Seketika jadilah diam
bersama segala gelisah
biarkan menyatu dan menyatu
Tentang tenang yang kadang tak mampu kita bicarakan
ditantang untuk paham dalam ketidaktenangan
Besarlah hati akan sembilu yang diperjuangkan
bersama segala gelisah
biarkan menyatu dan menyatu
Tentang tenang yang kadang tak mampu kita bicarakan
ditantang untuk paham dalam ketidaktenangan
Besarlah hati akan sembilu yang diperjuangkan
Beberapa waktu yang lalu Saya dan adik perempuan membicarakan tentang prioritas. Berawal dari kekhawatiran akan masa yang berjalan. Mengakibatkan kami semakin jarang bertemu. Ketakutan akan kesendirian dan habisnya waktu untuk sekedar saling mentertawakan. Hanya mengandalkan aplikasi untuk berkomunikasi.
Setiap kita akan memiliki prioritas yang berbeda sesuai masanya. Di bangku sekolah prioritasnya nilai - nilai akademis yang baik. Masuk dunia kerja, prioritasnya akan berubah menjadi bagaimana meningkatkan prestasi kerja. Menikah maka prioritas akan berganti lagi : fokus dan mengutamakan rumah tangga. Begitu seterusnya.
Saat ini, setelah empat tahun menikah dan akhirnya dipercaya untuk hamil, prioritas Saya perlahan berubah. Dulu Saya fokus dan memprioritaskan pekerjaan. Beberapa bulan ini Saya jadi membuat prioritas baru : fokus pada kehamilan dan segala tetek bengeknya. Iya. Prioritas itu Saya buat. Tidak dengan mudah tercipta karena Saya sudah terbiasa dengan prioritas yang sebelumnya. Apalagi Saya sangat mencintai pekerjaan Saya. Rasanya tak mudah untuk mengubah prioritas dalam hidup.
Tapi hidup yang begitu dinamis ini menuntut Saya membuat prioritas untuk mencapai bagian terbaik pada suatu masa. Tanpa memilah mana yang harus diutamakan, kehidupan Saya pasti akan berjalan tumpang tindih. Berantakan mungkin. Tidak fokus ingin melakukan apa dan harus bagaimana. Misalnya : seminggu ini pekerjaan Saya sedang sangat padat, puluhan meeting harus ditaklukkan, ribuan perdebatan harus dimenangkan. Akhir pekan menjadi waktu yang tepat untuk refreshing ke pantai, cari udara segar. Jika Saya tidak membuat prioritas, maka Saya mungkin akan memaksa diri untuk menempuh perjalanan jauh demi bertemu pinggir lautan. Sementara anak bayi di dalam perut bisa saja kelelahan karena ritme kerja Saya yang padat seminggu ini.
Itulah mengapa prioritas menjadi penting untuk Saya buat dalam hidup. Membantu Saya untuk fokus pada tujuan dan mengontrol pikiran Saya. Kadang juga berhasil membuat Saya jauh lebih tenang. Meski tak pernah mudah mengubah prioritas. Membiasakan diri dengan sesuatu yang baru. Tak mudah melepas apa yang sudah kita miliki.
Meski posisinya bisa bergeser pada beberapa kasus, tapi keluarga adalah tetap menjadi prioritas. Saya memprioritaskan keluarga dan menyembah beberapa akhir pekan untuk dihabiskan bersama. Karena mereka begitu berharga untuk Saya kesampingkan.
Terima kasih sudah menjadi prioritasku yang baru, nak. Aku menikmati setiap detik kebersamaan kita. Perkembanganmu. Perubahan bentuk tubuh dan sikapku.
Enam bulanmu ini memberi bahagia untukku. Kamu semakin aktif bergerak. Kamu merespon banyak hal. Dan menyadarkan aku betapa tak ada apa - apanya aku di mata Tuhanku.
Tumbuhlah tangguh, anakku. Aku mencintaimu.
