Sabtu, 31 Desember 2016

re.solusi.

Apa yang dirayakan di pengujung tahun?

Selain sekedar hari Sabtu biasa, yang paginya jadi hari Minggu, kemudian Senin dan kembali lagi ke hari Sabtu. Dan seterusnya.
Selain berkumpul bersama keluarga dan teman-teman untuk menyalakan atau sekedar menikmati kembang api 30-45 menit menjelang pergantian hari.
Selain beribadah karena ingin anti mainstream dari kebanyakan orang.
Selain menambah berat pekerjaan bapak ibu pembersih jalan di pagi hari.

Apa yang dirayakan di pengujung tahun?

Jika pagi terbangun dan tidak ada lagi kembang api yang dinikmati bersama seperti semalam perayaan.
Jika telepon genggam menjadi benda yang pertama kali dicari, sekedar untuk melihat betapa chaosnya lini masa.
Jika film kartun berbaju renang tetap disensor habis-habisan.
Jika sedikit pemantik masih bisa membakar amarah, kemudian terpecah.
Jika permasalahan masih itu-itu saja dan mengeluhkan hal yang sama, berulang-ulang.

Apa yang dirayakan di pengujung tahun?

Ketika setiap tawa yang  tercipta (semalam) begitu mudah terlupakan.
Ketika hari-hari dijalani dengan kebencian dan lupa cara mencintai.
Ketika berada dalam pengkotak-kotakan dan lupa cara berbagi.

Ketika Saya, Anda, dan mereka tidak lagi punya mimpi untuk diraih.







Minggu, 25 Desember 2016

cerita.natal.

Berhenti terus membuat hidup menjadi mudah. Ijinkan aku menilai seberapa kuat kakiku berdiri.
Berhenti menuruti setiap angan. Ijinkan aku memahami ketika rencana menjadi tertunda.
Berhenti memperlakukan aku sekecil manusia tanpa arti.
Berhenti menanyakan hal yang tak selalu ingin aku dengar. Ijinkan aku menceritakan bagaimana aku bertahan dalam kesedihan dan tetap mengukir garis senyum di wajahku.
Berhentilah karena aku kelelahan.


Natal tahun ini memang berbeda dari tahun - tahun sebelumnya.
Pohon Natal baru Saya pasang seminggu sebelumnya. Pekerjaan di kantor terasa begitu sulit ditinggalkan, sehingga mempersiapkan keriuhan Natal pun menjadi jauh dari angan. Adaptasi lagi karena tahun ini Misa Natal pertama bersama keluarga baru. Sepeninggal Uti, ritual berkumpul juga tidak lagi jadi keharusan. Tergantikan grup whatsapp, bertukar cerita melalui foto - foto yang terkirim. Meski terasa ada yang hilang, rinduku terbayar.

Liburan pun tak lagi terasa libur karena gadget tetap melekat di tangan. Sekedar bertegur sapa di grup, hingga memastikan pekerjaan di Jogja berjalan lancar.

Natal Saya tahun ini terasa mengalir seperti hari - hari biasa. Maknanya juga tak lebih dari sekedar perayaan tahunan. Masih ada yang hilang dan belum sanggup Saya terima dengan baik.

Selamat merayakan Natal. Semoga damai Natal senantiasa memberikan penghiburan dan semua makhluk berbahagia.
Selamat menyambut tahun baru 2017. Semoga hidup tetap menyenangkan dan angan menjadi nyata. Basilika, Nazaret, Israel. Dan kembali bugar di tahun depan.

















Rabu, 09 November 2016

hero.to be.

Untuk laki - laki yang mengaku menerima aku lebih dari diriku sendiri.

Entah bagaimana bisa aku merasa seperti sendirian. Sendirian berjuang, sendirian mengorbankan banyak hal, sendirian tertawa, dan sendirian menangis. Atau entah bagaimana aku merasa cukup lelah, meski kamu ada di setiap hariku. Hingga akhirnya aku terlalu banyak kembali ke masa lalu. Dimana aku sendirian dan tetap merasa bahagia. Tak ada bagian yang hilang kala itu. Hingga aku membandingkan banyak hal. 

Aku jatuh. Banyak perkara terjadi yang tak lagi sanggup aku tangisi. Begitu rindunya aku akan bayi kecil yang akan meramaikan hidupku. Terlalu banyak angan yang tertahan untuk entah kapan akan terwujud. Aku terlalu lemah untuk mengakui bahwa aku hilang.

Pagi ini aku bertanya, tentang bagaimana kamu begitu tenang menjalani hidup hingga aku terlarut bersama ketenanganmu yang terkadang aku teriakkan dengan "kamu enggak peka".
Ataukah itu yang dinamakan ikhlas? Atau kamu dipaksa tenang untuk membuat aku kelak akan mampu melewati segala perkara?

Karena aku begitu kehabisan kata untuk mengeluh dan menjelaskan bagaimana aku mencintai kamu dan berharap kamu mencintai aku dengan jauh lebih baik (dan manis).

Sabtu, 29 Oktober 2016

tentang.ibu.

Menulis tentang ibu rasanya tak akan ada habisnya.

Begitu banyak kenangan di kepala, tentang ibu, meski kami, terutama Saya, tidak menjadikan ibu sebagai sahabat layaknya keluarga pada umumnya.

Ibu adalah sosok pekerja keras yang bangun paling pagi dan tidur paling larut. Tak ada satu pun teman kami yang tak ibu ingat dan tak ada kegelisahan kami yang tak ibu rasakan. Begitu banyak keributan terjadi tapi tak pernah sekalipun ibu menghentikan keinginan kami untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ibu tak pernah membanggakan kami tapi tak sedikit pun mengurangi keyakinan bahwa ibu bangga akan kami.

Kami tak selalu pulang dengan keadaan baik, dan ibu mengerti. Meski terkadang juga ikut menghakimi kami, untuk kemudian mengatakan "tidak apa-apa, nak, semua akan baik-baik saja, sudah biasa".

Ibu tidak selalu menyajikan suasana yang menyenangkan tapi selalu membingkainya dengan baik.
Air mata dan doa.

Entah akan jadi ibu seperti apa nantinya, satu yang akan Saya ingat sepanjang hidup adalah cara Ibu menyerahkan semua perkara ke dalam tanganNya dan mensyukuri semua yang terjadi.

Ibu, simpuhku di kakimu pun tak akan mampu menghapus betapa keras kepalanya aku. Jangan berhenti mengirimkan pesan "di rumah hujan deres, dijemput nggak, mbak?" karena di situlah aku tahu ibu mengkhawatirkanku.

Selamat ulang tahun, ibu.








Selasa, 18 Oktober 2016

bandung.vacation

Bandung menjadi tujuan liburan kami kali ini.

Perjalanan dimulai dari Minggu pagi, 16 Oktober. Kami memilih menggunakan jasa kereta api untuk menuju ke Bandung. Lodaya pagi, kelas bisnis, budget kurang lebih Rp 300.000 untuk dua tiket.
https://tiket.kereta-api.co.id



Delapan jam perjalanan kami tempuh dengan kedinginan di kereta. AC nya mantab untuk kami yang biasa pakai kipas angin. Kereta berhenti di tasikmalaya, dan segelas mie instan pun kami beli untuk sekedar menghangatkan tubuh. Masih ada dua jam yang harus dinikmati.

16.06 WIB kami tiba di Stasiun Bandung. Langsung norak cari tulisan "Bandung" terus difoto. Sah rasanya.
Kami menuju penginapan menggunakan AA Taksi, berargo. Kami menginap di Ibis Budget Asia Afrika dengan harga Rp 635.000 untuk dua hari. Hotelnya lucu deh. Minimalis di sana sini, tepat seperti yang Saya bayangkan.



m.accorhotels.com/gb/hotel-9185-ibis-budget-bandung-asia-afrika/index.shtml

Setelah tenaga pulih kembali, malam harinya kami jalan kaki menuju Cikapundung Riverspot. Jarak dari penginapan ke Riverspot kurang lebih 10 menit, satu arah di sepanjang jalan Asia Afrika. Melewati Gedung Merdeka.



Meskipun tidak semenarik gambar-gambarnya di media sosial, tapi tidak membuat kami kecewa karena air mancurnya sempat beberapa kali kami nikmati.




Banyak jajanan di sini : mie lidi yang bumbunya merasuk sukma, tutut yang segelasnya Rp 10.000 dan belum pernah kami makan sebelumnya, juga bakso mie kocok yang seporsi Rp 35.000 tapi enaknya luar biasa.



Setelah cukup puas, kami kembali ke penginapan melewati sisi jalan yang lain. Jalan Braga. Menjadi keharusan nampaknya untuk berfoto di dekat palang jalannya. Jl. BRAGA, seperti halnya dengan Jl. MALIOBORO.






Hari kedua, Senin 17 Oktober tujuan kami Trans Studio Bandung. Dari penginapan kami menggunakan jasa Uber. Pertama kalinya dan menjadi transportasi andalan kami selama berada di Bandung. Tidak lebih dari Rp 20.000 untuk perjalanan kurang lebih 15 - 20 menit. Mendadak norak melihat megahnya hotel, mall dan theme park Trans Studio.



Tiket masuk theme park Rp 170.000 / orang. Harga ini sudah untuk semua wahana yang ada di dalamnya, kecuali food court. Food court di theme park menggunakan sistem isi ulang pada kartu tiket. Isi ulang dapat dilakukan pada loket yang tersedia di dalam theme park.

Hampir semua wahana kami coba, mulai dari Yamaha Coaster, Superhero Studio, Dunia Bolang, sampai Dunia Lain. Tiga wahana kami lewatkan : The Pirates yang basah-basahan, Vertigo, dan Giant Swing. Kami kehabisan nyali setelah mencoba coaster sebelumnya.












Kami kembali ke penginapan setelah berkeliling Trans Studio Mall yang berada satu komplek dengan theme park. Masih menggunakan jasa Uber, tentunya.

Malam hari kami makan di warung C Mar. Menggunakan jalur jalan yang sama dengan hari pertama. Riverside sepi karena ini hari kerja. Tidak ada jajanan seperti hari Minggu kemarin. C Mar terkenal di kalangan orang malam, katanya, karena mereka buka dari jam 6 sampai subuh. Menunya nasi, sayur, lauk, layaknya warung ramesan atau warteg. Cuma harganya mengagetkan kami : Rp 60.000 untuk 2 nasi sayur, satu ati, oseng usus, 2 krupuk dan 2 es jeruk. Kalo di Jogja, harga segitu bisa untuk traktir anak sekantor jajan di angkringan.

Hari terakhir ini kami habiskan di penginapan. Bangun siang mendekati jam check out. Kemudian menuju Paris Van Java, menggunakan uber. Jarak dari penginapan kami menuju Paris Van Java kurang lebih 20 - 25 menit, sedikit lebih jauh dari Trans Studio. Biaya Uber Rp 49.500. Beberapa brand di sini sudah ada di Jogja, cuma displaynya sungguh membuat mata Saya betah ada di sini. Apalagi wanita di Bandung yang cantik-cantik banyak ada di sini.
Tujuan terakhir kami adalah Kartika Sari. Beli buah tangan untuk berbagi bahagia kami. Molen keju, molen coklat, sempe almond, dan kripik singkong. Kisaran harga Rp 15.000 - Rp 65.000. Selesai di Kartika Sari, kami berjalan kaki menuju Stasiun Bandung untuk perjalanan pulang ke Jogja menggunakan kereta Lodaya Malam jam 18.55 WIB.

Liburan kami berakhir hari ini. Besok pagi kami tiba kembali di Jogja dan rutinitas kembali bergulir. Cukup untuk kami nikmati berdua. Sampai jumpa tahun depan, kesenangan. 18102016.







Ps :
Kamis malam ini kami punya makan malam seru. Beberapa teman hadir dan membuat kami sungguh merasa bahagia. Terima kasih.
















Jumat, 14 Oktober 2016

wanita.rela.

Rela menjadi wanita yang 180 derajat hidup dengan sisi lain.

Aku rela tidak angkat berat dan mengurangi kecepatan. Rela tidak berkata kasar dalam candaan. Rela menjauhi kopi yang begitu Aku cintai sebelumnya. Rela makan sehat yang sebelumnya bahkan tak pernah tersentuh mulutku. Rela menciumi banyak bayi lain hanya untuk memuaskan rasa rinduku padamu.
Aku rela berkali-kali meneteskan air mata saat mendapati garis testpack melulu hanya satu. Aku rela.

Hingga kerelaanku terhenti, aku lupa bagaimana caranya berserah. Aku begitu sibuk mengukur kerelaanku. Demi (adanya) kamu.



Ps : ini ditulis satu hari sebelum kami (akhirnya) liburan dan mengusahakan cara lain untuk berserah.

Jumat, 19 Agustus 2016

dulu.sekarang.

Hidup tidak akan semudah yang Saya kira. Saya harus berlari untuk mengejarnya.

Saya pernah cinta yang berlebihan dan jatuh begitu dalam, tapi sekarang tidak.
Saya pernah merasa senang luar biasa ketika menyiapkan kejutan untuk orang lain, tapi sekarang mau kumpul saja rasanya malas luar biasa. Saya pernah punya kakak yang menyenangkan dan bahagia lahir batin, tapi sekarang berubah. Tak ada lagi binar dalam matanya setiap kami punya kesempatan bertemu.
Saya pernah punya adik yang hobi merengek, tapi sekarang rengekannya sudah jauh lebih bisa ditahan.

Saya pernah punya hobi belanja ini itu tanpa memikirkan tabungan mana yang mau dikuras, tapi sekarang tidak lagi (berkurang lah hobinya). Saya pernah begitu kesal karena pekerjaan terhambat dan kurang berjalan mulus, tapi sekarang cukup menyenangkan berada di tempat kerja. Terlebih karena Saya berhasil mengatasi hambatannya dengan mulus.

Kemudian Saya sungguh mengingat bahwa roda hidup memang nyata berputar. Pernah menyenangkan, maka dapat dipastikan pernah menyedihkan. Dan sebaliknya.

Hidup tidak semudah yang Saya kira, maka Saya harus terus berlari untuk mengejarnya.

Senin, 25 Juli 2016

t a t t o o

Tato adalah kesenangan. Kesenangan yang sama rasanya seperti ketika seorang kolektor menemukan barang langka, seorang Disc Jockey memainkan piringan hitam, dan ketika Anda pecinta game menemukan Pikachu di game Pokemon Go.
Rasa yang sama.

Tetap saja dipandang berbeda. Mata tajam memandang bahkan kemudian berbisik mencibir. Dikaitkan dengan depresi dan pergulatan hidup.
Masih saja ibu menangis ketika mendapati anaknya bertato.

Tak apa.

Toh Saya tetap menikmati bunyi mesin tato. Apalagi kenikmatan ketika menceritakan makna tatonya (meskipun banyak ngarangnya).
Ini kali pertama Saya punya foto dan video untuk mengabadikan tato yang Saya buat. Ini juga kali pertama tato Saya mengalami peradangan selama kurang lebih 3 minggu.

Gambarnya pita warna merah.

Saya mengidentikkan pita dengan hadiah. Tuhan memberikan Saya hidup yang baik, maka Saya ingin lebih berani memberikan hidup untuk kebaikan bagi sesama. Saya ingin menjadi hadiah untuk orang lain.



**Selamat ulang tahun, kakak kece sepanjang masa. Semoga Tuhan menambahkan bijaksana, sabar, dan ikhlas dalam hidupmu. Jangan jadi tua dan membosankan ya, mas. 26 Juli 2016.