Senin, 23 Maret 2015

jogja.hilang.istimewa

Kemarin pengalaman Saya bertambah. Diminta mewakili atasan untuk datang ke forum audiensi "berat" yang mendorong Saya untuk menulis kali ini.

J o g j a

Perusahaan tempat Saya bekerja sekarang ini sedikit banyak (mau tidak mau) bergerak di bidang pariwisata. Pergerakannya berbanding lurus dengan dunia pariwisata. Bahkan kemudian disematkan sebagai cinderamata khas Djokdja, disandingkan dengan gudeg, bakpia dan batik.

Bergerak di dunia ini, membuat Saya (dan kami) wajib peduli dan ikut bergerak melawan pemerintah kota yang belakangan mengeluarkan kebijakan uji coba sterilisasi wilayah Kraton dari bus pariwisata. Sterilisasi Kraton melarang bus pariwisata parkir di Kraton (area dalam benteng).

Kemarin Saya ikut (semacam) audiensinya, pertama kali berada dalam diskusi se"berat" ini. Pelaku wisata (kami) di sekitar Kraton merasa ada yang salah dengan uji coba sterilisasi Kraton ini. Uji coba yang dilakukan pemerintah kota diterapkan tanpa mencantumkan masa uji coba sampai berapa lama dan seolah tidak mendengar evaluasinya. Saya pribadi yakin bahwa pemerintah kota sudah mendengar banyaknya keluhan dari uji coba ini. Dampak yang pasti adalah menurunnya wisatawan yang datang. Pemasukan kami menurun drastis. Gesekan terjadi antara pelaku wisata dengan preman pungli. Ini bukan rahasia lagi belakangan. Dan sedihnya, uji coba ini diteruskan bukan atas ijin Kraton Yogyakarta. Bahkan Gusti Hadi sudah mengeluarkan surat kepada walikota untuk evaluasi uji coba yang berlangsung, tapi tidak direspon.

Pemerintah kota seolah menutup mata dan telinga. Mungkin karena ada keuntungan lain yang didapat. Seperti biasa. Kepentingan pribadi di atas segalanya. Padahal nih, kalau mau membuka mata sedikit lebih lebar, dampak dari uji coba ini memberikan rasa tidak nyaman bukan hanya bagi pelaku wisata tapi juga wisatawan. Lambat laun wisatawan akan merasakan sulitnya berwisata di Jogja. Matilah kami. Matilah wisata di Jogja. Matilah Anda.
Saya senang berkesempatan ada di forum kemarin siang. Mengajari Saya arti berjuang, bertahan hidup. Beragam caranya. Apapun resikonya. Memilih untuk benar atau mengambil jalan yang salah dan mudah. Siapapun manusia di belakang walikota kami, semoga Tuhan membuka pintu hatinya. 
Untuk Ngayogyakarta Hadiningrat.

"Kok dadi, preman gentayangan nang Jogja. Walikota ne sing pethuk"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar