Berkali - kali kuserahkan hidupku pada Nya, berkali lipat Dia buat baik berjalan.
Sama seperti kehamilan pertama, kehamilan kedua ini baru kuketahui di usia janin yang sudah sembilan minggu. Tanpa mual, tanpa memberatkan. Yang berbeda kali ini kehamilanku disertai diabetes gestasional dan hipertensi. Mengharuskan aku mengkonsumsi beberapa obat yang belum pernah kutemui. Juga tentang peran baru sebagai ibu rumah tangga saja. Ditambah kondisi mental yang sedang tidak karuan di rumah. Tapi lantas semua berjalan seperti biasanya : bangun tidur, mandi, menyiapkan anak mandi, kadang ikut jalan pagi, menemani anak pertama main, makan, tidur siang, main lagi, mandi sore, makan malam, main, bedtime, tidur. Begitu seterusnya.
Hingga. Kontrol kandungan terakhir kali berat badan janin naik drastis dan dokter menyarankan untuk dilahirkan sesar di usia 37 minggu (3 Maret). Dengan ikhlas hati kuiyakan. Kulawan takutku. Demi dia, pikirku. Sambil terus berharap Tuhan buat mukjijat supaya dia bisa lahir sesuai ingin dan waktunya saja, tanpa dipaksa.
Di tengah kawatirku, tiba - tiba saja bapakjingga harus perjalanan dinas ke Jakarta lima hari, di minggu yang sama dengan due date lahiran. Kubisikkan pada anakku untuk lahir menunggu bapak pulang.
Dan begitulah Tuhan merenda hidupku. Jumat malam bapakjingga sampai di Jogja, Sabtu pagi jam delapan aku pecah ketuban. Berat hati kutinggalkan mbakmili. Bukaan dua. Bukaan enam. Kali ini sungguh hampir mati rasanya. Dari bukaan enam hasrat mengejan sudah terlalu tinggi, kepala bayi sudah nongol. Baru kurasakan inilah sungguh hidup dan matiku. Garisnya tipis. Proses mengeluarkan si bayi tak semudah persalinan pertama. Hampir habis nafasku : Tuhan, aku nggak kuat. Sontak seluruh isi ruang bersalin panik, dokter, bidan bantu dorong bayi besarku lahir : 13.50 WIB secara spontan, dengan inginnya sendiri.
Tak berhenti di situ. Tali pusat terputus, plasenta belum kulahirkan. Mau tidak mau harus dibantu lahirkan dokter secara manual : diambil pakai tangan dokter masuk ke rahim. Rasanya? Mau mati kedua kali. Beberapa jam setelahnya pendarahanku dimulai. Rahim kontraksi kurang bagus karena ada obat yang tidak diberikan ketika proses persalinan tadi, mengingat hipertensi yang kuderita. Kembali tindakan dilakukan. Rasa mati ketiga kali.
Persalinan kedua. Tubuh yang sama dengan cerita berbeda. Titik balik terbesar dalam hidupku. Berada sungguh pada ujung nyawaku, lingkaran ketakutan yang kurasa jauh hari. Aku bersaksi Tuhan baik menolongku yang hampir jatuh. Seketika pulih, kuambil gawaiku dan menuliskan kata maaf pada mereka yang mungkin kusakiti hatinya. Hanya agar lapang jalanku ke depan, bersama suami dan dua anakbaikku.
❤ Sophronius Segara Arditama Sanggaputra ❤
Anak laki - laki yang pandai menguasai diri, bijaksana serta berguna bagi sekitarnya
Lahir normal 27 Februari 2021
Pukul 13:50 WIB
Berat badan 3,8 kg
Panjang 49 cm
Hari ini Tama puputan. Menandakan langkahnya akan semakin kuat ke depan. Semoga cinta yang kami rasakan juga menjadi bagian kebahagiaan kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar