Minggu, 15 November 2020

aku.dan ibu.

Kalian yang masih bertanya - tanya tentang status di media sosialku belakangan atau mempertanyakan mengapa aku sampai keluar dari grup keluarga. Kucoba jelaskan melalui tulisan ini. Hanya karena aku selalu merasa tertolong melalui tulisan.

Beberapa bulan ini menjadi puncak amarah dan benciku terhadap ibu kandungku, yang sedari dulu memang tak pernah menjadi akrab selayaknya ibu dengan anaknya. Berbincang secukupnya, memenuhi kebutuhanku dan sudah. Seperti itulah hubungan kami berjalan dalam rumah tangganya. Tidak seperti hubungannya dengan kakak atau adikku. Bagi beliau, aku adalah aib keluarga, satu - satunya anak yang tak dapat dibanggakan. Selalu salah dan buruk di matanya. Entah karena hidupku selalu penuh berkat atau cemburu buta karena ayah memperlakukan aku bak anak emas. Selalu aku yang ditanyakan ayah pada ibuku. Mungkin juga terlalu banyak luka di masa lalu yang tak beliau selesaikan hingga berdampak pada perilakunya saat ini.

Sebagian besar orang menyarankan aku untuk jauh lebih bersabar menghadapi ibu. Untuk jauh lebih hormat. Ya. Kami berdua satu tipe tentang rasa hormat. Penghargaan kami atas diri sendiri memang terlalu tinggi dibanding orang kebanyakan. Ini hal paling mendasar yang memantik perseteruan kami belakangan.

Aku berhenti bekerja di bulan Mei 2020. Satu langkah besar yang bagi ibuku adalah aib menjadi pengangguran. Bahkan sempat terucap "eman - eman ya mamah nyekolahin tinggi, cuma milih jadi ibu rumah tangga". Kekecewaan itu disampaikan melalui adik bungsuku tanpa mau menanyakan langsung padaku. Bahkan yang kemudian diceritakan ke orang - orang adalah "nggak tau, tissa nggak pernah cerita kok". Yang selalu kutertawakan tentang caranya adalah seolah semua terjadi bukan karena andilnya. Salah siapa kalau pada akhirnya anak kandungnya tumbuh dengan tidak nyaman bercerita padanya? Apakah beliau sudah bersikap cukup bijaksana dalam menghadapi suatu cerita? Apakah beliau yakin sudah bersikap tidak menghakimi?

Juga ketika perseteruan terakhir terjadi, seakan lupa ingatan, beliau lepas tangan ketika beberapa orang bertanya tentang sikapku keluar dari grup keluarga. Katanya : "nggak tahu kenapa, wong nggak ada apa - apa". Sementara hampir semua kerabat tahu pasti ada apa - apa. What the fuck, mom!

Kebiasaan beliau untuk nampak rapi dan baik dilihat orang terkadang membuat setiap rasa sakit dikesampingkan. Lupa siapa dan bagaimana orang dibuatnya terluka. Berbalik denganku yang sangat terbuka dengan kondisiku, tak penuh pura - pura.

Diam di rumah menimbulkan emosi - emosi kecil yang terus menerus menumpuk. Lebih sering menyangkut pola asuh anak perempuanku (tentang ini ada di tulisan yang lain di blog ya). Mungkin juga beliau cemburu karena anak perempuanku jadi menempel erat padaku dan kuasuh seharian. Belum kelar kesal karena tak kuberi ruang mengasuh anakku, kuumumkan kehamilan keduaku. Makin kesal beliau karena merasa terlalu cepat aku hamil kembali, ditambah dengan kondisiku yang pengangguran ini. Pasti akan tambah merepotkan, pikir beliau. Di masa tuanya beliau sangat membenci keramaian. Ada satu bayi saja sudah bising, apalagi dua menumpang di rumahnya.

Hingga kutemui titik amarah tertinggi ketika ibu menegur anak pertamaku yang rewel mengantuk ketika itu, hingga sanggup berkata "oh iya dink, gpp repot, wong udah nggak kerja ibunya". Memanas telinga dan hati. Kuputuskan untuk kecewa teramat dalam. Setelah itu, mendengar suaranya dari kejauhan saja sudah otomatis menaikkan tingkat emosiku. Sebegitu parahnya hingga kuputuskan mencari tempat tinggal sendiri (bagian ini kuceritakan lain kali ya).

Aku membuka kembali diriku bukan dengan tujuan mengumbar aib tapi karena aku menemukan beberapa kasus serupa di luar sana dan ingin berhenti di aku. 

Aku tidak ingin anak - anakku tumbuh dengan ibu yang penuh dendam. Aku berharap mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan atas hubungan ibu dan anak yang buruk. Karena sesungguhnya membesarkan anak - anakku adalah tentang menghadapi diriku sendiri. 

Aku dibantu pulih oleh orang di sekitarku yang membuka mataku bahwa mungkin benar : "ibumu tidak berubah, mungkin kamu yang sedang mengalami perubahan dan menjadi lebih sensitif karena belum menerima perubahan itu". Terima kasih.

Hari ini aku pulang ke rumah eyang. Di sinilah aku memaafkan ibuku atas luka yang digoreskan terlalu dalam padaku. Menerimanya dan segala kemanipulatifannya sebagai bagian dari hidupku. Dan berdamai dengan keadaanku. Memutar semua kenangan masa kecilku di sini setiap libur sekolah. Bahwa aku selalu membawa tawa di sini. Bahwa aku memiliki keluarga besar yang menyayangiku dengan baik sedari kecilku. Karena ternyata aku hanya butuh pulang. Ke tempat dimana masa kecilku di bentuk.


Siapa pun kalian yang membaca tulisan ini dan bernasib serupa, percayalah. Kita akan dipulihkan pada waktunya. Jangan patah arang, cari pertolongan yang tepat, ceritakan dan jangan mati di luar sana. Peluk ciumku untuk jiwa pemaaf yang sedang berjuang berdamai dengan keadaan.


Seandainya aku memiliki seorang Ibu yang menyayangiku dengan tulus ikhlas dan tanpa perhitungan.
Seandainya aku memiliki seorang Ibu yang menerima bahagiaku sebagai bagian dari bahagianya dan menjadikan bahagia bagi kami.
Seandainya aku memiliki seorang Ibu yang mampu membesarkan hati  dan bukan semakin menjatuhkan ketika ragaku hampir mati.
Seandainya aku berhenti berandai - andai tentang sosok seorang Ibu.

Sabtu, 05 September 2020

Trauma. Kedua.

Beberapa orang mempertanyakan kenapa Saya tidak bisa cukup akur dengan Ibu seperti kebanyakan anak perempuan lain?

Mungkin alasan utamanya karena memang tidak dibiasakan. Ibu bekerja sewaktu Saya kecil dan mungkin kehabisan waktu untuk memperhatikan atau mendekatkan diri dengan Saya. Tumbuh dengan kakak dan pengasuh. Saya bahkan lupa masa kecil Saya. Sebagian besar tentang kenakalan masa kecil si kakak.

Hingga luka pertama Saya gores mungkin karena mentato tubuh tanpa ijin. Ibu tidak marah, hanya memberi segepok uang untuk menghapusnya. Selalu tentang uang dan segala pemenuhan kebutuhan. Mungkin drama, tapi benar adanya, uang terkadang bukan yang Saya butuhkan. Tapi tak mampu Saya ungkapkan.

Tumbuh dewasa dan bertemu pada titik puncak ketidakakuran Saya dan Ibu. Entah karena apa (Saya lupa), tapi waktu itu ibu kesal dengan adik perempuan Saya dan akan melemparkan sepatu berhak tinggi ke arah adik Saya. Saya tepis dan meninggalkan bekas luka di telapak tangan kanan akibat hak tinggi yang Saya genggam. Awal segala kebencian terhadap Ibu. Hingga datang sosok suami yang membantu menjadi penengah di antara kami. Sosok suami yang mungkin juga dibenci Ibu karena beberapa kali memberi argumen yang benar dari sudut pandang lain tentang suatu hal. Begitulah Ibu, sekali ada yang menentang atau menyanggah pemikirannya, maka akan jadi musuh bebuyutan.

Anak perempuan kami lahir tahun lalu, mulailah hasrat memiliki tertanam dalam diri Ibu. Entah saking rindunya karena dua cucu sebelumnya tak bisa direngkuh atau mengunderestimate bahwa Saya tak tahu apa - apa dalam menjalankan peran sebagai Ibu baru. Segala apa yang Saya ingin terapkan pada anak perempuan kami, selalu bertentangan dengan Ibu. Kalian dari segi medis, kalo Ibu kan cuma berdasar pengalaman membesarkan tiga anak dan hidup semua tanpa kekurangan. Selalu itu tamengnya. Padahal Ibu mungkin kurang peka tentang menyebut "tanpa kekurangan" dalam membesarkan kami, tiga anaknya. Kurang peka melihat betapa batin kami terluka atas rumah tangga penuh teriak dan keras yang Ibu dan Bapak Saya jalani. Kurang peka tentang bukan hanya materi dan harta benda yang mungkin kami butuhkan. Kurang peka melihat tujuan hidup kami. Mungkin. Tapi, itulah Ibu. Tak pernah mau tahu. Bahkan yang terucap selalu kesombongan "tiga - tiganya baik - baik saja".

Lebih dalam lagi tentang meragukan Saya dalam menjalankan peran seorang ibu untuk anak Saya terlihat beberapa kali dalam pertengkaran besar kami. Ibu bilang "dari tiga anak mamah, cuma kamu yang nyusahin". Terlihat kebencian besar dalam kalimat itu. Saya paham, mungkin karena Bapak terlalu menganakemaskan Saya dan disitulah letak kecemburuan seorang Ibu kepada anak perempuannya. Saya terima.

Tapi ketika sepulang bekerja Saya menemui Ibu sedang berusaha menidurkan anak perempuan Saya dengan memberikan payudaranya untuk disusui anak perempuan Saya, kecewa kembali menggerogoti luka dalam hati. Saya tak pernah mendengar cerita seorang eyang mengasuh cucunya hingga tega menyusui. Alasannya karena anak perempuan Saya hanya mau tidur ketika disusui. Beberapa kali juga terjadi anak perempuan Saya dibawa pergi tanpa ijin terlebih dulu, bahkan dijadikan lelucon. Saya paham tentang statement : tidak ada eyang yang akan melukai cucunya, semua bermaksud baik, membantu. Tapi ini jugalah yang meninggalkan luka semakin dalam di hati Saya. Mengakibatkan ketakutan berlebihan untuk menitipkan buah hati Saya ke eyangnya. Membayangkan apalagi yang akan mereka ajarkan ke anak perempuan Saya membuat Saya ngeri dan membulatkan tekad untuk akhirnya berhenti bekerja kantoran. 

Itupun tak menjadi solusi penuh. Semakin sering di rumah, semakin terjadi konflik pola asuh. Mulai dari es teh yang semakin sering diberikan, sementara Saya larang (awalnya), sampai konsumsi Chiki bermicin yang enak sekali itu. Mulai dari membanggakan diri karena anak perempuan mau digendong Ibu Saya daripada dengan Bapak Saya, sampai seolah paling pahlawan : kalo sama Uti nggak pernah nangis atau teriak - teriak, kenapa sama Bapak Ibumu teriak - teriak, nanti lehermu sakit. Padahal teriakan terjadi karena memang sedang masanya, atau kami sedang menghindari bahaya dan mengajarkan boleh - tidak.

Ya begitulah perbedaan sudut pandang yang terjadi. Terlalu jauh untuk kembali dekat. Ibu selalu berkompetisi dengan Saya dan berusaha selalu lebih unggul, padahal Saya tak berniat sedikitpun untuk berkompetisi. Saya hanya ingin memberi ruang untuk diri sendiri dalam membesarkan anak ini dan menjauhkannya dari trauma yang mungkin tinggal dalam diri Saya.

Nilailah Saya sebagai anak yang durhaka, tapi cobalah mengenal Ibu dan bergelut dengannya beberapa hari. Mungkin kalian akan mengerti kemudian. 

Kamis, 16 Juli 2020

peran.perempuan.

Beberapa kali membaca postingan tentang "Cari istri atau cari pembantu?", jiwaku bergejolak. Aku tak melihat ada yang salah dengan seorang perempuan (istri) menjalankan peran : membereskan rumah, mengurus anak - anak, menyiapkan keperluan suami dan anak, memastikan rumah nyaman ditinggali, dan bahkan bekerja. Apa akar masalahnya hingga bermunculan postingan keluh keluhan seperti itu?

Bukan membela para pria ya ini (postingan tentang memberi waktu untuk suami kapan hari itu, bikin bulu kuduk berdiri baca komen netijen). Dan nggak usah bawa RA Kartini. Beliau sudah berjuang demi kesetaraan, nggak usahlah dilibatkan dalam diskusi peran ini.

Waktu menikah dan bekerja, pekerjaan tersulitku adalah mencuci pakaian. Jadi kulaundry karena merasa tak ada cukup tenaga jika masih harus mencuci sendiri sepulang bekerja. Sekarang, sedang lebih banyak di rumah jadi kucuci sendiri baju kami. Mengatur waktu dari pagi hingga sore hari, yang tadinya berkegiatan di kantor, sekarang di rumah.

Biasanya cuci baju dua hari sekali, ambil waktu di pagi hari sembari menunggu anak perempuan dan suami pulang dari jalan pagi. Memandikan anak. Menemani bermain. Menidurkan. Menyiapkan makan siang (nyiapin lho, aku nggak masak yang segala macam rupa, paling goreng telur atau Go Food karena emang nggak bisa masak). Main lagi. Tidur siang. Setrika. Masak air untuk anak mandi sore. Ajak jalan sore di sekitar kampung sekalian makan sore. Mandi. Menyiapkan makan malam. Bed time. Tidur. Begitu lagi hari berikutnya. 
Bahkan kalo setrikaan belum kelar di hari ini, masih bisa kuundur besok. Tapi kuusahakan semua pekerjaan selesai sesuai rencana karena sekali tertunda akan menumpuk semakin banyak.

Nggak punya me time? Terus kapan ngerjain project - projectmu? Terus dagangan gimana? Ya santuy laaa. Pekerjaanku semua dikerjakan melalui handphone dan aku bisa pegang handphone 12 - 14 jam di jam tidur anak perempuanku. Dan tetap seperti biasanya, aku adalah perempuan pemuja akhir pekan, akan selalu jadi me time untukku dan tak kuijinkan keluargaku bekerja di akhir pekan kami.

Ya kalo setelah ini ada yang berpikir "enak donk jadi suami, terima jadi, semua beres, tinggal pake, taunya anak langsung pinter, semua tagihan udah dibayar". Ya carilah suami yang tahu bagaimana menjalankan perannya tanpa disuruh apalagi dipaksa.

Nggak usah lihat hidupnya Nia Ramadhani deh. Dia gitu - gitu juga masih nyiapin baju untuk kerja suaminya, masih mikirin mau pake baju apa, tas yang mana, makan menu apa, konten Youtube dan printhilannya sebagai istri, ibu dan selebritis. Ya walaupun jelas banyak yang bantu sih. Lagian nih ya, kalo sebagai perempuan tidak menjalankan peran, terus apa yang kita lakukan dalam keseharian? 

Semua menjalankan perannya masing - masing, sekali lagi, dalam pernikahan usahakan untuk tak berhitung karena menikah adalah pilihan yang sudah diambil untuk dinikmati bersama. Sekali berhitung, akan begitu seterusnya dan tak ada habisnya. Sebagai perempuan, jadi perhiasan untuk suami dan alasan untuk anak - anak selalu pulang rasanya akan membayar semua me time, berlipat ganda. Belum lagi kalo dagangan laris dan project terus berdatangan. Manis banget rasanya.

Ini versiku ya.


Kamis, 11 Juni 2020

Renjana.ke Satu.


08 Juni 2019.
Hari Sabtu pukul 04.30 WIB memutuskan lahir ke dunia dengan caranya sendiri. Tumbuh pintar dan menggemaskan setiap harinya. Tiga bulan pertama hidupnya kudampingi siang malam. Sisanya berteman eyang dan nante di kala aku menjalankan rutinitas. Dan kini, di satu tahun usianya, kuputuskan kembali menjadi hari - harinya. Semoga dia tak bosan melihat, mendengar dan menyentuhku.

Tak begitu terasa, waktu bergulir begitu cepat. Rasanya masih dapat kuingat bagaimana deg - degannya ketika ketuban pecah di rumah setelah aku selesai ibadah Jumat Pertama hari itu. Masih juga kuingat perihnya melihatmu meninggalkanku di ruang bersalin untuk mendapat perawatan lebih ekstra. Juga ingatan tentang baby bluesku waktu itu. Masih kuingat semuanya tentang hari - hari pertama kita bertemu, nak.

Terima kasih, Renjana, untuk terus berbagi tumbuh denganku. Memberiku sinyal terbaik untuk menata kehidupanku kembali perlahan - lahan. Selalu memudahkan setiap kesulitan yang kurasa sulit dan menyusahkan. Terus membantu melihat segala sesuatu dengan lebih dekat. Mengajarkanku untuk bersyukur dalam banyak hal.

8 Juni 2020.









Selamat ulang tahun, mimpi - mimpiku. Semoga pelukanku selalu mampu menenangkanmu. Semoga tumbuhmu terus sempurna dan hatimu selalu penuh cinta.

Aku mencintaimu, Renjanaku.


Selasa, 05 Mei 2020

henti.karir.kali ini.

Menemui kesalahan : bicara pada mereka yang "beda frame". Memperbaiki kesalahan dengan sikap yang sama : "tak perlu dibalas, kita beda kelas".







Tepat tahun ke tujuh berkarya bersama tim terbaik di PT Aseli Dagadu Djokdja. Mengawali karir tahun 2013 dengan posisi Marketing Officer brand Dagadu Bocah. Setahun kemudian berpindah brand ampuan : Dagadu Djokdja. Brand besar dengan sejuta rasa. Dua tahun bekerja, diangkat menjadi karyawan tetap dan karir terus cemerlang. Empat tahun selanjutnya berjalan sebagai Marketing Executive brand Dagadu Djokdja. Gaji naik terus, beban kerja naik lurus. Bukan tidak mudah berkarya di sini. Cuma kadang pelik dengan setiap permasalahan yang ada. Tapi juga happy dengan setiap lempar canda. Banyak orang mengincar posisi ini karena terlihat mudah dan menyenangkan. Percayalah, semua kembali ke bagaimana kita memilih mengambil sikap. Never choose the Company, choose the Culture.








Perusahaan terus bergulir ke depan. Menemui perubahan. Berganti kepala, berganti anggota badan. Terhadang pandemi Covid - 19. Waktunya berkemas. Langkahku terhenti di sini. Daripada hidup sebagai parasit di perusahaan yang sudah tak se-prinsip, aku memilih hengkang kali ini. Dengan hati yang lapang dan rendah. Kuusahakan langkah yang ringan dan senang bukan kepalang. Semoga segala cerita yang kucipta meninggalkan kenangan yang kelak dapat kita putar bersama. Terima kasih, PT Aseli Dagadu Djokdja, untuk setiap cinta dan kasih  membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat lagi. 







Bagaimana langkahku ke depan, belum jelas hilalnya. Yang dapat kami (aku dan bapakmili) pastikan, berjuang bersama gadis kecil kecintaan kami (dan menjauhi mafia - mafia orde lama) adalah satu yang akan kami syukuri pertama kali. Karena ini adalah juga impian yang kusembunyikan : bercita - cita menjadi perempuan dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga.










Fyi. Sedari SMA aku ingin sekali menjadi guru taman kanak kanak, bahkan sempat tercetus akan membuka TK sendiri bersama seorang teman yang sekarang aktif di salah satu rumah sakit (semoga kamu baca tulisan ini yaaa, aku masih ingat khayalan kita waktu itu, nna). Kemudian kuurungkan impianku karena aku lebih suka memiliki tato di sekujur tubuhku. You knowlah. Setelah itu cita - citaku berubah : aku ingin menjadi ibu rumah tangga yang punya kedai kopi kecil di halaman depan rumah. Tak pernah kuceritakan ini kecuali pada dia yang kini menjadi bapak dari seorang anak perempuan yang kucintai, bernama Renjana. Mungkin ini waktunya kuwujudkan impianku. Semesta, perbuatlah untukku (lagi). 


Berhenti sejenak, kan lebih baik kelak.

Rabu, 01 April 2020

recovery.bumi.

Februari 2020 (walau curi dengar katanya Desember sudah ada kabar virus ini), mendengar pertama kali tentang wabah virus Corona yang selanjutnya dinamai Covid - 19 di Wuhan. Jelas masih merasa aman karena virusnya jauh di Cina sana, beda kelurahan, beda kabupaten. Kehidupan masih berjalan normal. Menanggapi postingan pun masih sangat liar dan sombong. Menganggap virus ini hanya angin lalu. Masih belum mau cuci tangan sering - sering. Masih nggak peduli orang mulai nimbun masker. Masih jalan kesana kemari sementara beberapa pihak sudah mulai mengeluarkan himbauan untuk diam di rumah. Masih jadi pribadi yang sangat tak mawas diri. Masih.

Kesombonganku berakhir pada hujatan netizen ketika posting tentang pariwisata ke Jogja dan postingan sedang jalan - jalan di mal bersama anak perempuanku. Seperti ditampar. Beginikah rasanya artis - artis yang punya haters? 

16 Maret 2020, bersamaan dengan awal himbauan pemerintah untuk isolasi diri di rumah, muncullah Najwa Shihab dan Pandji Pragiwaksono dengan mengusung hashtag dirumahaja. Beberapa kerabat netizen berbondong mention dan share postingan mereka ke akun Instagram Saya karena tahu Saya sangat mengidolakan mereka berdua, dengan harapan memutus kesombongan akan virus ini. Mereka berhasil. Perlahan mulai memahami virus ini dan ingin menghentikan lajunya. Pas sekali, waktu itu adik perempuan Saya harus dirawat inap di rumah sakit karena Infeksi Saluran Kencing. Jadilah mulai bekerja dari rumah (dan rumah sakit) selama seminggu. Semakin getir karena perusahaan akhirnya juga mengambil kebijakan piket kerja untuk menekan penyebaran virus sekaligus memperkecil biaya operasional kami. Seketika, virus ini menjadi pandemi dan meluruhkan kesombonganku.

Pernah nggak berpikir bahwa ini adalah konspirasi untuk mengurangi jumlah manusia di muka bumi. Tua dan balita? Ada dalam pikirku. Namun segera coba kusirnakan. 

Dikategorikan pandemi. Menjadi duka bersama. Semua lapisan bergerak merespon pandemi ini. Mulai dari kesadaran untuk sering cuci tangan, hingga menipisnya stok masker dan hand sanitizer. Mulai dari karantina wilayah karena sudah ada yang positif di wilayahnya, sampai dibuatnya bilik disinfektan. Mulai dari belanja dari rumah sampai ke himbauan tidak usah belanja online dan pakai uang elektronik saja. Ya katanya kalo belanja online kan tetep aja virus bisa nempel di plastik atau kardusnya. Terus nempel juga di uang yang berputar pemilik. Terlalu banyak yang terjadi karena ulah satu virus ini. Terlalu banyak himbauan dan spekulasi di masyarakat. Meresahkan karena di jaman ini berita cepat sekali tersebar, bahkan kadang tak sempat mencari kebenarannya, sudah nafsu ingin menyebarkan.

Dari semua berita pencegahan dan himbauan, menurut yang kubaca, menghadapi pandemi ini solusi terbaiknya adalah dengan cuci tangan, mandi dan physical distancing. Tak perlu berlebih, jangan juga sepelekan. Cukup.

Dampak terhadap perekonomian juga tak kalah mencuri perhatian. Work from home gencar dibunyikan untuk menjaga jarak dan memutus rantai virus. Berakibat pada perubahan gaya hidup. Semua dilakukan dari rumah. Pariwisata anjlok. Toko offline sepi pengunjung. Dolar menguat tembus Rp 16.000. Semua pihak mengamankan harta masing - masing. Pengusaha menutup usahanya alih - alih mementingkan kesehatan karyawan dan pelanggan, padahal biaya operasional tak lagi mampu dicover. Entah akan betapa sulitnya jalan ke depan. Semoga tidak.




Kepedihan semakin mendalam karena pandemi ini juga menyentuh cara sisi keimanan. Berdekatan hari raya : Nyepi, Paskah, Idul Fitri. Semua dilakukan dari rumah. Tidak ada ibadah yang biasa kita rayakan di tempat peribadahan dan memperingati hari raya bersama. Haru. Virus ini dengan baiknya membuka mata hati untuk sejenak menemukan Tuhan dengan lebih intim. Bukan melulu ribut mengatasnamakan agama dan keyakinan pribadi.

Juga tentang penolakan warga atas pemakaman penderita positif Covid - 19 di daerahnya karena sangat takut virus ini akan menyebar. Walaupun proses pemakaman dan perlakuan pada jenazah positif Covid - 19 ini sudah melalui prosedur yang dianjurkan medis. Bagaimana duka kerabat yang ditinggalkan pun tak sanggup  Saya bayangkan.

https://today.line.me/ID/article/eMkZ1l?utm_source=copyshare

Tak bisa juga disalahkan, toh memang virus ini menyebar dengan cepat dan menciptakan ketakutan luar biasa di masyarakat. Yang salah adalah budaya masyarakat yang kemudian hobi menciptakan stigma. Mudah memberi label dan memperlakukan orang lain tanpa pikir panjang. Demi diri sendiri yang kadang tak masuk di akal.

Dampak paling baru dari pandemi ini adalah himbauan untuk tidak mudik. Pedih kan?! Ya walaupun pemimpin kota Saya memilih sikap yang lain untuk kasus mudik ini. Menurut beliau warga yang merantau mungkin saja mengalami dampak virus ini dan tidak bisa bertahan lebih lama di kota rantaunya. Jadi tak ada salahnya mereka mudik ke kota asal, selama mereka bisa menjaga diri. Pemikiran yang tidak biasa memang. Tapi setiap pemimpin berhak menyuarakan kebijakannya bukan?! Tinggal bagaimana kita sebagai pribadi menyikapinya. Seberapa kuat rindu mampu ditahan dan dapur dapat terus mengepul tanpa harus mudik. Ingat saja lagi tentang menderitanya menjadi pasien dengan virus ini karena harus diisolasi, sendirian selama pengobatan bahkan ketika mati pun tak ada kerabat yang diperbolehkan mendekat.




https://m.harianjogja.com/jogjapolitan/read/2020/03/30/510/1035562/jogja-terbuka-untuk-pemudik-sultan-mosok-mulih-ora-oleh


Lepas dari segala pedih yang terasa, beberapa artikel juga menuliskan tentang dampak positif pandemi ini, misalnya lapisan ozon yang terlihat membaik, udara sejenak segar, bebas polusi di kota - kota besar. Bumi sedang memperbaiki dirinya sendiri yang sejatinya mulai rapuh karena ulah manusia. Donasi juga marak dilakukan. Membuat masker kain dan APD untuk dibagikan ke tenaga medis yang membutuhkan. Bahkan Narasi TV memulai donasi dengan bentuk konser musik online sekaligus memberikan hiburan untuk kita yang berdiam dirumahaja. Terkumpul lebih dari lima milyar rupiah hanya dalam hitungan hari. Menunjukkan betapa baiknya sisi kemanusiaan.

Semua tak akan lagi sama. Perubahan pasti akan terjadi dalam hidup. Berubahlah menuju yang baik. Nanti, ketika virus ini berlalu, ingatlah tentang hari ini. Hari yang kita cipta dan lewati bersama. Hari yang menempatkan kita atas puluhan rasa. Hari yang menyiapkan diri untuk generasi yang lebih baik lagi. 

Ingatlah tentang hari ini. Hari dimana kuberterima kasih atas kerelaan kita berjuang bersama.



Senin, 09 Maret 2020

bantu.belajar.

Sungguh. Membiarkan diri dibantu orang lain itu menyenangkan. Tak perlu beradu cara siapa yang paling baik untuk diterapkan. Tak perlu unjuk gigi tentang lebih dekat dengan orang tua atau orang lain.

Lebih fokus dalam kasus ini adalah tentang pola asuh orang tua versus orang tua kuadrat (baca : eyang). Percayalah, dalam membesarkan seorang anak, tak ada niat buruk yang disematkan untuk anak atau kita sendiri. Malah kalau anak dekat dengan orang lain, itu memberi kita ruang. Apalagi kalo dekat sama eyangnya, bagus itu. Siapa tau ditulis dalam daftar pewaris kan, hehe (eyaang, please baca deh ini)

Untuk orang tua bekerja dan tinggal satu rumah dengan orang tua, seperti Saya, menitipkan anak ke orang tua adalah salah satu pilihan yang harus Saya ambil. Bisa dengan menambahkan asisten rumah tangga atau diurus sendiri. Kasus Saya, dulu pernah ada ART, tapi orang tua Saya lebih nyaman urus anak Saya sendiri saja tanpa ART. Yang terjadi berikutnya adalah tentang toleransi pola asuh.

Perbedaannya selalu : Saya pakai ilmu medis, grup whatsapp ibu kekinian dan googling, sedangkan eyang pake ilmu pengalaman. Masalahnya, ini era desruptif, eyang harus mau menerima perubahan kan?! Dan Saya harus lebih banyak belajar. Cerita perseteruan kami, bisa dibaca di tulisan sebelumnya atau follow akun Instagram @anastasiatissa deh.

Semakin bertambahnya hari, permasalahannya semakin berganti. Sekarang masuk ke pilihan menu makan dan adu sabar karena si anak sudah mulai males makan, maunya main. Pagi tadi malah sempat drama. Anakbaik (begitu Saya panggil anak perempuan manis ini) ikut kami sarapan, ngemil krupuk, krupuk di tangan habis, proses kunyah di mulut, meweklah dia. Saya ganti roti dan tempe untuk dia pegang, malah dibuang. Sontak Saya ngomel halus, mewek lagi lah dia. Eyangnya datang dan gendong dengan sigapnya. Mendadak tangis anakbaik terhenti, seakan juga bilang "utii, ibu marahin aku". Bukan sedih atau kecewa karena anakbaik punya tameng eyang ketika Saya coba mendidik, tapi Saya geli. Lucu amat anak ini. Mungkin mulai tahu intonasi tinggi dan menerimanya sebagai "Ibu marah, aku salah. Aku tau aku salah, aku takut. Aku cari eyang karena eyang nggak pernah marah". Eyangnya pun akan semakin memandang Saya tidak bisa mengurus anak, cuma bisa marah, tidak sabar, tidak benar. 

Lumrah. Begitulah posisi eyang bagi setiap cucu di muka bumi ini. Pun begitulah posisi orang tua di mata eyang.

Terus gimana donk pola asuh anakbaik sekarang? Ya gampang aja. Kalau lagi sama eyang, ikut aturan eyang. Kalau lagi sama Saya, ikut aturan Saya. Pada waktunya nanti, Saya percaya anakbaik akan memilih aturannya sendiri, yang baik menurut dia.

Belajar menerima adalah hal tersulit yang harus dan mau tidak mau dilakukan. Saya berjuang. Mengalahkan segala ego. Memendam segala kecewa. Demi satu tujuan awal : membesarkan anak ini dengan penuh kasih dan memastikan bahagianya. 

Bergelut beberapa bulan, beberapa tips ini bisa kalian terapkan : 

1. Biasakan mengeluarkan apa yang kalian rasakan, bisa dengan menulis. Dan mengunggahnya di akun pribadi. Tapi hati - hati untuk kalian yang bekerja di perusahaan yang suka keganggu dengan unggahan karyawan. Kalian bisa private akun atau milih nulis di tembok rumah aja.

2. Sering - sering tarik nafas dan hela kemudian. Kalo bisa, menghelanya agak pake suara supaya orang yang dirasa mengesalkan saat itu bisa mendengar. Paling tidak itu bisa bantu kasih sinyal kalo "eh, uwe kesel tauk lu giniin, tapi uwe gpp kok"

3. Berdamai dengan diri sendiri. Caranya? Sugesti diri : ini gpp kok, ini bukan salah uwe, mereka cuma mau bantu kok bukan mau nyulik anak uwe.

Saya menuliskan ini supaya kalian yang mengalami hal serupa bisa merasa berkawan. Kalian nggak sendirian.


"Yang penting gaduh dulu, rencana utamanya jadi bisa tetep jalan"~ Bapak muda berbintang Gemini dengan satu anak perempuan lucu.


Aku, Anak dan Ibuku

Kamis, 09 Januari 2020

aku.biru.

Biru dan aku
Kadang semu
Kadang kumerayu


Warna biru tanpa sengaja memenuhi keseharianku. Lupa sejak kapan jatuh hati pada warna biru karena sebelumnya selalu terpaku pada hitam dan merah. Senada dengan bintang piscesku mungkin. Jadi secara tak sadar aku bisa saja mencintai warna biru karena memang begitulah semesta membentukku.

Biru adalah kumpulan rasa sakit dan kenangan yang menggenang. Membuatnya terasa sendu sekaligus tenang.

Kemudian seketika mengetik kata kunci "biru" di laman Google. Muncul beberapa artikel tentang arti dan tafsirannya. Aku tertarik pada artikel mengenai karakter penyuka warna biru (www.google.com) :

Konservatif
Warna biru adalah warna yang aman – warna yang paling disukai semua orang.

Dapat diprediksi
Biru tidak impulsif atau spontan dan tidak suka terburu-buru – biru perlu menganalisis dan memikirkan berbagai hal, dan bekerja sesuai rencana.

Tertib
Biru harus memiliki arah & ketertiban, sedangkan ketidakteraturan dan ketidakpastian dapat mengalahkannya.

Kaku
Biru suka keakraban. Ia tidak suka perubahan dan dengan keras kepala akan melakukan hal-hal dengan caranya sendiri, bahkan jika ada cara yang lebih baik.


Mendekati karakterku meski tak sepenuhnya terlalu biru. Aku menyelesaikan tulisanku kali ini dengan memberi ruang untukmu mengenalku dari warna biruku.

Biru, dan tentangku.


Aku berbiru. 12 Maret 2020.