Senin, 30 Maret 2015

tentang.kita.

Tiga hari yang lalu eyang putri Saya sedo. Mendapat kabarnya di tengah meeting, campur aduk rasanya. Tanggungjawab pekerjaan dan keinginan segera berada di Purworejo harus berjalan sama imbangnya. Saya memutuskan tetap meneruskan meeting (meskipun Saya gag penting-penting amat sih) dan berangkat ke Purworejo sorenya.

Kesedihan Saya memuncak saat misa. Seketika saja kenangan akan uti melintas. Deru tangis tak henti. Ingin rasanya kembali di masa uti sehat dulu. Setiap kumpul keluarga pasti ada sangu yang dibagikan untuk cucu cicit. Selalu ada canda tawa dan gurauan. Nasehat yang terselip di tutur katanya. Sampai saat uti jatuh sakit. Stroke.

Uti mengajarkan Saya (dan kami) tentang banyak hal, terutama tentang kasih. Keluarga kami memiliki anggota yang besar. Uti melahirkan 12 putra-putri. Bisa dibayangkan ya sebesar apa keluarga kami. Sesering apa pun kami bisa berkumpul, pasti akan selalu menyenangkan dan hangat. Saya bersyukur untuk kasih yang uti tanamkan dalam keluarga besar kami.
Kasih ini juga yang Saya yakini membawa abang kecil hadir di tengah kami. Saya menyebutnya - mukjizat. Hampir sebelas bulan kami tidak bisa melihat perkembangannya, mendengar kabarnya pun jarang. Kerinduan kami bahkan mungkin sudah tidak tergambarkan. Penghiburan.

Abang kecil, ontis kehabisan kata saat tangan abang bisa ontis pegang lagi, saat melihat abang tertawa, saat mendengar abang menangis karena kantuk dan lapar, saat semua mata dan kasih sayang kami tercurah ke abang. Uti uyut pasti seneng bisa mempertemukan lagi kami dan abang. Nanti ontis yang ceritakan tentang uti uyut (dan kung uyut) ke abang ya. Tumbuh sehat dan pinter setiap hari ya, bang. Ontis already miss you.

Kali ini Saya bersaksi, Tuhan yang Saya puji dengan cara Saya sudah mengabulkan doa Saya. Satu per satu.







Senin, 23 Maret 2015

jogja.hilang.istimewa

Kemarin pengalaman Saya bertambah. Diminta mewakili atasan untuk datang ke forum audiensi "berat" yang mendorong Saya untuk menulis kali ini.

J o g j a

Perusahaan tempat Saya bekerja sekarang ini sedikit banyak (mau tidak mau) bergerak di bidang pariwisata. Pergerakannya berbanding lurus dengan dunia pariwisata. Bahkan kemudian disematkan sebagai cinderamata khas Djokdja, disandingkan dengan gudeg, bakpia dan batik.

Bergerak di dunia ini, membuat Saya (dan kami) wajib peduli dan ikut bergerak melawan pemerintah kota yang belakangan mengeluarkan kebijakan uji coba sterilisasi wilayah Kraton dari bus pariwisata. Sterilisasi Kraton melarang bus pariwisata parkir di Kraton (area dalam benteng).

Kemarin Saya ikut (semacam) audiensinya, pertama kali berada dalam diskusi se"berat" ini. Pelaku wisata (kami) di sekitar Kraton merasa ada yang salah dengan uji coba sterilisasi Kraton ini. Uji coba yang dilakukan pemerintah kota diterapkan tanpa mencantumkan masa uji coba sampai berapa lama dan seolah tidak mendengar evaluasinya. Saya pribadi yakin bahwa pemerintah kota sudah mendengar banyaknya keluhan dari uji coba ini. Dampak yang pasti adalah menurunnya wisatawan yang datang. Pemasukan kami menurun drastis. Gesekan terjadi antara pelaku wisata dengan preman pungli. Ini bukan rahasia lagi belakangan. Dan sedihnya, uji coba ini diteruskan bukan atas ijin Kraton Yogyakarta. Bahkan Gusti Hadi sudah mengeluarkan surat kepada walikota untuk evaluasi uji coba yang berlangsung, tapi tidak direspon.

Pemerintah kota seolah menutup mata dan telinga. Mungkin karena ada keuntungan lain yang didapat. Seperti biasa. Kepentingan pribadi di atas segalanya. Padahal nih, kalau mau membuka mata sedikit lebih lebar, dampak dari uji coba ini memberikan rasa tidak nyaman bukan hanya bagi pelaku wisata tapi juga wisatawan. Lambat laun wisatawan akan merasakan sulitnya berwisata di Jogja. Matilah kami. Matilah wisata di Jogja. Matilah Anda.
Saya senang berkesempatan ada di forum kemarin siang. Mengajari Saya arti berjuang, bertahan hidup. Beragam caranya. Apapun resikonya. Memilih untuk benar atau mengambil jalan yang salah dan mudah. Siapapun manusia di belakang walikota kami, semoga Tuhan membuka pintu hatinya. 
Untuk Ngayogyakarta Hadiningrat.

"Kok dadi, preman gentayangan nang Jogja. Walikota ne sing pethuk"



Rabu, 11 Maret 2015

i am alive

11 Maret 2015

Bertambahnya usia. Berkurangnya waktu.

Terima kasih, Tuhan, atas segala berkat dan suka cita dalam hidup. Atas segala rasa yang datang berganti. Atas rejeki yang Kau alirkan cukup. Atas setiap hari dengan pengalaman baru. Atas keluarga dan teman yang begitu luar biasa.

Mudahkan langkah ini untuk terus bermimpi. Tambahkan pengetahuan dan kesabaran. Besarkan hati ini lebih dan lebih. Mampukan diri ini menjadi perpanjangan tanganMu setiap hari.

Syukur ini tak pernah berkesudahan untuk 27 tahun penuh warna dan cinta. Romantisnya cara Ibu dan Ayah memberikan kado. Kakak yang rela melukis lengannya spesial untuk Saya. Adek cantik yang menyebalkan dengan whatsapp 'pibezday.bhay'. Suami yang sudah empat kali mengucapkan selamat ulang tahun dalam sehari ini, tanpa doa yang terucap. Begitu banyaknya teman dikirimkan untuk meramaikan hidup Saya. Dan membuat Saya bahagia (sudah) 27 tahun ini.

Meskipun tidak mudah untuk memyebut satu per satu tapi Saya berusaha. Terima kasih, mamah, papah, mas Bonna, dek Ellen, mas Jingga, ibu, bapak, Pradha, Vio, dek Krisna, Skedul, mbak Lucie, te Nuk, te Wisye, Ndanda, mas Bayu, cece - mas Wira dan Zora, Sakti, Gemma - kak Rheva - dek Gea, Cubi - mas Elmo, Weni, Endah, Hila, Pakdhe Hary, Eva, Jenny, mbak Itak, Wandan, Meila, Renny, Candra, Ucha, 'a Ceper, Juara, Tami, bu Wiwik, pak Fhafha, mas Anton, pak Di, mas Fuad, mas Handri, mbak Ana, mbak Ocha, mbak Ettaq, mas Bima, mas Nova, mas Edo, Mami Aina, mbak Lia, Vera, Novi, Lian, om Erwin, cik Audy, Ibnu, Mirza, Satya, mas Prazt, Tora, mbak Agra, mbak Maya, mas Gundhi, mbak Lisa Christie, mbak Fauzta, mas Saptono, Tirin, mbak Tatik, ibuk Selvi dan (ya oke) semua teman yang mengingat hari kapan Saya dilahirkan, 27 tahun yang lalu.