Kalian yang masih bertanya - tanya tentang status di media sosialku belakangan atau mempertanyakan mengapa aku sampai keluar dari grup keluarga. Kucoba jelaskan melalui tulisan ini. Hanya karena aku selalu merasa tertolong melalui tulisan.
Beberapa bulan ini menjadi puncak amarah dan benciku terhadap ibu kandungku, yang sedari dulu memang tak pernah menjadi akrab selayaknya ibu dengan anaknya. Berbincang secukupnya, memenuhi kebutuhanku dan sudah. Seperti itulah hubungan kami berjalan dalam rumah tangganya. Tidak seperti hubungannya dengan kakak atau adikku. Bagi beliau, aku adalah aib keluarga, satu - satunya anak yang tak dapat dibanggakan. Selalu salah dan buruk di matanya. Entah karena hidupku selalu penuh berkat atau cemburu buta karena ayah memperlakukan aku bak anak emas. Selalu aku yang ditanyakan ayah pada ibuku. Mungkin juga terlalu banyak luka di masa lalu yang tak beliau selesaikan hingga berdampak pada perilakunya saat ini.
Sebagian besar orang menyarankan aku untuk jauh lebih bersabar menghadapi ibu. Untuk jauh lebih hormat. Ya. Kami berdua satu tipe tentang rasa hormat. Penghargaan kami atas diri sendiri memang terlalu tinggi dibanding orang kebanyakan. Ini hal paling mendasar yang memantik perseteruan kami belakangan.
Aku berhenti bekerja di bulan Mei 2020. Satu langkah besar yang bagi ibuku adalah aib menjadi pengangguran. Bahkan sempat terucap "eman - eman ya mamah nyekolahin tinggi, cuma milih jadi ibu rumah tangga". Kekecewaan itu disampaikan melalui adik bungsuku tanpa mau menanyakan langsung padaku. Bahkan yang kemudian diceritakan ke orang - orang adalah "nggak tau, tissa nggak pernah cerita kok". Yang selalu kutertawakan tentang caranya adalah seolah semua terjadi bukan karena andilnya. Salah siapa kalau pada akhirnya anak kandungnya tumbuh dengan tidak nyaman bercerita padanya? Apakah beliau sudah bersikap cukup bijaksana dalam menghadapi suatu cerita? Apakah beliau yakin sudah bersikap tidak menghakimi?
Juga ketika perseteruan terakhir terjadi, seakan lupa ingatan, beliau lepas tangan ketika beberapa orang bertanya tentang sikapku keluar dari grup keluarga. Katanya : "nggak tahu kenapa, wong nggak ada apa - apa". Sementara hampir semua kerabat tahu pasti ada apa - apa. What the fuck, mom!
Kebiasaan beliau untuk nampak rapi dan baik dilihat orang terkadang membuat setiap rasa sakit dikesampingkan. Lupa siapa dan bagaimana orang dibuatnya terluka. Berbalik denganku yang sangat terbuka dengan kondisiku, tak penuh pura - pura.
Diam di rumah menimbulkan emosi - emosi kecil yang terus menerus menumpuk. Lebih sering menyangkut pola asuh anak perempuanku (tentang ini ada di tulisan yang lain di blog ya). Mungkin juga beliau cemburu karena anak perempuanku jadi menempel erat padaku dan kuasuh seharian. Belum kelar kesal karena tak kuberi ruang mengasuh anakku, kuumumkan kehamilan keduaku. Makin kesal beliau karena merasa terlalu cepat aku hamil kembali, ditambah dengan kondisiku yang pengangguran ini. Pasti akan tambah merepotkan, pikir beliau. Di masa tuanya beliau sangat membenci keramaian. Ada satu bayi saja sudah bising, apalagi dua menumpang di rumahnya.
Hingga kutemui titik amarah tertinggi ketika ibu menegur anak pertamaku yang rewel mengantuk ketika itu, hingga sanggup berkata "oh iya dink, gpp repot, wong udah nggak kerja ibunya". Memanas telinga dan hati. Kuputuskan untuk kecewa teramat dalam. Setelah itu, mendengar suaranya dari kejauhan saja sudah otomatis menaikkan tingkat emosiku. Sebegitu parahnya hingga kuputuskan mencari tempat tinggal sendiri (bagian ini kuceritakan lain kali ya).
Aku membuka kembali diriku bukan dengan tujuan mengumbar aib tapi karena aku menemukan beberapa kasus serupa di luar sana dan ingin berhenti di aku.
Aku tidak ingin anak - anakku tumbuh dengan ibu yang penuh dendam. Aku berharap mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan atas hubungan ibu dan anak yang buruk. Karena sesungguhnya membesarkan anak - anakku adalah tentang menghadapi diriku sendiri.
Aku dibantu pulih oleh orang di sekitarku yang membuka mataku bahwa mungkin benar : "ibumu tidak berubah, mungkin kamu yang sedang mengalami perubahan dan menjadi lebih sensitif karena belum menerima perubahan itu". Terima kasih.
Hari ini aku pulang ke rumah eyang. Di sinilah aku memaafkan ibuku atas luka yang digoreskan terlalu dalam padaku. Menerimanya dan segala kemanipulatifannya sebagai bagian dari hidupku. Dan berdamai dengan keadaanku. Memutar semua kenangan masa kecilku di sini setiap libur sekolah. Bahwa aku selalu membawa tawa di sini. Bahwa aku memiliki keluarga besar yang menyayangiku dengan baik sedari kecilku. Karena ternyata aku hanya butuh pulang. Ke tempat dimana masa kecilku di bentuk.
Siapa pun kalian yang membaca tulisan ini dan bernasib serupa, percayalah. Kita akan dipulihkan pada waktunya. Jangan patah arang, cari pertolongan yang tepat, ceritakan dan jangan mati di luar sana. Peluk ciumku untuk jiwa pemaaf yang sedang berjuang berdamai dengan keadaan.
Seandainya aku memiliki seorang Ibu yang menyayangiku dengan tulus ikhlas dan tanpa perhitungan.
Seandainya aku memiliki seorang Ibu yang menerima bahagiaku sebagai bagian dari bahagianya dan menjadikan bahagia bagi kami.
Seandainya aku memiliki seorang Ibu yang mampu membesarkan hati dan bukan semakin menjatuhkan ketika ragaku hampir mati.
Seandainya aku berhenti berandai - andai tentang sosok seorang Ibu.