Namanya laut. Angin pasti kenceng.
Beberapa hari yang lalu Saya berkesempatan berkunjung ke Makassar, Sulawesi Selatan. Berangkat dari Jogja menggunakan penerbangan pagi Garuda Indonesia 08.10 WIB (ada perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari di Jogja). Penerbangan yang menyenangkan selama satu jam empat puluh lima menit ini berhasil membuat Saya tidak tidur lama seperti biasanya. Padahal pagi itu Saya bangun lebih pagi dari biasanya. Mungkin karena excited mau ke kota yang belum pernah Saya kunjungi sebelumnya.
Sampai di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin sudah ada panitia penyelenggara acara yang menjemput Saya bersama empat orang lainnya untuk segera menuju penginapan kami di Aston Makassar.
Kuliner pertama yang Saya coba di hari pertama adalah Coto Makassar Daeng Tayang. Beruntungnya karena lokasinya dekat dari penginapan dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih lima menit. Dan lebih beruntung lagi karena rasa cotonya enak banget. Dua mangkok coto, tiga kupat, dan dua es jeruk menghabiskan total Rp 87.000. Lumayan untuk dompet karyawan di Jogja seperti Saya.
Malam harinya Saya makan malam bersama rombongan di Losari Restaurant. Menu makannya ikan dengan segala macam olahan, cumi, dan sambal. Makanan di Makassar hari pertama ini rasanya enak dan pas di lidah Saya.
Hari kedua adalah hari bekerja. Table Top. Saya akan bertemu banyak agen tour & travel di acara ini. Menginformasikan mengenai perusahaan di mana Saya bekerja dan membuka peluang - peluang kerja sama. Begitulah bisnis terus berjalan.
Sore hari Saya dan beberapa teman menuju Pantai Losari untuk melihat matahari terbenam. Jalan kaki kurang lebih 10 menit dari penginapan. Angin kencang Makassar selalu Saya temui ketika berjalan kaki. Menyenangkan tertepa angin kencang khas pantai. Meskipun ternyata di Makassar, atau secara khusus di Pantai Losari, tidak ada ombak bergelombang seperti pantai yang selalu Saya bayangkan. Hanya bisa duduk dan menikmati angin saja tanpa menyentuh air pantai. Di area sepanjang Pantai Losari biasa digunakan untuk beraktivitas warga Makassar seperti senam, lari santai atau sekedar menikmati suasana di sana. Ada juga jasa foto keliling yang akan membantu mengambil gambar di depan tulisan Pantai Losari. Biayanya Rp 10.000 untuk lima foto yang akan dikirimkan melalui Whatsapp. Kalau ingin berkeliling mengitari pantai, ada alternatif menggunakan perahu motor yang disewakan Rp 10.000 per orang. Melihat matahari terbenam dari atas perahu motor hari itu menghilangkan segala kelelahan Saya.
Puas menikmati matahari terbenam, Saya menuju rumah makan Aroma Palopo. Rumah makan ini menjual makanan khas Makassar yang namanya sulit Saya ingat, selain Es Pisang Ijo. Makanan di Makassar sangat kuat rasa rempahnya dan kebanyakan berbahan dasar sagu.
Hari kedua ini Saya akhiri dengan mengunjungi Trans Studio Mall. Salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan menjadi pilihan pertama di Makassar. Kali ini Saya menggunakan Go Car untuk menuju Trans Studio Mall. Dari Aroma Palopo ke Trans Studio Mall menggunakan Go Car kurang lebih 15 menit Rp 16.000.
Perjalanan pertama di hari ketiga dimulai dengan mengunjungi Kampung Berua, di desa Ramang - Ramang. Membutuhkan kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan mobil dari penginapan menuju Ramang - Ramang. Tiba di pelataran Ramang - Ramang, Saya melanjutkan menggunakan perahu motor. Menyusuri sungai yang ditumbuhi tanaman bakau di kanan kirinya. Tiba di Kampung Berua pemandangan bukit karst mengelilingi. Ada dua gua yang juga bisa dikunjungi di sana. Tidak berlama - lama di Kampung Berua, Saya menuju pusat oleh - oleh khas Makassar. Membeli beberapa kain songket dan kripik pisang untuk dibawa pulang.
Ford Rotterdam menjadi tempat berikutnya. Berisi cerita sejarah Makassar. Ada replika rumah adat, kapal Phinisi, senjata tradisional, pakaian adat dan sebagainya. Saya kurang tertarik di sini jadi kesulitan untuk mendeskripsikan isinya.
Tujuan terakhir hari ini adalah Pantai Akarena. Pantai dengan ombak seperti yang Saya inginkan walaupun sedikit kotor. Tak butuh waktu banyak untuk merasakan air pantai membasahi kulit. Menyenangkan.
Saya menghabiskan waktu di pantai ini sebelum menuju bandara untuk penerbangan pukul 19.35 WITA. Terima kasih, Makassar.






























