Senin, 04 Juli 2022

Teori Kardus

Kemarin Sabtu kami akhirnya membawa militama ke dokter anak untuk cek penyebab naik turun suhu tubuhnya selama total lima hari. Diminta tes darah karena tidak ada penyakit penyerta, murni cuma demam naik turun selama lima hari.

Proses ambil darahnya yang mau kutuliskan. Tama giliran pertama karena Mili nangis kejer waktu namanya dipanggil untuk ambil darah. Fyi, Mili hapal betul setiap ruang di rumah sakit ini. 

Tama juga menangis selama proses pengambilan sampel darah. Setelah semuanya selesai, tangisnya mereda. Giliran Mili. Menuju masuk ruang pengambilan sampel darah masih nangis, tapi begitu tenang selama proses pengambilan darah. Entah karena memang sudah tenang atau terpaksa tenang karena kubilang 'setelah ini, kita beli Ariel, mau?'. Ambil darahnya Mili itu susah, bund, fyi. Dari bayi selalu dua tiga kali percobaan setiap darahnya harus diambil. Dan darahnya susah keluar. Sedikit sekali.

Kembali ke topik. 

Kukira Mili lupa dengan iming - iming yang kutawarkan agar mau diambil darahnya tadi. Ternyata ingat dan menagih tawaranku. Kami belikan mainan yang dipilih (bukan Ariel seperti tawaranku, tentunya, karena Gemini kecil memang mudah berpindah pilihan).

Sampai rumah, mainan dibuka dan Tama mulai rusuh. Kardus mainan disobek - sobek. Mili ikutan rusuh karena kardus mainannya disobek. Bapackjingga inisiatif menyatukan lagi kardus yang sobek - sobek menggunakan double tip dari sisi dalam kardua. Kurang kokoh tenyata. Kutambahkan isolasi dari luar, inisiatifku. Tidak  kembali sempurna, tapi Mili tenang dan Tama senang ada media untuk disobek kembali lain kali.


Seperti inisiatif kami dalam memperbaiki kardus yang sobek. Begitulah rumah tangga kami dibangun. Ada yang berusaha menutup dari dalam, ada yang bertugas menutup bagian luar supaya lebih kokoh dan tetap utuh terlihat.

Dua nih poinnya. Satu, mendidik anak dengan iming - iming itu boleh dilakukan jika dirasa perlu. Dua, siapkan banyak isolasi dan double tip dalam rumah tangga supaya hanya rumput hijau yang dilihat tetangga. 


🤍 mbuk