Minggu, 17 Oktober 2021

tujuh.bersama.

Mempertahankan jalannya rumah tangga di era pandemi ini memang memiliki tantangan tersendiri. Meskipun alasanku berhenti bekerja kantoran setahun lalu memang bukan karena pandemi, tapi ternyata berdampak juga dalam rumah tangga kami. Pemasukan yang tadinya aman dua pintu, menjadi amin di satu pintu. Kerjaan sampingan yang biasanya dengan mudah kami raih untuk mengisi pundi tabungan anak - anak juga rasanya mandeg seiring pandemi yang tak henti - henti. Kebiasaanku hidup foya - foya dan bergelimang jutaan rupiah di Jogja, berganti hidup jual ini itu, cairin aset aset ini itu.

/Lhah, tapi kan orang tuamu berkecukupan, kakakmu juga punya posisi baik di tempat kerjanya./ Ya, itu kehidupan mereka. Kehidupan rumah tangga kami, ya jadi urusan kami. Meskipun setahun ini - dengan malu berkecamuk di dada - beberapa kali memang kuminta bantuan kakakku (baca : dia selalu dapat diandalkan dalam berbagai versi).

/Lha nikahmu berarti tentang uang, kalo dihajar pandemi aja kalian langsung goyah./ Nggak gitu konsepnya, Yanto! 

Ya bayanginnya gini : dulu kamu bisa nih beliin sandal anakmu dua biji sekaligus, sekarang sandalnya udah kesempitan aja kamu harus nahan untuk beliin karena uangnya harus disimpen sampai akhir bulan atau kamu kehabisan uang di tengah jalan. Kalo udah gitu, siapa yang diprotes? Suami karena gajinya mendadak kerasa kurang, atau aku karena berhenti kerja, atau pandemi?! Nggak ada yang harus diprotes. Juga tentang PPKM yang mengakibatkan terbatasnya ruang gerak. Nggak ada yang harus diprotes. Atau jadi terlalu sibuknya suami kerja demi bonusan besar. Nggak ada yang harus diprotes.

 
Nah, di tujuh tahun pernikahan kami ini, terima kasih kalian ikut hadir mewarnai. Terlebih bagiku yang mentalnya lagi rusak, yang bapernya tingkat dewa, dan sedang berjuang memastikan kami berjalan baik - baik saja. Kami memilih bertahan meski melepaskan juga pernah jadi pilihan.
 
Semoga setiap doa yang kami terima hari ini, berbalik sama untuk kalian ya. Tuhan memberkati.

Peluk cium kami,
Keluarga Cemana
tujuh tahun mbukbapack berrumah tangga
sefrekuensi, all love, always
💛

18 Oktober 2021, dan terus berjalan.

Jumat, 24 September 2021

rasa.takut.

Salah satu alasan aku tidak sepola asuh dengan Ibuku adalah beliau tidak mentolerir rasa takut yang dirasakan seorang anak. Sementara aku mengijinkan rasa takut dirasakan sebagai sebuah rasa. Sama seperti rasa berani. 

Mili itu takut sama suara yang belum dia kenal. Jinggel es potong, misalnya. Atau penari yang menari di perempatan dengan musik yang keras dan menggunakan topeng. Tapi Ibuku selalu menyangkal "kok apa - apa takut sih". Nggak jarang juga mili langsung dibawa ke sumber ketakutannya. Biasanya kalo sudah begini, aku akan ambil alih mili. Bukan tentang "ya kalo nggak dikenalin nggak berani - berani", tapi aku tahu anakku. Ketakutannya akan hal yang dianggap sepele oleh orang dewasa, biasanya akan terbawa sampai tidurnya. Mimpi. Teriak - teriak. Alih - alih mengajari cucunya melawan rasa takut, malah bisa saja menimbulkan trauma bagi anakku.

Juga atas metode mengancam yang kerap dilakukan, atau juga memberikan kalimat sindiran supaya anakku mau menurut. Aku tidak sepakat karena mili belum berada di usia bisa disindir. Misalnya "eh, jangan mandi lho ya, biar gatel - gatel aja kan". Yang ada mili akan berpikir bahwa tidak apa - apa untuk tidak mandi.

Juga tentang menyapa orang lain. Sering banget mili dipaksa salim yang sebetulnya itu nggak harus. Wajar seorang anak takut bertemu dengan orang yang belum dikenal. Tapi bagi Ibuku, itu adalah kekurangan, sehingga harus dihilangkan. Mili akan dipaksa untuk mau salim. Dan biasanya akan kurebut kembali anakku sembari bilang dengan ketus "maaf ya, om / tante / eyang, mili belum mau salim, belum pernah ketemu". Nanti Ibuku akan menimpali dengan "ini kan om ini, mosok takut, blablabla". Sebelum semakin panjang, biasanya akan kubawa pergi anakku dari situ.

Kemudian kubayangkan bagaimana beliau akan menerapkan pola asuh pada anak lelakiku : "anak cowok nggak boleh nangis", misalnya. 

Ya mungkin semua orang tua juga pernah bertingkah seperti yang Ibuku lakukan dalam mengasuh anak - anakku, tapi ijinkan aku memilih untuk menerima rasa takut yang dirasakan anak - anakku untuk pelan - pelan kujelaskan bagaimana cara mengelola rasa takutnya. Hingga pada waktunya anak - anakku akan tumbuh dengan berani menerima setiap rasa, mengungkapkan apa yang dirasakan, dan bukan memendamnya seperti yang kebanyakan orang lakukan. Terlebih untuk anak lelakiku, nggak apa - apa untuk menangis karena menakutkan sesuatu.

Keluarga Cemana 💛

Senin, 06 September 2021

olah.jiwa.

Yes, You Are!

Sebagai seorang calon penyintas (Ya Tuhan, bantuin sembuh sih) gangguan mental dan kejiwaan, ijinkan aku kembali membagikan part of my life ya. Lagi - lagi supaya kalian yang merasa setipe denganku bisa bangkit dan memiliki harapan yang sama. 

Lika - liku lukanya bisa kalian baca di blog ini juga.

Semua kepedihanku semakin menjadi kurang lebih setahun yang lalu, setelah memutuskan berhenti bekerja kantoran dan beralih profesi sebagai ibu rumah tangga yang berdagang dari rumah. Tak semudah membalikkan telapak tangan ternyata. Tekanan terbesar datang dari ibu kandungku. Pola asuh, pengangguran tak berguna dan nananinanya. Memuncak di akhir tahun 2020 dengan drama kubawa pergi anak dan suamiku (aku masih tinggal numpang sama beliau, fyi).

Please, jangan meninggalkan komentar semacam "kamu yang sabar, ngalah, gimana pun beliau orang tuamu, coba berada di posisi beliau yang mungkin hanya ingin membesarkan cucunya". Dalam sesi ini, ijinkan aku berbagi tanpa dihakimi. 

Keinginan untuk bertemu psikiater atau psikolog selalu kuurungkan. Tapi aku butuh dibantu. Tahapanku sudah berada di "aku nggak ingin berhadapan dengan ibuku". Aku lebih banyak di kamar untuk menghindari emosi - emosi yang bisa kapan saja meledak jika bersentuhan dengan tingkah beliau. Beliau ibuku, durhakalah aku jika terus menerus melawan. Pun kujaga agar tak melukai anak - anakku. Maka, kubentengi diri sendiri.

Hingga aku dipertemukan dengan seorang penyembuh. Dijelaskannyalah kondisiku yang remuk redam habis - habisan. Ragu - ragu kuijinkan treatment dilakukan jarak jauh. Aku takut bertemu diriku yang rusak. Tapi aku ingin dibantu. Aku ingin menyudahi semua kecewa dan sedihku. Tidak ingin anak - anakku merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin menjadi surga yang sembuh untuk anak - anakku.

Tangisku pecah ketika treatment dilakukan. Menyadari beberapa hal yang kusesali, sekaligus memiliki kekuatan untuk menerima keadaan, menerima bahwa part of my life belum bisa memaafkan lukanya, dan itu tidak apa - apa.

Berhari kemudian dengan sendirinya ada dorongan dalam diriku untuk menerima, bukan melarikan diri. Senyumku tetap mengembang, bahkan semakin ikhlas. Amarah yang kutahan semakin mengecil frekuensinya. Aku memiliki tujuan kali ini, fokus pada rasa bahagia dan masa depan yang ingin kuciptakan. Sembuhkah?

Perjalananku sembuh masih panjang. Kadang amarahku datang menguji. Tapi kali ini air mataku tak jatuh dan aku semakin jujur pada diri sendiri. Karena dengan mengenal diri sendiri dan membaurkan keadaan yang pahit dalam satu tujuan bahagia adalah caraku untuk sembuh (juga mendengarkan musik sebisaku). Juga diberitahu bahwa anak - anak mencintai dan mengkhawatirkan kondisiku, akan jadi pertolonganku untuk pulih.

Kalo ada yang bertanya separah apa lukaku? Parah. Aku sampe nggak kenal lagi siapa aku ini. Nggak seceria yang kalian dulu kenal, misalnya. Sering tetiba nangis sendiri. Banyak melamun (jorok, eh?!), yang bukan aku banget. Anak - anak juga terdampak. Beberapa kali kuteriaki, cubit bahkan kupukul anakku hanya karena menangis tengah malam, yang seharusnya aku sadar anakku hanyalah batita yang belum tahu bagaimana menyesuaikan diri.

Hah?! Sampe segitunya?! Iya.

Karena itu, berdoalah untukku di sela doa kalian. Milikilah harapan dan bertumbuhlah. Berhenti di aku.


Selasa, 10 Agustus 2021

tua.alami.

Seorang teman memberikan komentar melalui direct message Instagram atas unggahan story yang memperlihatkan kerutanku begitu menumpuk di wajah. Dia berkata "mbuk udah perlu pake ini nih (salah satu produk maksudnya)". Kujawab dengan sederhana : aku menjadi tua secara alami kok. Tentu dengan menyelipkan emoticon ketawa setelahnya supaya terasa cair untuknya.


Aku salah satu wanita yang tidak rutin merawat diri apalagi berdandan. Sesimpel cuci muka waktu mandi pun jarang kulakukan. Ya wajar kemudian kerutan menumpuk di usia yang semestinya. Dulu pernah perawatan di salah satu klinik karena ada jerawat batu dan dibiayain ibuku, kemudian ketergantungan krimnya. Kalau lepas satu dua hari tanpa krim, wajahku akan langsung bentol bentol merah perih panas. Beruntung ketika hamil dua tahun lalu kuhentikan konsumsi krim - krim ini. Bertahan dengan perihnya beberapa waktu. Sekarang setelah melahirkan kedua kalinya aku belum kembali menggunakan krim - krim, bahkan sekedar hand and body pun jarang kupakai. Nggak ada waktu, lebih tepatnya. Dua bayiku mengambil semua waktuku. Iya, semua. Mana ada lagi waktu untuk sekedar streching di pagi hari, apalagi pergi ke gym. Waktu untuk sekedar ngerapiin rambut pun aku belum punya. 

Jadi, semakin menjadilah penerimaanku akan diriku apa adanya, sesuai waktunya. Aku mengagumi semua wanita yang mampu merawat dirinya dengan baik. Aku pun ingin. Tapi rasanya hasratku sampai hari ini masih jatuh pada rambut nanggung diuwel - uwel, muka bentol bentol kepanasan, keringet numpuk di T area, celana pendek, kaos bolong dan sandal jepit.

Perkara nanti suami dan anak - anak protes "kok mbuk jelek sih sekarang, nggak kayak difoto ini (foto puluhan tahun yang lalu)", paling bisa dijawab : "gpp ya sekarang jelek, mbuk udah pernah muda dan mempesona e". Aku ingin menjadi tua secara alami, sesuai waktuku.


Dear, my best Maria Stella Vita,
terima kasih terus memperhatikanku dan gencar berdagang. Tulisan ini kuunggah karena kamu menginspirasi aku. Terima kasih, cub!

Minggu, 13 Juni 2021

menyapih.renjana.

Sebelum tau kalo hamil dekTama, aku nggak ada kepikiran untuk #menyapih mbakMili. Ingin kupenuhi saja kebutuhannya sampai berhenti sendiri. Tapi kemudian hamil dekTama dan dengan perut yang semakin besar rasanya engap untuk tetap menyusui mbakMili secara langsung. Usia kehamilan lima bulan waktu itu pertama kali kucoba menyapih mbakMili tapi gagal karena tidak tega dan kami kelelahan. 

Fyi, mbakMili menyusu lebih untuk membantu tidur. Pengantar tidur dan semacamnya. Kadang lama, kadang langsung ler tidur. Keseharian jarang menyusu karena asupan makannya sudah seperti manusia dewasa : susu uht, susu formula, es teh, yakult, cimory, mie rebus, nasi putih, kremesan.

Setelah diberi tahu bahwa akan ada adik, intensitas menyusunya semakin sering. Seolah takut dirampas adiknya dan kehilangan momen bersamaku. Diafirmasi : besok kalo adik udah lahir, mbakMili berhenti nen ya. Biasanya akan dijawab "iya" atau "oke". Pada kenyataannya : dekTama lahir, mbakMili makin nempel dan nangis kalo adiknya menyusu. Semakin tidak memungkinkan #menyapih saat itu.

Alhasil, kutandem di awal lahirnya dekTama. Gantian. Kalo jamnya adik menyusu, mbakMili akan dibawa bapaknya menyingkir dari kamar. Kalo mbakMili menyusu, bapak gendong dekTama. Bertahan beberapa minggu. 

Sekarang proses afirmasi masih berjalan untuk #menyapih mbakMili, sementara itu dekTama semakin akrab dengan botol dot dan beberapa kali tidak lagi mau dbf. Susu perahku tidak banyak, jadi dekTama lebih sering menyusu formula dengan botol dotnya. Sedih? Sedikit. Bagiku yang penting anak - anak tumbuh baik dan sehat, meski tidak menyusu langsung.

Beberapa minggu yang lalu tanpa dipaksa, mbakMili bisa ketiduran di mobil dipangku nantenya. Detik pertama kali kurasa ini mungkin waktunya #menyapih . Terulang sekali setelahnya, di perjalanan kami pulang dari mal. MbakMili ketiduran di gocar sambil makan Pocky, tanpa dipangku. Pun beberapa malam ini, mbakMili bisa tidur sendiri. Kebiasaannya menyusu, diganti dengan minta garuk punggung dan glundhang glundhung beberapa menit. Paling lama tiga puluh menit di malam pertama, setelahnya dua malam ini hanya butuh waktu sepuluh lima belas menit untuk sampai tertidur sendiri. Semakin dekat waktunya lepas dariku.
Belum berhasil lepas sepenuhnya memang, masih tetap menyusu di beberapa kesempatan yang tak bisa kutolak. Tapi aku bangga pada anak perempuanku ini. Atas proses yang aku tau ini tak mudah. Dia melewatinya perlahan dan semoga berhasil dengan menyenangkan nantinya. Aku juga bangga atas diriku yang mau perlahan #menyapih mbakMili, meski kadang rasa gemas muncul begitu saja :  "kemarin kan udah nggak nen, kok sekarang nen lagi, mbak". 

Dalam diriku, aku percaya anak - anakku mampu melewati setiap fase dalam hidupnya. Aku adalah orang pertama yang akan selalu berada di sampingnya saat setiap fase berganti. Aku berjanji.


Update nih 9 Agt 2021 :
Tiga malam ini mbakMili berhasil tidur sendiri tanpa menyusu. Suamiku juga sekalian mengubah metode tidur dari yang biasanya harus nonton youtube dulu, kali ini diganti dengan bercerita. Mulai dari masa kecil mili, masa kecilku, masa kecil suamiku sampai karang mengarang cerita. Ceritanya selesai, mbakMili akan gulang guling sebentar lantas kemudian tertidur dalam senandung dan kipasanku. Terbangun hanya satu kali, dipuk - puk, sst sst sst, kipasin dan tidur kembali. Bangun tidurnya pun tanpa tangis, hanya panggil "mbuk, pack". Semoga terus manis tingkahnya ya.

Kamis, 04 Maret 2021

segara.arditama.

Berkali - kali kuserahkan hidupku pada Nya, berkali lipat Dia buat baik berjalan. 

Sama seperti kehamilan pertama, kehamilan kedua ini baru kuketahui di usia janin yang sudah sembilan minggu. Tanpa mual, tanpa memberatkan. Yang berbeda kali ini kehamilanku disertai diabetes gestasional dan hipertensi. Mengharuskan aku mengkonsumsi beberapa obat yang belum pernah kutemui. Juga tentang peran baru sebagai ibu rumah tangga saja.  Ditambah kondisi mental yang sedang tidak karuan di rumah. Tapi lantas semua berjalan seperti biasanya : bangun tidur, mandi, menyiapkan anak mandi, kadang ikut jalan pagi, menemani anak pertama main, makan, tidur siang, main lagi, mandi sore, makan malam, main, bedtime, tidur. Begitu seterusnya.

Hingga. Kontrol kandungan terakhir kali berat badan janin naik drastis dan dokter menyarankan untuk dilahirkan sesar di usia 37 minggu (3 Maret). Dengan ikhlas hati kuiyakan. Kulawan takutku. Demi dia, pikirku. Sambil terus berharap Tuhan buat mukjijat supaya dia bisa lahir sesuai ingin dan waktunya saja, tanpa dipaksa.

Di tengah kawatirku, tiba - tiba saja bapakjingga harus perjalanan dinas ke Jakarta lima hari, di minggu yang sama dengan due date lahiran. Kubisikkan pada anakku untuk lahir menunggu bapak pulang. 

Dan begitulah Tuhan merenda hidupku. Jumat malam bapakjingga sampai di Jogja, Sabtu pagi jam delapan aku pecah ketuban. Berat hati kutinggalkan mbakmili.  Bukaan dua. Bukaan enam. Kali ini sungguh hampir mati rasanya. Dari bukaan enam hasrat mengejan sudah terlalu tinggi, kepala bayi sudah nongol. Baru kurasakan inilah sungguh hidup dan matiku. Garisnya tipis. Proses mengeluarkan si bayi tak semudah persalinan pertama. Hampir habis nafasku : Tuhan, aku nggak kuat. Sontak seluruh isi ruang bersalin panik, dokter, bidan bantu dorong bayi besarku lahir : 13.50 WIB secara spontan, dengan inginnya sendiri.

Tak berhenti di situ. Tali pusat terputus, plasenta belum kulahirkan. Mau tidak mau harus dibantu lahirkan dokter secara manual : diambil pakai tangan dokter masuk ke rahim. Rasanya? Mau mati kedua kali. Beberapa jam setelahnya pendarahanku dimulai. Rahim kontraksi kurang bagus karena ada obat yang tidak diberikan ketika proses persalinan tadi, mengingat hipertensi yang kuderita. Kembali tindakan dilakukan. Rasa mati ketiga kali. 

Persalinan kedua. Tubuh yang sama dengan cerita berbeda. Titik balik terbesar dalam hidupku. Berada sungguh pada ujung nyawaku, lingkaran ketakutan yang kurasa jauh hari. Aku bersaksi Tuhan baik menolongku yang hampir jatuh. Seketika pulih, kuambil gawaiku dan menuliskan kata maaf pada mereka yang mungkin kusakiti hatinya. Hanya agar lapang jalanku ke depan, bersama suami dan dua anakbaikku.

❤ Sophronius Segara Arditama Sanggaputra ❤

Anak laki - laki yang pandai menguasai diri, bijaksana serta berguna bagi sekitarnya

Lahir normal 27 Februari 2021 
Pukul 13:50 WIB
Berat badan  3,8 kg
Panjang 49 cm


Hari ini Tama puputan. Menandakan langkahnya akan semakin kuat ke depan. Semoga cinta yang kami rasakan juga menjadi bagian kebahagiaan kalian.