(Berandai-andai punya anak esok hari)
Aku menuliskan ini supaya kamu tahu betapa aku ingin kamu tumbuh dengan baik menurut sudut pandang kami (ayah dan ibumu).
Nak, aku tidak dibesarkan dalam keluarga yang kaya raya dan harmonis. Masa kecilku cukup. Cukup sebagaimana mestinya seorang anak tumbuh. Main boneka, masak-masakan pakai daun dan tanah, belajar naik sepeda, berenang dan berebut mainan dengan sebayaku. Aku akan mengajarkan kamu bermain selayaknya anak di usiamu. Di sela waktumu bermain, aku akan mencontohkan kepadamu tentang berbagi. Aku ingin kamu menjadi generasi yang lebih ingin memberi daripada menerima.
Dengan memperlihatkan kepadamu indahnya berbagi, aku berharap kepekaan dalam dirimu akan tumbuh dan mengakar. Iya, nak, aku ingin kamu menjadi generasi yang peka. Peka akan lingkungan di sekitarmu dan segala mahkluk di dalamnya. Peka akan menjadikan kamu manusia yang bisa menghargai hidup. Peka juga bisa menjadikan hidupmu penuh kasih. Kasih yang tulus ikhlas.
Tentang kasih atau lebih akrab aku ucapkan -cinta- akan kutunjukkan di masa remajamu. Cinta kepada lawan jenis akan kamu rasakan pertama kali, nak, meski aku tidak tahu harus merasa apa jika kelak mendapati kamu jatuh cinta. Itu akan jadi moment pertama aku mempersiapkan diri kehilangan kamu dan segala cintamu kepadaku. Bagikan cinta secukupnya karena cinta akan membuatmu mati jika dibagikan secara berlebihan. Bagikan cinta sama rata, sama rasa untuk pasanganmu, untuk pendidikanmu, untuk masa depanmu, untuk teman dan saudaramu. Dan sisakan sedikit untukku.
Di masa dewasamu, aku akan menambahkan sedikit tentang menjadi generasi yang kuat. Bukan angkuh dan kasar, nak. Aku ingin kamu melihat kehidupan dari segala sisi sebelum kamu menilai. Aku ingin kamu tahu rasanya jatuh dan kemudian bangkit lagi. Aku ingin kamu merasakan sakit untuk kemudian tahu caranya sembuh. Aku ingin kamu menjadi rasa aman untuk segala ketakutan di bumi ini. Aku ingin kamu bisa diandalkan.
Semoga pengalaman hidupku 27 tahun ini cukup menjadi bekalku membesarkanmu, kelak.
Aku menuliskan ini supaya kamu tahu betapa aku ingin kamu tumbuh dengan baik menurut sudut pandang kami (ayah dan ibumu).
Nak, aku tidak dibesarkan dalam keluarga yang kaya raya dan harmonis. Masa kecilku cukup. Cukup sebagaimana mestinya seorang anak tumbuh. Main boneka, masak-masakan pakai daun dan tanah, belajar naik sepeda, berenang dan berebut mainan dengan sebayaku. Aku akan mengajarkan kamu bermain selayaknya anak di usiamu. Di sela waktumu bermain, aku akan mencontohkan kepadamu tentang berbagi. Aku ingin kamu menjadi generasi yang lebih ingin memberi daripada menerima.
Dengan memperlihatkan kepadamu indahnya berbagi, aku berharap kepekaan dalam dirimu akan tumbuh dan mengakar. Iya, nak, aku ingin kamu menjadi generasi yang peka. Peka akan lingkungan di sekitarmu dan segala mahkluk di dalamnya. Peka akan menjadikan kamu manusia yang bisa menghargai hidup. Peka juga bisa menjadikan hidupmu penuh kasih. Kasih yang tulus ikhlas.
Tentang kasih atau lebih akrab aku ucapkan -cinta- akan kutunjukkan di masa remajamu. Cinta kepada lawan jenis akan kamu rasakan pertama kali, nak, meski aku tidak tahu harus merasa apa jika kelak mendapati kamu jatuh cinta. Itu akan jadi moment pertama aku mempersiapkan diri kehilangan kamu dan segala cintamu kepadaku. Bagikan cinta secukupnya karena cinta akan membuatmu mati jika dibagikan secara berlebihan. Bagikan cinta sama rata, sama rasa untuk pasanganmu, untuk pendidikanmu, untuk masa depanmu, untuk teman dan saudaramu. Dan sisakan sedikit untukku.
Di masa dewasamu, aku akan menambahkan sedikit tentang menjadi generasi yang kuat. Bukan angkuh dan kasar, nak. Aku ingin kamu melihat kehidupan dari segala sisi sebelum kamu menilai. Aku ingin kamu tahu rasanya jatuh dan kemudian bangkit lagi. Aku ingin kamu merasakan sakit untuk kemudian tahu caranya sembuh. Aku ingin kamu menjadi rasa aman untuk segala ketakutan di bumi ini. Aku ingin kamu bisa diandalkan.
Semoga pengalaman hidupku 27 tahun ini cukup menjadi bekalku membesarkanmu, kelak.