Kamis, 16 Juli 2020

peran.perempuan.

Beberapa kali membaca postingan tentang "Cari istri atau cari pembantu?", jiwaku bergejolak. Aku tak melihat ada yang salah dengan seorang perempuan (istri) menjalankan peran : membereskan rumah, mengurus anak - anak, menyiapkan keperluan suami dan anak, memastikan rumah nyaman ditinggali, dan bahkan bekerja. Apa akar masalahnya hingga bermunculan postingan keluh keluhan seperti itu?

Bukan membela para pria ya ini (postingan tentang memberi waktu untuk suami kapan hari itu, bikin bulu kuduk berdiri baca komen netijen). Dan nggak usah bawa RA Kartini. Beliau sudah berjuang demi kesetaraan, nggak usahlah dilibatkan dalam diskusi peran ini.

Waktu menikah dan bekerja, pekerjaan tersulitku adalah mencuci pakaian. Jadi kulaundry karena merasa tak ada cukup tenaga jika masih harus mencuci sendiri sepulang bekerja. Sekarang, sedang lebih banyak di rumah jadi kucuci sendiri baju kami. Mengatur waktu dari pagi hingga sore hari, yang tadinya berkegiatan di kantor, sekarang di rumah.

Biasanya cuci baju dua hari sekali, ambil waktu di pagi hari sembari menunggu anak perempuan dan suami pulang dari jalan pagi. Memandikan anak. Menemani bermain. Menidurkan. Menyiapkan makan siang (nyiapin lho, aku nggak masak yang segala macam rupa, paling goreng telur atau Go Food karena emang nggak bisa masak). Main lagi. Tidur siang. Setrika. Masak air untuk anak mandi sore. Ajak jalan sore di sekitar kampung sekalian makan sore. Mandi. Menyiapkan makan malam. Bed time. Tidur. Begitu lagi hari berikutnya. 
Bahkan kalo setrikaan belum kelar di hari ini, masih bisa kuundur besok. Tapi kuusahakan semua pekerjaan selesai sesuai rencana karena sekali tertunda akan menumpuk semakin banyak.

Nggak punya me time? Terus kapan ngerjain project - projectmu? Terus dagangan gimana? Ya santuy laaa. Pekerjaanku semua dikerjakan melalui handphone dan aku bisa pegang handphone 12 - 14 jam di jam tidur anak perempuanku. Dan tetap seperti biasanya, aku adalah perempuan pemuja akhir pekan, akan selalu jadi me time untukku dan tak kuijinkan keluargaku bekerja di akhir pekan kami.

Ya kalo setelah ini ada yang berpikir "enak donk jadi suami, terima jadi, semua beres, tinggal pake, taunya anak langsung pinter, semua tagihan udah dibayar". Ya carilah suami yang tahu bagaimana menjalankan perannya tanpa disuruh apalagi dipaksa.

Nggak usah lihat hidupnya Nia Ramadhani deh. Dia gitu - gitu juga masih nyiapin baju untuk kerja suaminya, masih mikirin mau pake baju apa, tas yang mana, makan menu apa, konten Youtube dan printhilannya sebagai istri, ibu dan selebritis. Ya walaupun jelas banyak yang bantu sih. Lagian nih ya, kalo sebagai perempuan tidak menjalankan peran, terus apa yang kita lakukan dalam keseharian? 

Semua menjalankan perannya masing - masing, sekali lagi, dalam pernikahan usahakan untuk tak berhitung karena menikah adalah pilihan yang sudah diambil untuk dinikmati bersama. Sekali berhitung, akan begitu seterusnya dan tak ada habisnya. Sebagai perempuan, jadi perhiasan untuk suami dan alasan untuk anak - anak selalu pulang rasanya akan membayar semua me time, berlipat ganda. Belum lagi kalo dagangan laris dan project terus berdatangan. Manis banget rasanya.

Ini versiku ya.