Di senja sore tadi, Saya merasa ada perubahan pada Jogja. Kota kelahiran yang terus berkembang seiring sejalan dengan waktu.
Jogja mulai macet di banyak titik dan jam. Meski masih bisa juga dipakai untuk berkendara di atas 45 km/jam.
Gedung bertingkat semakin merajalela di setiap sudut Jogja. Pengusaha dan pemerintah yang semakin tak acuh dengan peningkatannya. Meski bukan tidak mungkin hanya akan menjadi gedung angker tak berfungsi akibat BEP puluhan tahun di Jogja.
Mulai berisik dengan keramaian aktivitas manusia di dalamnya, dengan kultur yang mulai tercemar. Sama seperti udaranya. Polusi. Tercemar. Rusak.
Dan Saya, salah satu manusia yang menolak "perubahan" Jogja dengan tetap duduk, menikmati senja, menanti hujan, menulis. Tanpa aksi untuk Jogja. Tidak berfungsi.
Jogja mulai macet di banyak titik dan jam. Meski masih bisa juga dipakai untuk berkendara di atas 45 km/jam.
Gedung bertingkat semakin merajalela di setiap sudut Jogja. Pengusaha dan pemerintah yang semakin tak acuh dengan peningkatannya. Meski bukan tidak mungkin hanya akan menjadi gedung angker tak berfungsi akibat BEP puluhan tahun di Jogja.
Mulai berisik dengan keramaian aktivitas manusia di dalamnya, dengan kultur yang mulai tercemar. Sama seperti udaranya. Polusi. Tercemar. Rusak.
Dan Saya, salah satu manusia yang menolak "perubahan" Jogja dengan tetap duduk, menikmati senja, menanti hujan, menulis. Tanpa aksi untuk Jogja. Tidak berfungsi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar