Hampir lima tahun Saya menantikan kehadiran buah hati dalam rumah tangga Saya. Tahun lalu Tuhan percayakan janin tumbuh dalam rahim Saya. Usianya delapan minggu waktu itu. Awal perubahan dan penyesuaian diri. Tiga puluh sembilan minggu yang menyenangkan, meski tak selalu mudah. Paling berat adalah menyiapkan mental untuk cuti panjang dari pekerjaan dan rutinitas.
Mendekati waktu persalinan, Saya semakin sering berkomunikasi dengan anakbayi supaya lahir tepat waktunya. Jumat pertama di bulan Juni, Saya masih sempat mengikuti ibadat sore hari, pergi makan sate taichan sama suami dan adik Saya. Jam sembilan malam sampai di rumah, ganti baju tidur dan sesaat setelah rebahan, pecahlah ketuban. Bersiap menuju RS Panti Rapih ditemani seisi rumah. Sampai di RS, bukaan dua dan belum merasakan sedikit pun yang nama kontraksi.
Di ruang transit semua Saya lewati dengan baik. Senyum, tarik nafas panjang di setiap kontraksi, dan mengingat betapa kehadiran anakbayi adalah waktu yang begitu lama Saya nantikan. Untuk yang belum kebayang rasanya kontraksi, itu seperti mules menstruasi tapi versi dua kali lipat. Bukaan delapan, di ruang bersalin. Tak ada lagi yang Saya inginkan selain segera mendengar suara dokter untuk membantu persalinan. Mulai mengerang kesakitan. Senyum pun sulit. Minum hanya sesekali. Dan setiap kontraksi datang (dalam hitungan detik), genggaman tangan Saya menguat pada tangan suami dan menatapnya tajam.
Dokter datang kurang lebih pukul empat pagi. Setiap kontraksi datang, Saya dipandu untuk mengejan. Tak semulus apa yang Saya pelajari dari senam hamil atau akun media sosial. Lima kali mengejan dan anakbayi lahir setengah lima pagi, tanpa tangisan.
Di sela melahirkan plasenta dan dokter menjahit sobekan pada jalan lahir, tatap mata Saya tak lepas dari anakbayi yang sedang berjuang di sebelah Saya. Beberapa saat tangisnya terdengar. Meski sepatah patah. Lega. Karena ketuban pecah dan Saya terlalu lama mengejan, anakbayi minum air ketuban dan nafasnya belum stabil, jadi harus pisah ruang dirawat di NICU hingga kondisinya membaik.
Tanyakan bagaimana perasaan Saya. Perasan bersalah adalah yang paling kuat Saya rasakan detik itu : Saya menyebabkan anakbayi kesulitan bernafas dan merepotkan banyak orang, terutama suami. Tangis Saya pecah ketika berada di ruang bersalin berdua dengan suami. Hanya tangisan.
Permasalahan selanjutnya adalah asi yang tak mengucur deras. Tapi Saya dikuatkan oleh dokter, suster dan suami, juga beberapa kerabat, bahwa asi akan segera mengucur dan anakbayi belum terlalu lapar karena masih dibantu infus, pun lambungnya masih seukuran kelereng kecil. Saya diijinkan pulang pada hari ketiga dan anakbayi menyusul sehari berikutnya.
Fase berikutnya adalah fase yang tak Saya duga akan menimpa Saya. Saya kira persiapan Saya sudah matang untuk meminimalisir baby blues. Menjadi begitu sensitif dan menangis beberapa kali, padahal Saya tahu persis akan menghadapi permasalahan ini : saran dan kritik dalam proses pemulihan, segala tata cara merawat bayi dan tetek bengeknya, plus orang tua yang berkali - kali mengkhawatirkan asi untuk anakbayi sehingga menyarankan susu tambahan, semua yang Saya lakukan di rumah selalu salah : "bukan gitu, harusnya gini". Belum lagi jam istirahat kami yang masih harus menyesuaikan dengan anakbayi. Badan rasanya tak nyaman. Bahkan sempat menggigil hebat di satu malam. Dalam permasalahan ini, Saya mengandalkan suami yang lebih bisa berkomunikasi dengan orang tua Saya. Meski Saya tahu dia juga sangat kelelahan. Sedari dulu memang Saya selalu kesulitan berkomunikasi dengan orang tua, terutama ibu. Kami tak dekat seperti kebanyakan ibu dan anak perempuannya. Satu hal yang akan Saya perbaiki bersama anak perempuan Saya.
Hari ini, dua minggu berlalu. Kami mulai saling beradaptasi : mengatur aktivitas dari pagi hingga malam, bahkan membuat jadwal tertulis : kapan harus makan, mandi, berbagi pekerjaan rumah dengan suami. Tak selalu baik rasanya. Tapi di titik inilah Saya bangkit. Mengambil satu fokus yang membuat Saya tenang : Saya bisa mengatasi sesuai kemampuan (plus ingat bagaimana Saya merindukan kehadiran anakbayi dalam waktu yang panjang). Namanya tinggal dan hidup dengan banyak orang. Tak ada salahnya untuk mendengar kritik dan saran. Bahkan ketika salah dan disalahkan. Ambil yang bisa diterapkan dan tinggalkan yang tidak. Yakin saja bahwa semua dilakukan karena kita disayangi.
Emillia Renjana Sanggaputri
Anak perempuan yang memiliki rasa hati yang kuat. Kami memanggilnya Mili. Kami ingin hidupnya terus mengaliri sekitar dengan cinta dan kasih.
Lahir normal 8 Juni 2019
Panjang 50 cm
Berat badan 3,14 kg
Terima kasih untuk suami yang selalu memberikan dukungan dan meyakinkan bahwa kita mampu mengatasi permasalahan sedikit demi sedikit. Terima kasih untuk semua support system : nante ell, pakde, bude, eyang, mbah, teman - teman dan kerabat yang selalu menanyakan kabar dan perkembangan Mili. Juga untuk tenaga medis yang membantu selama kehamilan, persalinan dan pemulihan kami (malah kayak pidato penerima penghargaan ya).
Terima kasih untuk membiarkan kami beradaptasi dan menemukan kenyamanan kami sendiri. Terima kasih untuk membantu kami menemukan bahagia.
Untuk pejuang di luar sana, mari berbagi kisah dan biarkan jiwa kita menari bersama segala gelisah. Hidup kita, cuma kita yang tentukan arahnya. Begitulah bahagia akan tercipta. Tepat pada waktunya, tidak akan terlambat atau terlalu cepat. Versi Saya.















