Senin, 13 Oktober 2025

Waktu. Berjalan.

Aku dan kamu mungkin sedang berada dalam situasi yang sama. Menantikan doa - doa terwujud. Kebingungan jalan mana yang harus ditempuh. Dan bahkan mengkhawatirkan bagaimana sebuah perkara akan berakhir dengan baik.

Kadang kita ingin cepat saja melihat endingnya. Tapi ternyata prosesnya memang tak melulu mudah. Dalam bagianku kali ini, aku bersaksi Tuhan baik. 

Beberapa tahun lalu aku dijatuhkan gubrak. Untuk bangkit pun rasanya sulit. Bahkan hingga detik ini, ketika pertolonganNya sedikit demi sedikit kurasakan, rasa bersalah masih kerap menguasaiku. Karena tak mudah nyatanya menerima diri bahwa kita melakukan kesalahan fatal, menyusahkan banyak orang.

Tapi, sungguh, Tuhan baik. Mengirimkan kalian, memberi kami peluang demi peluang untuk dikerjakan dan mengijinkan aku lebih baik dalam berjalan.

Terima kasih 🤍








Selasa, 11 Februari 2025

mental.issue.

Postinganku hari ini ingin menyentuh bahasan kesehatan mental. Siap - siap ya.

Foto pertama adalah sisi paling membahagiakan dalam hidupku yang selalu dengan bangga kupertontonkan. Sedang foto selanjutnya adalah realita bagaimana aku bergelut dengan emosi yang tak stabil (sebagai seorang Ibu). Cerita lain bisa kalian cari tahu di blog - ku atau nanti ya nunggu ebooknya siap terbit. Amin.





Bahwa pada kenyataannya, setelah aku menyatakan berdamai dengan diri sendiri beberapa tahun lalu, awal - awal Mili lahir, aku tak benar - benar berdamai. Mungkin saja masih ada yang kupendam dan tak kulepaskan dengan sungguh lepas di kedalamannya. Kalian tahu bagaimana situasi dengan Ibu saat itu. Just scroll all the away ya hehehe..

Kali ini aku kembali berhadapan dengan kesehatan mental yang kurasa lebih parah merusak aku (yang belum kusepakati ada apa dalam diriku karena proses konselingku belum berakhir dan belum ada diagnosa yang kuperoleh untuk menjelaskan kondisiku). Titik lemahnya berhubungan dengan uang. Aku main pinjaman online dua tahun belakangan dan mereka bilang mungkin saja aku kecanduan, merasa mudah dapat uang, sementara belakangan kondisi keuanganku memang kacau balau, terlebih setelah suamiku kena PHK pertengahan tahun 2024 kemarin. Kondisi menjadi kacau sekacau - kacaunya sepanjang umurku tiga puluh enam tahun. 

Hidupku tidak hedon, kalian pasti tahu. Hanya mengalir saja aku mendadak merasa ketakutan ketika uang tidak berada dan diam manis di rekening. Aku takut bagaimana jika uang - uang ini kemudian habis, sementara hutang untuk menutup pinjol juga harus diselesaikan. 

Rasa bersalah memenuhi hidupku ketika harus jujur ke keluarga dan kerabat. Terlebih ke suami. Momen paling pahit dalam hidupku. 

Dan sungguh, aku mengerti kesehatan mental bukan melulu berkaitan dengan kondisi finansial. Ada uang, mental kita sehat dan sebaliknya. Jauh lebih dalam dari itu. Tapi yang terlihat di permukaan, jelas hanya gambaran linier tentang kesehatan mental dan uang. 

Dalam kasusku kali ini, mungkin saja emosiku tidak stabil karena rasa bersalahku yang berlebihan, bukan lagi tentang bagaimana jika aku tidak lagi punya uang (karena aku perlahan meyakini bahwa uang akan kembali menyukaiku), atau bagaimana jika hutangku tidak lagi bisa kubayar. Bukan lagi tentang bagaimana jika ini dan jika itu terjadi. Kali ini ujian kesehatan mentalku kulabeli lebih berat. Karena aku berurusan dengan rasa bersalah yang setiap hari menggerogoti isi kepala. Rasa bersalah telah menyusahkan hidup keluarga dan kerabatku. Beban yang akan kubawa mati jika tak dapat kuterima keberadannya dengan baik.

Belum selesai sampai di sini. Perjuanganku selanjutnya adalah dengan baiknya Tuhan memberiku jalan untuk kembali memperbaiki kondisiku. Aku dapat lagi pekerjaan, hanya saja kali ini aku harus kembali kerja di kantor, Senin - Sabtu, jam delapan sampai lima sore. Satu sisiku ingin sekali bersyukur karena dengan pekerjaan ini aku bisa menambah penghasilan (rekening tak lagi kosong), sisi mental finansialku akan perlahan tenang. Tapi di satu sisi lagi terkoyak. Batinku seakan belum mampu meninggalkan mili dan tama di rumah beberapa jam selagi aku dan suami bekerja. Pikiranku bertambah penuh. Bagaimana jika A, bagaimana jika B, tapi aku harus mengambil pilihan ini sekarang. Belum ada pilihan lain, entah besok atau dua tiga hari lagi, jika Tuhan ingin tunjukkan kuasaNya padaku sehingga aku tetap bisa punya penghasilan yang besar dan tetap bisa membersamai mili dan tama. Amin.

Pada intinya,
Benar sejak Minggu (kutulis ini hari Rabu), aku sudah tiga kali marah besar, kata - kata tak beraturan, tatap mata kurasa sudah merah membara. Aku sedang kesulitan mengontrol emosiku, aku bisa saja melukai mili dan tama. Dan kali ini aku berharap tak akan ada hal buruk yang terjadi. Karena aku masih punya banyak mimpi untuk diraih. Karena aku hebat dan berharga. Karena aku punya keluarga dan kerabat yang luar biasa. Dan aku punya kalian yang selalu ada untuk sekedar menanyakan kabarku dan memastikan aku bisa menerima kondisi pahitku saat ini. Terima kasih. Dan tolong terus ingatkan aku untuk tetap jadi orang yang baik.






 

Jumat, 28 Juni 2024

segelintir.harapan.

Sebagai seorang pencerita, ijinkan aku menyajikan kesaksian betapa baik Tuhan mengatur hidupku. Beberapa dari kalian mungkin sudah mendengar kabar tentang bapackjingga yang kehilangan pekerjaannya di akhir bulan Mei kemarin. Seperti kabar buruk di siang bolong, katanya : "Mbuk, maaf ya, aku dipanggil juga untuk one on one sama CEO".


Hati istri mana yang tak gundah ketika mendengar kalimat itu. Di tengah gempuran kondisi perekonomian rumah tangga kami yang saat ini sedang tiarap. Menjadi bertubi - tubi karena mungkin kami lengah dan terlena akan kehidupan yang berjalan lempeng. Kondisi yang tak terduga akan singgah dalam rumah tangga kami. Tapi detik itu, kutarik sudut senyum di bibirku, tetap menyemangati kepala rumah tangga yang kutahu hatinya juga tak menentu. Perusahaan harus melakukan restrukturisasi demi tetap berjalan. Dan kami memahami. Bukankah perusahaan bukan hanya tentang kami saja?!


Kami mengambil jeda. Hingga membuat perhitungan yang lebih detil tentang bagaimana kehidupan berjalan sampai (paling tidak) bapackjingga kembali dipercaya untuk bekerja kantoran lagi dan mengisi pundi dalam rumah tangga kami. Mili harus tetap bayar uang sekolah tahunannya. Tama harus tetap les drum seperti inginnya. Dan kami harus tetap makan biar kenyang. Hasilnya, tabungan kami hanya akan bertahan tiga sampai empat bulan setelah surat keputusan pemutusan hubungan kerja diterima. 


Bulan Juni ini, menurut perhitungan, kami hanya akan punya pemasukan dua ratus lima puluh ribu saja untuk sebulan. Itupun harus kami terima dengan penuh harapan bahwa akan ada pertolongan dan campur tangan Tuhan. Benar saja, sembari menebar jala untuk beberapa lowongan kerja, tetiba bapackjingga diijinkan membantu penjualan usaha garam milik temannya. Juga jaminan kehilangan pekerjaan yang bisa cair secepat kilat dan masih akan dijamin hingga enam bulan ke depan. Jualanku juga bisa menambah pemasukan kami sedikit - sedikit. Bagiku yang mengeluh adalah jalan ninja, ini semua menjadi terasa ajaib. Bahwa pertolongan Tuhan sungguh tepat waktu. Dan jadi cukup adanya. Tuhan mengubah perhitungan kami dari dua ratus lima puluh ribu menjadi lebih dan cukup sesuai kebutuhan kami.


Aku percaya dan membiarkan harapan membuncah dalam pergumulanku. Dan aku menyaksikan Tuhan mengambil bagiannya, mengatur segala yang baik untuk terjadi dalam pengharapanku. Jika dalam hidupku yang penuh dosa saja Tuhan berkenan mengambil alih, maka aku percaya, kalian yang juga sedang berada dalam pergumulan akan mendapat bagianNya.


Terima kasih untuk kalian yang selalu ada ketika kami membutuhkan dukungan. Untuk tidak menghakimi aku dan rumah tanggaku. Hanya berusaha memastikan kami baik - baik saja. Memberi keyakinan bahwa kami memang akan berjalan baik saja. Tetaplah memiliki harapan. Karena yang pasrah - pasrah udah jadi milik instansi negara. Cakep!


Minggu, 10 Maret 2024

tiga.enam.

Terkadang menjadi Ibu penuh waktu membuatku rindu mengkritik dunia tanpa kenal waktu. Mengeluhkan ini itu hanya karena dulu aku pernah berada di situ. Memperbandingkan hidup, sekarang dan yang dulu. Melontarkan kalimat tak perlu yang semakin memperjelas ke- tidak bersyukuran - ku.


Padahal, sejujurnya, hidupku saat ini adalah impian yang pernah kubawa dalam doa bertahun - tahun lamanya. Hidup yang pernah kubanggakan bertahun - tahun sebelumnya. Padahal hidupku saat ini begitu nikmat adanya. Dan padahal aku tahu bahwa hidup akan berputar, masa akan berlalu dan berganti lagi yang baru. Selalu begitu.


Inilah aku, Anastasia, si paling sering larut dalam masa lalu, susah beranjak maju. Terima kasih sudah memberanikan diri untuk jujur bahwa jalan yang kamu pilih pernah salah dan gegabah, apapun alasannya. Terima kasih untuk mau dibantu dan kemudian berusaha memperbaiki. Terima kasih masih hidup di tiga puluh enam hari ini.


Mari tumbuh dengan hati yang tulus ikhlas berbahagia dan berterima kasihlah aku pada kalian yang selalu berada di sekitarku, memberiku dukungan tanpa berusaha menghakimi setiap tingkah burukku, melihatku bangkit dan memaafkan diriku sendiri. Te amo mucho, mi amor!








Rabu, 01 November 2023

permakluman.perundungan.

Berawal dari kejadian demi kejadian perundungan yang kubaca di media sosial kemudian aku menanggapi salah satu beritanya tentang seorang anak yang harus diamputasi kaki kiri akibat dijegal temannya di sekolah. Ini link berita yang kubaca :

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20231102090253-20-1018967/kaki-siswa-sd-bekasi-diamputasi-usai-dijegal-dibully-teman-sekolah

Ngeri rasanya membayangkan aman tidaknya seorang anak berada di lingkungan sekolah selama beberapa jam setiap harinya. Lebih terasa menyeramkan karena di kasus ini pihak sekolah mengomentari sebagai candaan biasa anak - anak. 

https://www.pramborsfm.com/news/kronologi-siswa-di-bekasi-dibully-hingga-amputasi-kaki-guru-sebut-hanya-bercanda

Permenunganku kemudian adalah tentang diriku sendiri. Mili baru empat bulan ini masuk sekolah TK A. Memang menjadi hal yang baru untuk Mili, juga untuk kami orang tuanya. Mili selalu menceritakan tentang teman - teman di sekolah. Ada yang baik karena berbagi bekal yang dibawa, ada juga yang baik karena ajak Mili main atau sekedar memberi tisu basah ketika Mili lupa kubawakan sapu tangan.

Tapi beberapa kali juga Mili bercerita dengan raut sedih karena ada teman yang usil atau tidak mengijinkan Mili bermain bersama. Biasanya akan kutanggapi dengan respon positif seperti : "oh iya? tidak apa - apa, mungkin teman sedang ingin main sendiri saja" atau "temennya mungkin cuma pengen ajak mbak main, bukan usil, tidak apa - apa ya". Dan sambil lalu cerita kami selesai di hari yang sama.

Kemarin siang, Rabu 1 November 2023, agak berbeda. Pulang sekolah Mili cerita kalo temannya usil lepas - lepas perekat sepatunya berulang kali, juga tangkap Mili dengan mencengkeram pergelangan tangannya sampai rasanya sakit sekali. Teman satunya lagi juga tangkap Mili seperti memeluk dari belakang kencang sekali sampai perutnya sakit. Aku dengarkan dan memberikan perhatian penuh sembari membiarkan matanya terpejam tidur siang. Malam harinya Mili mengeluhkan lagi perutnya yang sakit di kiri dekat pusar. Bahkan minta duduk bersandar saja.

Kutanya kembali tentang kejadian siang tadi di sekolah. Kuminta Mili peragakan dan ceritakan ulang pelan - pelan supaya aku tahu dimana letak salahnya. Dan ketika kutanya : "mbak, sudah bilang jangan ke temannya?". Mili jawab : "mbak sudah bilang jangan, mbuk, tapi temennya masih tangkap mbak lagi, jadi mbak diem aja biar nggak ditangkap lagi".

Jawaban Mili ini terasa perih untuk kudengar keluar dari mulut kecilnya. Anak dengan hati lembut dan belum memiliki daya yang kuat harus menghadapi teman - teman dengan berbagai karakter. 

Di momen itulah aku merasa gusar. Sudah tepatkah caraku memaklumi perundungan yang terjadi di antara anak - anak usia 4 - 5 tahun ini? Apakah benar pemikiranku bahwa anak - anak hanya tidak sengaja menyakiti ketika bermain, hanya lost of control karena sedang senang - senangnya bermain? Ataukah pola pikir sepertiku ini yang pada ujungnya memupuk tingginya pemakluman bullying pada anak dari teman sebayanya? Atau mungkin aku harus lebih berusaha mempersiapkan anak - anakku untuk menghadapi kerasnya dunia ini?!

Semoga perlahan Mili (dan juga Tama) akan tumbuh menjadi anak yang berhati lembut tapi tetap kuat dan berani mengambil sikap untuk tidak tunduk pada hal yang membuat mereka merasa kurang nyaman dan aman. Juga tahu bagaimana cara menghargai orang - orang di sekitarnya sebagai manusia secara utuh. 

Sementara itu aku akan memperjuangkan hak Mili (juga Tama) untuk bermain dengan rasa aman dan nyaman dimanapun mereka berada. Karena mereka adalah titipan yang kelak aku akan dimintakan pertanggungjawaban pada Sang Empunya.


Sabtu, 15 Juli 2023

(ternyata) aku.toxic.

Sebagai orang tua yang baru saja memasuki fase - Orang Tua Siswa - ternyata aku cukup latah untuk membuat anak tampak sama dengan teman - temannya.

Setiap pulang dari sekolah atau setelah melihat dokumentasi kegiatan harian yang dikirim guru di sekolah rasanya akan spontan uhuyy untuk mengeluarkan kalimat - kalimat seperti ini : mbak mili, kok tadi duduknya di belakang sih, nggak di depan kayak si A ini lho?. Atau seperti ini : mbak, kok nggak tos kayak temen - temen (yang padahal anak sudah tos hanya saja tidak terdokumentasikan dan aku terlanjur memberikan penghakiman kepada anakku). Atau lagi pertanyaan seperti : mbak, kok bicaranya pelan banget sampai mbuk nggak dengar deh, besok coba lebih keras ya kayak si B. Dan beberapa komentar spontan lain yang masih saja terlontar.

Seketika menjadi tertampar : apakah aku ini orang tua yang toxic? Apakah aku menjadi masalah bagi anakku karena menuntut anak untuk menjadi sama dengan teman - temannya? Lantas aku menjadi lupa bahwa berbeda itu tidak apa - apa. Bahwa setiap anak akan punya waktunya. 

Ini baru sekolah TK yang tujuannya adalah supaya anak mau dan mampu bersosialisasi. Bagaimana jika sudah berada di tahap selanjutnya yang tujuannya mungkin angka dan prestasi?

Akankan aku semakin toxic untuk anak - anak? Semoga tidak. Karena aku tahu betul diperlakukan tidak sesuai kebutuhan dan keinginanku adalah menyakitkan.

Selamat sekolah, Renjana, anak baik. Semoga kamu bersenang - senang dan dikelilingi mereka yang baik. Amin.










Rabu, 02 November 2022

membagi.waktu.

Karena akan selalu ada yang namanya -membagi waktu-

Dulu kukira aku rindu berjibaku pada mesin waktu di depan laptop, handphone dan teman - temanku. Hingga terasa sulit memutuskan meninggalkan itu semua untuk membersamai anak - anak di rumah.

Dulu kukira ini hanya tentang beberapa mimpi yang harus dicapai lagi nanti. Ternyata tak begitu jalannya. Laptop dan gawaiku tetap berada di hari - hariku, belakangan semakin sering menemaniku kembali karena ada tanggungjawab yang harus diselesaikan. 

Ternyata ini hanya tentang membagi waktu. Yang pada kenyataannya tak pernah menjadi hal baru dalam hidupku.

Dulu kubagi waktu untuk bekerja dan adikku. Kemudian untuk bekerja, adik dan suamiku. Berlanjut untuk bekerja, anak pertama, adik dan suamiku. Kali ini kubagi waktuku untuk dua anakku, adik, suami dan pekerjaanku.

Terlihat sederhana saja. Aku bisa tetap menemani dua anakku menjalani harinya, mengambil sela di jam tidur siangnya untuk sedikit bekerja, dan bergantian ketika suamiku sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kalo kadang ada jam tidurku yang berkurang, ya, mari anggap itu sebagai bonus untuk menikmati malam sembari menyelesaikan tanggungjawab dalam fase - membagi waktu-

Dan ternyata aku tak kehilangan apapun dalam membagi waktuku.