Senin, 06 September 2021

olah.jiwa.

Yes, You Are!

Sebagai seorang calon penyintas (Ya Tuhan, bantuin sembuh sih) gangguan mental dan kejiwaan, ijinkan aku kembali membagikan part of my life ya. Lagi - lagi supaya kalian yang merasa setipe denganku bisa bangkit dan memiliki harapan yang sama. 

Lika - liku lukanya bisa kalian baca di blog ini juga.

Semua kepedihanku semakin menjadi kurang lebih setahun yang lalu, setelah memutuskan berhenti bekerja kantoran dan beralih profesi sebagai ibu rumah tangga yang berdagang dari rumah. Tak semudah membalikkan telapak tangan ternyata. Tekanan terbesar datang dari ibu kandungku. Pola asuh, pengangguran tak berguna dan nananinanya. Memuncak di akhir tahun 2020 dengan drama kubawa pergi anak dan suamiku (aku masih tinggal numpang sama beliau, fyi).

Please, jangan meninggalkan komentar semacam "kamu yang sabar, ngalah, gimana pun beliau orang tuamu, coba berada di posisi beliau yang mungkin hanya ingin membesarkan cucunya". Dalam sesi ini, ijinkan aku berbagi tanpa dihakimi. 

Keinginan untuk bertemu psikiater atau psikolog selalu kuurungkan. Tapi aku butuh dibantu. Tahapanku sudah berada di "aku nggak ingin berhadapan dengan ibuku". Aku lebih banyak di kamar untuk menghindari emosi - emosi yang bisa kapan saja meledak jika bersentuhan dengan tingkah beliau. Beliau ibuku, durhakalah aku jika terus menerus melawan. Pun kujaga agar tak melukai anak - anakku. Maka, kubentengi diri sendiri.

Hingga aku dipertemukan dengan seorang penyembuh. Dijelaskannyalah kondisiku yang remuk redam habis - habisan. Ragu - ragu kuijinkan treatment dilakukan jarak jauh. Aku takut bertemu diriku yang rusak. Tapi aku ingin dibantu. Aku ingin menyudahi semua kecewa dan sedihku. Tidak ingin anak - anakku merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin menjadi surga yang sembuh untuk anak - anakku.

Tangisku pecah ketika treatment dilakukan. Menyadari beberapa hal yang kusesali, sekaligus memiliki kekuatan untuk menerima keadaan, menerima bahwa part of my life belum bisa memaafkan lukanya, dan itu tidak apa - apa.

Berhari kemudian dengan sendirinya ada dorongan dalam diriku untuk menerima, bukan melarikan diri. Senyumku tetap mengembang, bahkan semakin ikhlas. Amarah yang kutahan semakin mengecil frekuensinya. Aku memiliki tujuan kali ini, fokus pada rasa bahagia dan masa depan yang ingin kuciptakan. Sembuhkah?

Perjalananku sembuh masih panjang. Kadang amarahku datang menguji. Tapi kali ini air mataku tak jatuh dan aku semakin jujur pada diri sendiri. Karena dengan mengenal diri sendiri dan membaurkan keadaan yang pahit dalam satu tujuan bahagia adalah caraku untuk sembuh (juga mendengarkan musik sebisaku). Juga diberitahu bahwa anak - anak mencintai dan mengkhawatirkan kondisiku, akan jadi pertolonganku untuk pulih.

Kalo ada yang bertanya separah apa lukaku? Parah. Aku sampe nggak kenal lagi siapa aku ini. Nggak seceria yang kalian dulu kenal, misalnya. Sering tetiba nangis sendiri. Banyak melamun (jorok, eh?!), yang bukan aku banget. Anak - anak juga terdampak. Beberapa kali kuteriaki, cubit bahkan kupukul anakku hanya karena menangis tengah malam, yang seharusnya aku sadar anakku hanyalah batita yang belum tahu bagaimana menyesuaikan diri.

Hah?! Sampe segitunya?! Iya.

Karena itu, berdoalah untukku di sela doa kalian. Milikilah harapan dan bertumbuhlah. Berhenti di aku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar