Sabtu, 29 Oktober 2016

tentang.ibu.

Menulis tentang ibu rasanya tak akan ada habisnya.

Begitu banyak kenangan di kepala, tentang ibu, meski kami, terutama Saya, tidak menjadikan ibu sebagai sahabat layaknya keluarga pada umumnya.

Ibu adalah sosok pekerja keras yang bangun paling pagi dan tidur paling larut. Tak ada satu pun teman kami yang tak ibu ingat dan tak ada kegelisahan kami yang tak ibu rasakan. Begitu banyak keributan terjadi tapi tak pernah sekalipun ibu menghentikan keinginan kami untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ibu tak pernah membanggakan kami tapi tak sedikit pun mengurangi keyakinan bahwa ibu bangga akan kami.

Kami tak selalu pulang dengan keadaan baik, dan ibu mengerti. Meski terkadang juga ikut menghakimi kami, untuk kemudian mengatakan "tidak apa-apa, nak, semua akan baik-baik saja, sudah biasa".

Ibu tidak selalu menyajikan suasana yang menyenangkan tapi selalu membingkainya dengan baik.
Air mata dan doa.

Entah akan jadi ibu seperti apa nantinya, satu yang akan Saya ingat sepanjang hidup adalah cara Ibu menyerahkan semua perkara ke dalam tanganNya dan mensyukuri semua yang terjadi.

Ibu, simpuhku di kakimu pun tak akan mampu menghapus betapa keras kepalanya aku. Jangan berhenti mengirimkan pesan "di rumah hujan deres, dijemput nggak, mbak?" karena di situlah aku tahu ibu mengkhawatirkanku.

Selamat ulang tahun, ibu.








Selasa, 18 Oktober 2016

bandung.vacation

Bandung menjadi tujuan liburan kami kali ini.

Perjalanan dimulai dari Minggu pagi, 16 Oktober. Kami memilih menggunakan jasa kereta api untuk menuju ke Bandung. Lodaya pagi, kelas bisnis, budget kurang lebih Rp 300.000 untuk dua tiket.
https://tiket.kereta-api.co.id



Delapan jam perjalanan kami tempuh dengan kedinginan di kereta. AC nya mantab untuk kami yang biasa pakai kipas angin. Kereta berhenti di tasikmalaya, dan segelas mie instan pun kami beli untuk sekedar menghangatkan tubuh. Masih ada dua jam yang harus dinikmati.

16.06 WIB kami tiba di Stasiun Bandung. Langsung norak cari tulisan "Bandung" terus difoto. Sah rasanya.
Kami menuju penginapan menggunakan AA Taksi, berargo. Kami menginap di Ibis Budget Asia Afrika dengan harga Rp 635.000 untuk dua hari. Hotelnya lucu deh. Minimalis di sana sini, tepat seperti yang Saya bayangkan.



m.accorhotels.com/gb/hotel-9185-ibis-budget-bandung-asia-afrika/index.shtml

Setelah tenaga pulih kembali, malam harinya kami jalan kaki menuju Cikapundung Riverspot. Jarak dari penginapan ke Riverspot kurang lebih 10 menit, satu arah di sepanjang jalan Asia Afrika. Melewati Gedung Merdeka.



Meskipun tidak semenarik gambar-gambarnya di media sosial, tapi tidak membuat kami kecewa karena air mancurnya sempat beberapa kali kami nikmati.




Banyak jajanan di sini : mie lidi yang bumbunya merasuk sukma, tutut yang segelasnya Rp 10.000 dan belum pernah kami makan sebelumnya, juga bakso mie kocok yang seporsi Rp 35.000 tapi enaknya luar biasa.



Setelah cukup puas, kami kembali ke penginapan melewati sisi jalan yang lain. Jalan Braga. Menjadi keharusan nampaknya untuk berfoto di dekat palang jalannya. Jl. BRAGA, seperti halnya dengan Jl. MALIOBORO.






Hari kedua, Senin 17 Oktober tujuan kami Trans Studio Bandung. Dari penginapan kami menggunakan jasa Uber. Pertama kalinya dan menjadi transportasi andalan kami selama berada di Bandung. Tidak lebih dari Rp 20.000 untuk perjalanan kurang lebih 15 - 20 menit. Mendadak norak melihat megahnya hotel, mall dan theme park Trans Studio.



Tiket masuk theme park Rp 170.000 / orang. Harga ini sudah untuk semua wahana yang ada di dalamnya, kecuali food court. Food court di theme park menggunakan sistem isi ulang pada kartu tiket. Isi ulang dapat dilakukan pada loket yang tersedia di dalam theme park.

Hampir semua wahana kami coba, mulai dari Yamaha Coaster, Superhero Studio, Dunia Bolang, sampai Dunia Lain. Tiga wahana kami lewatkan : The Pirates yang basah-basahan, Vertigo, dan Giant Swing. Kami kehabisan nyali setelah mencoba coaster sebelumnya.












Kami kembali ke penginapan setelah berkeliling Trans Studio Mall yang berada satu komplek dengan theme park. Masih menggunakan jasa Uber, tentunya.

Malam hari kami makan di warung C Mar. Menggunakan jalur jalan yang sama dengan hari pertama. Riverside sepi karena ini hari kerja. Tidak ada jajanan seperti hari Minggu kemarin. C Mar terkenal di kalangan orang malam, katanya, karena mereka buka dari jam 6 sampai subuh. Menunya nasi, sayur, lauk, layaknya warung ramesan atau warteg. Cuma harganya mengagetkan kami : Rp 60.000 untuk 2 nasi sayur, satu ati, oseng usus, 2 krupuk dan 2 es jeruk. Kalo di Jogja, harga segitu bisa untuk traktir anak sekantor jajan di angkringan.

Hari terakhir ini kami habiskan di penginapan. Bangun siang mendekati jam check out. Kemudian menuju Paris Van Java, menggunakan uber. Jarak dari penginapan kami menuju Paris Van Java kurang lebih 20 - 25 menit, sedikit lebih jauh dari Trans Studio. Biaya Uber Rp 49.500. Beberapa brand di sini sudah ada di Jogja, cuma displaynya sungguh membuat mata Saya betah ada di sini. Apalagi wanita di Bandung yang cantik-cantik banyak ada di sini.
Tujuan terakhir kami adalah Kartika Sari. Beli buah tangan untuk berbagi bahagia kami. Molen keju, molen coklat, sempe almond, dan kripik singkong. Kisaran harga Rp 15.000 - Rp 65.000. Selesai di Kartika Sari, kami berjalan kaki menuju Stasiun Bandung untuk perjalanan pulang ke Jogja menggunakan kereta Lodaya Malam jam 18.55 WIB.

Liburan kami berakhir hari ini. Besok pagi kami tiba kembali di Jogja dan rutinitas kembali bergulir. Cukup untuk kami nikmati berdua. Sampai jumpa tahun depan, kesenangan. 18102016.







Ps :
Kamis malam ini kami punya makan malam seru. Beberapa teman hadir dan membuat kami sungguh merasa bahagia. Terima kasih.
















Jumat, 14 Oktober 2016

wanita.rela.

Rela menjadi wanita yang 180 derajat hidup dengan sisi lain.

Aku rela tidak angkat berat dan mengurangi kecepatan. Rela tidak berkata kasar dalam candaan. Rela menjauhi kopi yang begitu Aku cintai sebelumnya. Rela makan sehat yang sebelumnya bahkan tak pernah tersentuh mulutku. Rela menciumi banyak bayi lain hanya untuk memuaskan rasa rinduku padamu.
Aku rela berkali-kali meneteskan air mata saat mendapati garis testpack melulu hanya satu. Aku rela.

Hingga kerelaanku terhenti, aku lupa bagaimana caranya berserah. Aku begitu sibuk mengukur kerelaanku. Demi (adanya) kamu.



Ps : ini ditulis satu hari sebelum kami (akhirnya) liburan dan mengusahakan cara lain untuk berserah.