"Mereka yang kelaparan tidak akan mempedulikan keadilan. Mereka hanya akan peduli bagaimana mengisi perut sendiri".
Kalimat itu ada dalam salah satu adegan film Foxtrot Six. Diucapkan oleh Wisnu sebagai kepala pasukan partai yang membantu pemerintah memanipulasi kondisi di negara saat itu kepada Angga seorang anggota dewan yang akhirnya membantu kelompok bawah tanah mengungkapkan keadilan.
Sadar atau tidak, atau pura - pura tidak, cerita dalam film ini terasa dekat dengan kehidupan manusia. Di sekitar Saya dan Anda. Dekat dan lekat. Terutama menjelang Pemilu Presiden 2019 pada April nanti, puluhan kasus dihembuskan untuk saling menjatuhkan, tingkat sensitifitas meningkat, janji - janji dihembuskan seolah memberi angin segar kepada mereka yang kelaparan. Menakutkan.
Mereka yang haus kekuasaan dan pujian hidup dengan menguasai orang lain. Caranya halus dan manis : memenuhi kebutuhan mereka yang lapar. Sementara yang lapar, tak peduli bagaimana cara kekuasaan diperoleh, selama mereka tak mati kelaparan. Lupa bahwa hidup mereka dikuasai penguasa keji dan serakah yang menimbulkan kelaparan itu sendiri. Lupa akan serigala yang bisa berbulu domba.
Mereka yang haus kekuasaan dan pujian hidup dengan menguasai orang lain. Caranya halus dan manis : memenuhi kebutuhan mereka yang lapar. Sementara yang lapar, tak peduli bagaimana cara kekuasaan diperoleh, selama mereka tak mati kelaparan. Lupa bahwa hidup mereka dikuasai penguasa keji dan serakah yang menimbulkan kelaparan itu sendiri. Lupa akan serigala yang bisa berbulu domba.
Injil minggu ini pun rasanya pas dengan film Foxtrot Six yang baru saja Saya tonton : "Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu" (Luk 6 : 39 - 45).
Tapi Saya meyakini, bagaimana dan berapa lama pun diperjuangkan, keadilan akan datang dengan cara yang sudah ditetapkan.