usia 4 - 5 tahun ini? Apakah benar pemikiranku bahwa anak - anak hanya tidak sengaja menyakiti ketika bermain, hanya lost of control karena sedang senang - senangnya bermain? Ataukah pola pikir sepertiku ini yang pada ujungnya memupuk tingginya pemakluman bullying pada anak dari teman sebayanya? Atau mungkin aku harus lebih berusaha mempersiapkan anak - anakku untuk menghadapi kerasnya dunia ini?!

Semoga perlahan Mili (dan juga Tama) akan tumbuh menjadi anak yang berhati lembut tapi tetap kuat dan berani mengambil sikap untuk tidak tunduk pada hal yang membuat mereka merasa kurang nyaman dan aman. Juga tahu bagaimana cara menghargai orang - orang di sekitarnya sebagai manusia secara utuh. 

Sementara itu aku akan memperjuangkan hak Mili (juga Tama) untuk bermain dengan rasa aman dan nyaman dimanapun mereka berada. Karena mereka adalah titipan yang kelak aku akan dimintakan pertanggungjawaban pada Sang Empunya.