Foto pertama adalah sisi paling membahagiakan dalam hidupku yang selalu dengan bangga kupertontonkan. Sedang foto selanjutnya adalah realita bagaimana aku bergelut dengan emosi yang tak stabil (sebagai seorang Ibu). Cerita lain bisa kalian cari tahu di blog - ku atau nanti ya nunggu ebooknya siap terbit. Amin.
Bahwa pada kenyataannya, setelah aku menyatakan berdamai dengan diri sendiri beberapa tahun lalu, awal - awal Mili lahir, aku tak benar - benar berdamai. Mungkin saja masih ada yang kupendam dan tak kulepaskan dengan sungguh lepas di kedalamannya. Kalian tahu bagaimana situasi dengan Ibu saat itu. Just scroll all the away ya hehehe..
Kali ini aku kembali berhadapan dengan kesehatan mental yang kurasa lebih parah merusak aku (yang belum kusepakati ada apa dalam diriku karena proses konselingku belum berakhir dan belum ada diagnosa yang kuperoleh untuk menjelaskan kondisiku). Titik lemahnya berhubungan dengan uang. Aku main pinjaman online dua tahun belakangan dan mereka bilang mungkin saja aku kecanduan, merasa mudah dapat uang, sementara belakangan kondisi keuanganku memang kacau balau, terlebih setelah suamiku kena PHK pertengahan tahun 2024 kemarin. Kondisi menjadi kacau sekacau - kacaunya sepanjang umurku tiga puluh enam tahun.
Hidupku tidak hedon, kalian pasti tahu. Hanya mengalir saja aku mendadak merasa ketakutan ketika uang tidak berada dan diam manis di rekening. Aku takut bagaimana jika uang - uang ini kemudian habis, sementara hutang untuk menutup pinjol juga harus diselesaikan.
Rasa bersalah memenuhi hidupku ketika harus jujur ke keluarga dan kerabat. Terlebih ke suami. Momen paling pahit dalam hidupku.
Dan sungguh, aku mengerti kesehatan mental bukan melulu berkaitan dengan kondisi finansial. Ada uang, mental kita sehat dan sebaliknya. Jauh lebih dalam dari itu. Tapi yang terlihat di permukaan, jelas hanya gambaran linier tentang kesehatan mental dan uang.
Dalam kasusku kali ini, mungkin saja emosiku tidak stabil karena rasa bersalahku yang berlebihan, bukan lagi tentang bagaimana jika aku tidak lagi punya uang (karena aku perlahan meyakini bahwa uang akan kembali menyukaiku), atau bagaimana jika hutangku tidak lagi bisa kubayar. Bukan lagi tentang bagaimana jika ini dan jika itu terjadi. Kali ini ujian kesehatan mentalku kulabeli lebih berat. Karena aku berurusan dengan rasa bersalah yang setiap hari menggerogoti isi kepala. Rasa bersalah telah menyusahkan hidup keluarga dan kerabatku. Beban yang akan kubawa mati jika tak dapat kuterima keberadannya dengan baik.
Belum selesai sampai di sini. Perjuanganku selanjutnya adalah dengan baiknya Tuhan memberiku jalan untuk kembali memperbaiki kondisiku. Aku dapat lagi pekerjaan, hanya saja kali ini aku harus kembali kerja di kantor, Senin - Sabtu, jam delapan sampai lima sore. Satu sisiku ingin sekali bersyukur karena dengan pekerjaan ini aku bisa menambah penghasilan (rekening tak lagi kosong), sisi mental finansialku akan perlahan tenang. Tapi di satu sisi lagi terkoyak. Batinku seakan belum mampu meninggalkan mili dan tama di rumah beberapa jam selagi aku dan suami bekerja. Pikiranku bertambah penuh. Bagaimana jika A, bagaimana jika B, tapi aku harus mengambil pilihan ini sekarang. Belum ada pilihan lain, entah besok atau dua tiga hari lagi, jika Tuhan ingin tunjukkan kuasaNya padaku sehingga aku tetap bisa punya penghasilan yang besar dan tetap bisa membersamai mili dan tama. Amin.
Pada intinya,
Benar sejak Minggu (kutulis ini hari Rabu), aku sudah tiga kali marah besar, kata - kata tak beraturan, tatap mata kurasa sudah merah membara. Aku sedang kesulitan mengontrol emosiku, aku bisa saja melukai mili dan tama. Dan kali ini aku berharap tak akan ada hal buruk yang terjadi. Karena aku masih punya banyak mimpi untuk diraih. Karena aku hebat dan berharga. Karena aku punya keluarga dan kerabat yang luar biasa. Dan aku punya kalian yang selalu ada untuk sekedar menanyakan kabarku dan memastikan aku bisa menerima kondisi pahitku saat ini. Terima kasih. Dan tolong terus ingatkan aku untuk tetap jadi orang yang baik.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar