Februari 2020 (walau curi dengar katanya Desember sudah ada kabar virus ini), mendengar pertama kali tentang wabah virus Corona yang selanjutnya dinamai Covid - 19 di Wuhan. Jelas masih merasa aman karena virusnya jauh di Cina sana, beda kelurahan, beda kabupaten. Kehidupan masih berjalan normal. Menanggapi postingan pun masih sangat liar dan sombong. Menganggap virus ini hanya angin lalu. Masih belum mau cuci tangan sering - sering. Masih nggak peduli orang mulai nimbun masker. Masih jalan kesana kemari sementara beberapa pihak sudah mulai mengeluarkan himbauan untuk diam di rumah. Masih jadi pribadi yang sangat tak mawas diri. Masih.
Kesombonganku berakhir pada hujatan netizen ketika posting tentang pariwisata ke Jogja dan postingan sedang jalan - jalan di mal bersama anak perempuanku. Seperti ditampar. Beginikah rasanya artis - artis yang punya haters?
16 Maret 2020, bersamaan dengan awal himbauan pemerintah untuk isolasi diri di rumah, muncullah Najwa Shihab dan Pandji Pragiwaksono dengan mengusung hashtag dirumahaja. Beberapa kerabat netizen berbondong mention dan share postingan mereka ke akun Instagram Saya karena tahu Saya sangat mengidolakan mereka berdua, dengan harapan memutus kesombongan akan virus ini. Mereka berhasil. Perlahan mulai memahami virus ini dan ingin menghentikan lajunya. Pas sekali, waktu itu adik perempuan Saya harus dirawat inap di rumah sakit karena Infeksi Saluran Kencing. Jadilah mulai bekerja dari rumah (dan rumah sakit) selama seminggu. Semakin getir karena perusahaan akhirnya juga mengambil kebijakan piket kerja untuk menekan penyebaran virus sekaligus memperkecil biaya operasional kami. Seketika, virus ini menjadi pandemi dan meluruhkan kesombonganku.
Pernah nggak berpikir bahwa ini adalah konspirasi untuk mengurangi jumlah manusia di muka bumi. Tua dan balita? Ada dalam pikirku. Namun segera coba kusirnakan.
Dikategorikan pandemi. Menjadi duka bersama. Semua lapisan bergerak merespon pandemi ini. Mulai dari kesadaran untuk sering cuci tangan, hingga menipisnya stok masker dan hand sanitizer. Mulai dari karantina wilayah karena sudah ada yang positif di wilayahnya, sampai dibuatnya bilik disinfektan. Mulai dari belanja dari rumah sampai ke himbauan tidak usah belanja online dan pakai uang elektronik saja. Ya katanya kalo belanja online kan tetep aja virus bisa nempel di plastik atau kardusnya. Terus nempel juga di uang yang berputar pemilik. Terlalu banyak yang terjadi karena ulah satu virus ini. Terlalu banyak himbauan dan spekulasi di masyarakat. Meresahkan karena di jaman ini berita cepat sekali tersebar, bahkan kadang tak sempat mencari kebenarannya, sudah nafsu ingin menyebarkan.
Dari semua berita pencegahan dan himbauan, menurut yang kubaca, menghadapi pandemi ini solusi terbaiknya adalah dengan cuci tangan, mandi dan physical distancing. Tak perlu berlebih, jangan juga sepelekan. Cukup.
Dampak terhadap perekonomian juga tak kalah mencuri perhatian. Work from home gencar dibunyikan untuk menjaga jarak dan memutus rantai virus. Berakibat pada perubahan gaya hidup. Semua dilakukan dari rumah. Pariwisata anjlok. Toko offline sepi pengunjung. Dolar menguat tembus Rp 16.000. Semua pihak mengamankan harta masing - masing. Pengusaha menutup usahanya alih - alih mementingkan kesehatan karyawan dan pelanggan, padahal biaya operasional tak lagi mampu dicover. Entah akan betapa sulitnya jalan ke depan. Semoga tidak.
Kepedihan semakin mendalam karena pandemi ini juga menyentuh cara sisi keimanan. Berdekatan hari raya : Nyepi, Paskah, Idul Fitri. Semua dilakukan dari rumah. Tidak ada ibadah yang biasa kita rayakan di tempat peribadahan dan memperingati hari raya bersama. Haru. Virus ini dengan baiknya membuka mata hati untuk sejenak menemukan Tuhan dengan lebih intim. Bukan melulu ribut mengatasnamakan agama dan keyakinan pribadi.
Juga tentang penolakan warga atas pemakaman penderita positif Covid - 19 di daerahnya karena sangat takut virus ini akan menyebar. Walaupun proses pemakaman dan perlakuan pada jenazah positif Covid - 19 ini sudah melalui prosedur yang dianjurkan medis. Bagaimana duka kerabat yang ditinggalkan pun tak sanggup Saya bayangkan.
https://today.line.me/ID/article/eMkZ1l?utm_source=copyshare
Tak bisa juga disalahkan, toh memang virus ini menyebar dengan cepat dan menciptakan ketakutan luar biasa di masyarakat. Yang salah adalah budaya masyarakat yang kemudian hobi menciptakan stigma. Mudah memberi label dan memperlakukan orang lain tanpa pikir panjang. Demi diri sendiri yang kadang tak masuk di akal.
Dampak paling baru dari pandemi ini adalah himbauan untuk tidak mudik. Pedih kan?! Ya walaupun pemimpin kota Saya memilih sikap yang lain untuk kasus mudik ini. Menurut beliau warga yang merantau mungkin saja mengalami dampak virus ini dan tidak bisa bertahan lebih lama di kota rantaunya. Jadi tak ada salahnya mereka mudik ke kota asal, selama mereka bisa menjaga diri. Pemikiran yang tidak biasa memang. Tapi setiap pemimpin berhak menyuarakan kebijakannya bukan?! Tinggal bagaimana kita sebagai pribadi menyikapinya. Seberapa kuat rindu mampu ditahan dan dapur dapat terus mengepul tanpa harus mudik. Ingat saja lagi tentang menderitanya menjadi pasien dengan virus ini karena harus diisolasi, sendirian selama pengobatan bahkan ketika mati pun tak ada kerabat yang diperbolehkan mendekat.
https://m.harianjogja.com/jogjapolitan/read/2020/03/30/510/1035562/jogja-terbuka-untuk-pemudik-sultan-mosok-mulih-ora-oleh
Lepas dari segala pedih yang terasa, beberapa artikel juga menuliskan tentang dampak positif pandemi ini, misalnya lapisan ozon yang terlihat membaik, udara sejenak segar, bebas polusi di kota - kota besar. Bumi sedang memperbaiki dirinya sendiri yang sejatinya mulai rapuh karena ulah manusia. Donasi juga marak dilakukan. Membuat masker kain dan APD untuk dibagikan ke tenaga medis yang membutuhkan. Bahkan Narasi TV memulai donasi dengan bentuk konser musik online sekaligus memberikan hiburan untuk kita yang berdiam dirumahaja. Terkumpul lebih dari lima milyar rupiah hanya dalam hitungan hari. Menunjukkan betapa baiknya sisi kemanusiaan.
Semua tak akan lagi sama. Perubahan pasti akan terjadi dalam hidup. Berubahlah menuju yang baik. Nanti, ketika virus ini berlalu, ingatlah tentang hari ini. Hari yang kita cipta dan lewati bersama. Hari yang menempatkan kita atas puluhan rasa. Hari yang menyiapkan diri untuk generasi yang lebih baik lagi.
Ingatlah tentang hari ini. Hari dimana kuberterima kasih atas kerelaan kita berjuang bersama.



