Tiga hari yang lalu eyang putri Saya sedo. Mendapat kabarnya di tengah meeting, campur aduk rasanya. Tanggungjawab pekerjaan dan keinginan segera berada di Purworejo harus berjalan sama imbangnya. Saya memutuskan tetap meneruskan meeting (meskipun Saya gag penting-penting amat sih) dan berangkat ke Purworejo sorenya.
Kesedihan Saya memuncak saat misa. Seketika saja kenangan akan uti melintas. Deru tangis tak henti. Ingin rasanya kembali di masa uti sehat dulu. Setiap kumpul keluarga pasti ada sangu yang dibagikan untuk cucu cicit. Selalu ada canda tawa dan gurauan. Nasehat yang terselip di tutur katanya. Sampai saat uti jatuh sakit. Stroke.
Uti mengajarkan Saya (dan kami) tentang banyak hal, terutama tentang kasih. Keluarga kami memiliki anggota yang besar. Uti melahirkan 12 putra-putri. Bisa dibayangkan ya sebesar apa keluarga kami. Sesering apa pun kami bisa berkumpul, pasti akan selalu menyenangkan dan hangat. Saya bersyukur untuk kasih yang uti tanamkan dalam keluarga besar kami.
Kasih ini juga yang Saya yakini membawa abang kecil hadir di tengah kami. Saya menyebutnya - mukjizat. Hampir sebelas bulan kami tidak bisa melihat perkembangannya, mendengar kabarnya pun jarang. Kerinduan kami bahkan mungkin sudah tidak tergambarkan. Penghiburan.
Abang kecil, ontis kehabisan kata saat tangan abang bisa ontis pegang lagi, saat melihat abang tertawa, saat mendengar abang menangis karena kantuk dan lapar, saat semua mata dan kasih sayang kami tercurah ke abang. Uti uyut pasti seneng bisa mempertemukan lagi kami dan abang. Nanti ontis yang ceritakan tentang uti uyut (dan kung uyut) ke abang ya. Tumbuh sehat dan pinter setiap hari ya, bang. Ontis already miss you.
Kali ini Saya bersaksi, Tuhan yang Saya puji dengan cara Saya sudah mengabulkan doa Saya. Satu per satu.
Kesedihan Saya memuncak saat misa. Seketika saja kenangan akan uti melintas. Deru tangis tak henti. Ingin rasanya kembali di masa uti sehat dulu. Setiap kumpul keluarga pasti ada sangu yang dibagikan untuk cucu cicit. Selalu ada canda tawa dan gurauan. Nasehat yang terselip di tutur katanya. Sampai saat uti jatuh sakit. Stroke.
Uti mengajarkan Saya (dan kami) tentang banyak hal, terutama tentang kasih. Keluarga kami memiliki anggota yang besar. Uti melahirkan 12 putra-putri. Bisa dibayangkan ya sebesar apa keluarga kami. Sesering apa pun kami bisa berkumpul, pasti akan selalu menyenangkan dan hangat. Saya bersyukur untuk kasih yang uti tanamkan dalam keluarga besar kami.
Kasih ini juga yang Saya yakini membawa abang kecil hadir di tengah kami. Saya menyebutnya - mukjizat. Hampir sebelas bulan kami tidak bisa melihat perkembangannya, mendengar kabarnya pun jarang. Kerinduan kami bahkan mungkin sudah tidak tergambarkan. Penghiburan.
Abang kecil, ontis kehabisan kata saat tangan abang bisa ontis pegang lagi, saat melihat abang tertawa, saat mendengar abang menangis karena kantuk dan lapar, saat semua mata dan kasih sayang kami tercurah ke abang. Uti uyut pasti seneng bisa mempertemukan lagi kami dan abang. Nanti ontis yang ceritakan tentang uti uyut (dan kung uyut) ke abang ya. Tumbuh sehat dan pinter setiap hari ya, bang. Ontis already miss you.
Kali ini Saya bersaksi, Tuhan yang Saya puji dengan cara Saya sudah mengabulkan doa Saya. Satu per satu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar