Beberapa orang mempertanyakan kenapa Saya tidak bisa cukup akur dengan Ibu seperti kebanyakan anak perempuan lain?
Mungkin alasan utamanya karena memang tidak dibiasakan. Ibu bekerja sewaktu Saya kecil dan mungkin kehabisan waktu untuk memperhatikan atau mendekatkan diri dengan Saya. Tumbuh dengan kakak dan pengasuh. Saya bahkan lupa masa kecil Saya. Sebagian besar tentang kenakalan masa kecil si kakak.
Hingga luka pertama Saya gores mungkin karena mentato tubuh tanpa ijin. Ibu tidak marah, hanya memberi segepok uang untuk menghapusnya. Selalu tentang uang dan segala pemenuhan kebutuhan. Mungkin drama, tapi benar adanya, uang terkadang bukan yang Saya butuhkan. Tapi tak mampu Saya ungkapkan.
Tumbuh dewasa dan bertemu pada titik puncak ketidakakuran Saya dan Ibu. Entah karena apa (Saya lupa), tapi waktu itu ibu kesal dengan adik perempuan Saya dan akan melemparkan sepatu berhak tinggi ke arah adik Saya. Saya tepis dan meninggalkan bekas luka di telapak tangan kanan akibat hak tinggi yang Saya genggam. Awal segala kebencian terhadap Ibu. Hingga datang sosok suami yang membantu menjadi penengah di antara kami. Sosok suami yang mungkin juga dibenci Ibu karena beberapa kali memberi argumen yang benar dari sudut pandang lain tentang suatu hal. Begitulah Ibu, sekali ada yang menentang atau menyanggah pemikirannya, maka akan jadi musuh bebuyutan.
Anak perempuan kami lahir tahun lalu, mulailah hasrat memiliki tertanam dalam diri Ibu. Entah saking rindunya karena dua cucu sebelumnya tak bisa direngkuh atau mengunderestimate bahwa Saya tak tahu apa - apa dalam menjalankan peran sebagai Ibu baru. Segala apa yang Saya ingin terapkan pada anak perempuan kami, selalu bertentangan dengan Ibu. Kalian dari segi medis, kalo Ibu kan cuma berdasar pengalaman membesarkan tiga anak dan hidup semua tanpa kekurangan. Selalu itu tamengnya. Padahal Ibu mungkin kurang peka tentang menyebut "tanpa kekurangan" dalam membesarkan kami, tiga anaknya. Kurang peka melihat betapa batin kami terluka atas rumah tangga penuh teriak dan keras yang Ibu dan Bapak Saya jalani. Kurang peka tentang bukan hanya materi dan harta benda yang mungkin kami butuhkan. Kurang peka melihat tujuan hidup kami. Mungkin. Tapi, itulah Ibu. Tak pernah mau tahu. Bahkan yang terucap selalu kesombongan "tiga - tiganya baik - baik saja".
Lebih dalam lagi tentang meragukan Saya dalam menjalankan peran seorang ibu untuk anak Saya terlihat beberapa kali dalam pertengkaran besar kami. Ibu bilang "dari tiga anak mamah, cuma kamu yang nyusahin". Terlihat kebencian besar dalam kalimat itu. Saya paham, mungkin karena Bapak terlalu menganakemaskan Saya dan disitulah letak kecemburuan seorang Ibu kepada anak perempuannya. Saya terima.
Tapi ketika sepulang bekerja Saya menemui Ibu sedang berusaha menidurkan anak perempuan Saya dengan memberikan payudaranya untuk disusui anak perempuan Saya, kecewa kembali menggerogoti luka dalam hati. Saya tak pernah mendengar cerita seorang eyang mengasuh cucunya hingga tega menyusui. Alasannya karena anak perempuan Saya hanya mau tidur ketika disusui. Beberapa kali juga terjadi anak perempuan Saya dibawa pergi tanpa ijin terlebih dulu, bahkan dijadikan lelucon. Saya paham tentang statement : tidak ada eyang yang akan melukai cucunya, semua bermaksud baik, membantu. Tapi ini jugalah yang meninggalkan luka semakin dalam di hati Saya. Mengakibatkan ketakutan berlebihan untuk menitipkan buah hati Saya ke eyangnya. Membayangkan apalagi yang akan mereka ajarkan ke anak perempuan Saya membuat Saya ngeri dan membulatkan tekad untuk akhirnya berhenti bekerja kantoran.
Itupun tak menjadi solusi penuh. Semakin sering di rumah, semakin terjadi konflik pola asuh. Mulai dari es teh yang semakin sering diberikan, sementara Saya larang (awalnya), sampai konsumsi Chiki bermicin yang enak sekali itu. Mulai dari membanggakan diri karena anak perempuan mau digendong Ibu Saya daripada dengan Bapak Saya, sampai seolah paling pahlawan : kalo sama Uti nggak pernah nangis atau teriak - teriak, kenapa sama Bapak Ibumu teriak - teriak, nanti lehermu sakit. Padahal teriakan terjadi karena memang sedang masanya, atau kami sedang menghindari bahaya dan mengajarkan boleh - tidak.
Ya begitulah perbedaan sudut pandang yang terjadi. Terlalu jauh untuk kembali dekat. Ibu selalu berkompetisi dengan Saya dan berusaha selalu lebih unggul, padahal Saya tak berniat sedikitpun untuk berkompetisi. Saya hanya ingin memberi ruang untuk diri sendiri dalam membesarkan anak ini dan menjauhkannya dari trauma yang mungkin tinggal dalam diri Saya.
Nilailah Saya sebagai anak yang durhaka, tapi cobalah mengenal Ibu dan bergelut dengannya beberapa hari. Mungkin kalian akan mengerti kemudian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar