Mewakili perusahaan tempat Saya bekerja lah yang memungkinkan Saya berada di Palembang kali ini. Sales mission.
Hari pertama. 7 Februari 2017.
Flight Nam Air dari Jogja 10.25 mengalami keterlambatan karena menunggu pelatihan AAU selesai dilakukan. Perjalanan ditempuh kurang lebih 1 jam 15 menit. Saya tiba di Bandar Udara Mahmud Badaruddin pukul 12.45.
Bersama 12 orang yang lain kami dijemput panitia menggunakan satu shuttle bus. Dari bandara kami menuju penginapan tapi berhenti makan siang terlebih dulu di Pindang Simpang Bandar. Ada di ujung jalan bandara. Saya memesan ikan pindang Baung, 2 pempek bulat, dan es jeruk seharga Rp 65.000. Rasanya enak dan pas untuk lidah Saya. Kuah pindangnya tidak terlalu asam. Pempek dan cukanya juga enak. Es jeruk di Palembang sedikit berbeda dengan di Jogja. Manisnya beda rasa.
Perjalanan menuju penginapan membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Kami melewati jalan tikus karena jalan utama sedang ada pembangunan LRT (kereta cepat) dan macet parah katanya. Kami menginap di Aston Palembang.
Perjalanan kali ini sepenuhnya berkaitan dengan pekerjaan. Jadi, setiap waktu luang yang ada harus dimanfaatkan. Saya menyewa mobil hotel untuk berjalan-jalan di kota Palembang. Melihat potensi daerah yang bisa Saya bawa untuk inovasi di tempat Saya bekerja. Sewa mobil per jam Rp 100.000 (termasuk supir). Tujuan pertama ke toko kaos Nyenyes. Nyenyes artinya bawel atau banyak bicara. Kaos di sini menjual desain mengenai Palembang. Banyak desain Jembatan Ampera, candaan khas Palembang dengan bahasa Palembang tentunya. Ada juga pernak - pernik di sini. Kisaran harga Rp 97.000 - 135.000 untuk kaos dan Rp 11.000 - 250.000 untuk pernak - pernik. Dari kaos Nyenyes, Saya menuju tempat kaos lain bernama Musi Mania. Dibandingkan Nyenyes, kualitas desain dan kaos di Musi Mania lebih rendah. Harganya kisaran Rp 115.000 untuk kaos.
Hanya dua toko kaos yang terkenal di Palembang. Selanjutnya Saya menuju Jembatan Ampera. Cantik. Tidak dipungut biaya untuk menikmati kerlap - kerlip Ampera. Hanya bayar parkir mobil Rp 5.000.
Puas menikmati Ampera, Saya menuju warung Mie Celor H. M. Syafei untuk makan malam. Mie celor mirip seperti mie ongklok di Jawa Tengah, tapi kuahnya lebih enak mie celor. Untuk lidah Saya. Sepiring mie celor dihargai Rp 15.000.
Perjalanan pulang ke penginapan, Saya mampir beli martabak Har supaya sah berada di Palembang. Martabak Har seperti martabak telor pada umumnya, hanya saja isinya hanya telur, tanpa sayuran. Makannya dicelup atau disiram dengan kuah. Kuahnya mirip kare. Harga sepotong martabak Har Rp 18.000.
Malam hari pertama ini ditutup dengan WWE di saluran tv kabel dan belajar untuk sales mission besok pagi.
Hari kedua. 8 Februari 2017.
Sales mission berlangsung hari ini. Ada 21 seller dan kurang lebih 30 buyer. Kami sebagai seller memiliki kesempatan 5 - 8 menit untuk mendeskripsikan produk (dan perusahan) kami kepada buyer, bergantian.
Sales mission berakhir pukul 4 sore. Sesuai rencana, sore ini Saya kembali menikmati Palembang di malam hari. Masih menggunakan jasa sewa mobil dari penginapan. Kali ini giliran pusat perbelanjaan yang menjadi pilihan. Palembang Indah Mal, Palembang Icon, dan Palembang Square. Dari ketiganya, Palembang Icon menyasar kelas menengah atas. Terlihat lebih ramai daripada Palembang Indah Mal. Palembang Square memiliki konsep trade center dengan atrium yang luas. Segala macam merek tersedia di Palembang Square, dari merek kelas atas hingga kelas bawah. Pilihan Saya, untuk hangout di Palembang : Palembang Icon. Sayangnya, Saya tidak banyak ambil foto di tiga tempat ini karena di sini terlalu asyik untuk sekedar sibuk ambil foto (baca : naluri perempuan).
Oleh - oleh titipan sudah Saya beli dalam perjalanan ke Palembang Indah Mall. Ada pempek Candy dan pempek Beringin. Pempek Candy memiliki paket kisaran harga Rp 100.000 - Rp 375.000, sedikit lebih mahal dari paket pempek Beringin kisaran harga Rp 90.000 - 275.000. Dari rasa, tidak jauh berbeda. Pilihan, tergantung selera.
Hari ketiga. 9 Februari 2017.
Hari terakhir berada di Palembang. Sebelum menuju bandara, Saya dan rombongan berkunjung ke Stadion Jatibarang dan Pulo Kemaro. Stadion Jatibarang menjadi objek wisata setelah Palembang menjadi tuan rumah PON 2016 dan tahun 2018 akan menjadi tuan rumah Asean Games. Berkaitan dengan ini, Palembang sedang mempersiapkan segala fasilitas termasuk pembangunan LRT yang akan menghubungkan Bandara Mahmud Badaruddin hingga Stadion Jatibarang.
Di stadion Jatibarang kami hanya berkeliling menggunakan bus. Foto hanya sempat diambil di depan stadion. Perjalanan kami lanjutkan ke Pulo Kemaro. Pulau Kemaro, merupakan sebuah Delta kecil di Sungai Musi, terletak sekitar 6 km dari Jembatan Ampera. Pulau Kemaro terletak di daerah industri,yaitu di antara Pabrik Pupuk Sriwijaya dan Pertamina Plaju dan Sungai Gerong. Pulau kemaro berjarak sekitar 40 km dari kota Palembang. Pulau Kemaro adalah tempat rekreasi yg terkenal di Sungai Musi. Di tempat ini terdapat sebuah vihara cina (klenteng Hok Tjing Rio). Di Pulau Kemaro ini juga terdapat kuil Buddha yang sering dikunjungi umat Buddha untuk berdoa atau berziarah ke makam (sumber : wikipedia). Untuk menuju Pulo Kemaro kali ini Saya dan rombongan menggunakan perahu dari area Monumen Ampera. Perjalanan menggunakan kapal dari Monumen Ampera ke Pulo Kemaro kurang lebih 45 menit.
Beruntungnya, kedatangan Saya bertepatan dengan perayaan Cap Go Meh. Banyak stand makanan, pernak - pernik, jual burung, dan lain sebagainya.
Makan siang hari ini menunya Pempek Beringin di jalan Radial. Tidak hanya menjual pempek, Beringin juga menyediakan oleh-oleh lain seperti kemplang (kerupuk), kue 8 hari yang notabene hanya dijual di Palembang, dan pernak - pernik juga kain. Menu makan Saya : pempek telor, pempek adaan, pempek lenjer, dan es kacang merah. Es kacang merah di sini manisnya luar biasa. Kacangnya manis, kuahnya manis juga. Kuahnya sedikit mirip kuah dawet tapi jaub lebih manis.
Saya dan rombongan kembali ke Jogja menggunakan Nam Air pukul 15.30 dan tiba di bandara Adi Sutjipto pukul 17.30 setelah berputar - putar kurang lebih 3 kali putaran di udara.
Terima kasih, Palembang, sampai bertemu di cerita - cerita piknik selanjutnya.






































