Karena akan selalu ada yang namanya -membagi waktu-
Dulu kukira aku rindu berjibaku pada mesin waktu di depan laptop, handphone dan teman - temanku. Hingga terasa sulit memutuskan meninggalkan itu semua untuk membersamai anak - anak di rumah.
Dulu kukira ini hanya tentang beberapa mimpi yang harus dicapai lagi nanti. Ternyata tak begitu jalannya. Laptop dan gawaiku tetap berada di hari - hariku, belakangan semakin sering menemaniku kembali karena ada tanggungjawab yang harus diselesaikan.
Ternyata ini hanya tentang membagi waktu. Yang pada kenyataannya tak pernah menjadi hal baru dalam hidupku.
Dulu kubagi waktu untuk bekerja dan adikku. Kemudian untuk bekerja, adik dan suamiku. Berlanjut untuk bekerja, anak pertama, adik dan suamiku. Kali ini kubagi waktuku untuk dua anakku, adik, suami dan pekerjaanku.
Terlihat sederhana saja. Aku bisa tetap menemani dua anakku menjalani harinya, mengambil sela di jam tidur siangnya untuk sedikit bekerja, dan bergantian ketika suamiku sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kalo kadang ada jam tidurku yang berkurang, ya, mari anggap itu sebagai bonus untuk menikmati malam sembari menyelesaikan tanggungjawab dalam fase - membagi waktu-
Dan ternyata aku tak kehilangan apapun dalam membagi waktuku.
