Sebelum tau kalo hamil dekTama, aku nggak ada kepikiran untuk #menyapih mbakMili. Ingin kupenuhi saja kebutuhannya sampai berhenti sendiri. Tapi kemudian hamil dekTama dan dengan perut yang semakin besar rasanya engap untuk tetap menyusui mbakMili secara langsung. Usia kehamilan lima bulan waktu itu pertama kali kucoba menyapih mbakMili tapi gagal karena tidak tega dan kami kelelahan.
Fyi, mbakMili menyusu lebih untuk membantu tidur. Pengantar tidur dan semacamnya. Kadang lama, kadang langsung ler tidur. Keseharian jarang menyusu karena asupan makannya sudah seperti manusia dewasa : susu uht, susu formula, es teh, yakult, cimory, mie rebus, nasi putih, kremesan.
Setelah diberi tahu bahwa akan ada adik, intensitas menyusunya semakin sering. Seolah takut dirampas adiknya dan kehilangan momen bersamaku. Diafirmasi : besok kalo adik udah lahir, mbakMili berhenti nen ya. Biasanya akan dijawab "iya" atau "oke". Pada kenyataannya : dekTama lahir, mbakMili makin nempel dan nangis kalo adiknya menyusu. Semakin tidak memungkinkan #menyapih saat itu.
Alhasil, kutandem di awal lahirnya dekTama. Gantian. Kalo jamnya adik menyusu, mbakMili akan dibawa bapaknya menyingkir dari kamar. Kalo mbakMili menyusu, bapak gendong dekTama. Bertahan beberapa minggu.
Sekarang proses afirmasi masih berjalan untuk #menyapih mbakMili, sementara itu dekTama semakin akrab dengan botol dot dan beberapa kali tidak lagi mau dbf. Susu perahku tidak banyak, jadi dekTama lebih sering menyusu formula dengan botol dotnya. Sedih? Sedikit. Bagiku yang penting anak - anak tumbuh baik dan sehat, meski tidak menyusu langsung.
Beberapa minggu yang lalu tanpa dipaksa, mbakMili bisa ketiduran di mobil dipangku nantenya. Detik pertama kali kurasa ini mungkin waktunya #menyapih . Terulang sekali setelahnya, di perjalanan kami pulang dari mal. MbakMili ketiduran di gocar sambil makan Pocky, tanpa dipangku. Pun beberapa malam ini, mbakMili bisa tidur sendiri. Kebiasaannya menyusu, diganti dengan minta garuk punggung dan glundhang glundhung beberapa menit. Paling lama tiga puluh menit di malam pertama, setelahnya dua malam ini hanya butuh waktu sepuluh lima belas menit untuk sampai tertidur sendiri. Semakin dekat waktunya lepas dariku.
Belum berhasil lepas sepenuhnya memang, masih tetap menyusu di beberapa kesempatan yang tak bisa kutolak. Tapi aku bangga pada anak perempuanku ini. Atas proses yang aku tau ini tak mudah. Dia melewatinya perlahan dan semoga berhasil dengan menyenangkan nantinya. Aku juga bangga atas diriku yang mau perlahan #menyapih mbakMili, meski kadang rasa gemas muncul begitu saja : "kemarin kan udah nggak nen, kok sekarang nen lagi, mbak".
Dalam diriku, aku percaya anak - anakku mampu melewati setiap fase dalam hidupnya. Aku adalah orang pertama yang akan selalu berada di sampingnya saat setiap fase berganti. Aku berjanji.
Update nih 9 Agt 2021 :
Tiga malam ini mbakMili berhasil tidur sendiri tanpa menyusu. Suamiku juga sekalian mengubah metode tidur dari yang biasanya harus nonton youtube dulu, kali ini diganti dengan bercerita. Mulai dari masa kecil mili, masa kecilku, masa kecil suamiku sampai karang mengarang cerita. Ceritanya selesai, mbakMili akan gulang guling sebentar lantas kemudian tertidur dalam senandung dan kipasanku. Terbangun hanya satu kali, dipuk - puk, sst sst sst, kipasin dan tidur kembali. Bangun tidurnya pun tanpa tangis, hanya panggil "mbuk, pack". Semoga terus manis tingkahnya ya.