Kamis, 14 Maret 2013

the.lost.Jogja

Di senja sore tadi, Saya merasa ada perubahan pada Jogja. Kota kelahiran yang terus berkembang seiring sejalan dengan waktu.

Jogja mulai macet di banyak titik dan jam. Meski masih bisa juga dipakai untuk berkendara di atas 45 km/jam.
Gedung bertingkat semakin merajalela di setiap sudut Jogja. Pengusaha dan pemerintah yang semakin tak acuh dengan peningkatannya. Meski bukan tidak mungkin hanya akan menjadi gedung angker tak berfungsi akibat BEP puluhan tahun di Jogja.
Mulai berisik dengan keramaian aktivitas manusia di dalamnya, dengan kultur yang mulai tercemar. Sama seperti udaranya. Polusi. Tercemar. Rusak.

Dan Saya, salah satu manusia yang menolak "perubahan" Jogja dengan tetap duduk, menikmati senja, menanti hujan, menulis. Tanpa aksi untuk Jogja. Tidak berfungsi.




Minggu, 10 Maret 2013

blessing. rainy. day


Saat yang tepat untuk sejenak melihat ke belakang. Dua puluh lima tahun yang baik.
Bersyukur untuk orang tua yang membesarkan saya seperti ini, tumbuh sebagai anak tengah yang pemberani dan tidak kalah.
Dua puluh lima tahun yang panjang untuk menuliskan betapa kakak saya adalah malaikat penjaga terbaik. Seperempat abad yang menegangkan supaya bisa selalu ada untuk adek cantik
Empat kali ulang tahun yang dirayakan selalu dengan pujaan hati dan betapa menyenangkan setiap waktu di dalamnya.
Dua puluh lima tahun yang cepat untuk menggoreskan kenangan bersama teman dan sahabat


Terimakasih untuk usia yang bertambah dan kesempatan yang berkurang. Semoga dewasa dan bahagia terus menyertai kehidupan saya