Senin, 09 Maret 2020

bantu.belajar.

Sungguh. Membiarkan diri dibantu orang lain itu menyenangkan. Tak perlu beradu cara siapa yang paling baik untuk diterapkan. Tak perlu unjuk gigi tentang lebih dekat dengan orang tua atau orang lain.

Lebih fokus dalam kasus ini adalah tentang pola asuh orang tua versus orang tua kuadrat (baca : eyang). Percayalah, dalam membesarkan seorang anak, tak ada niat buruk yang disematkan untuk anak atau kita sendiri. Malah kalau anak dekat dengan orang lain, itu memberi kita ruang. Apalagi kalo dekat sama eyangnya, bagus itu. Siapa tau ditulis dalam daftar pewaris kan, hehe (eyaang, please baca deh ini)

Untuk orang tua bekerja dan tinggal satu rumah dengan orang tua, seperti Saya, menitipkan anak ke orang tua adalah salah satu pilihan yang harus Saya ambil. Bisa dengan menambahkan asisten rumah tangga atau diurus sendiri. Kasus Saya, dulu pernah ada ART, tapi orang tua Saya lebih nyaman urus anak Saya sendiri saja tanpa ART. Yang terjadi berikutnya adalah tentang toleransi pola asuh.

Perbedaannya selalu : Saya pakai ilmu medis, grup whatsapp ibu kekinian dan googling, sedangkan eyang pake ilmu pengalaman. Masalahnya, ini era desruptif, eyang harus mau menerima perubahan kan?! Dan Saya harus lebih banyak belajar. Cerita perseteruan kami, bisa dibaca di tulisan sebelumnya atau follow akun Instagram @anastasiatissa deh.

Semakin bertambahnya hari, permasalahannya semakin berganti. Sekarang masuk ke pilihan menu makan dan adu sabar karena si anak sudah mulai males makan, maunya main. Pagi tadi malah sempat drama. Anakbaik (begitu Saya panggil anak perempuan manis ini) ikut kami sarapan, ngemil krupuk, krupuk di tangan habis, proses kunyah di mulut, meweklah dia. Saya ganti roti dan tempe untuk dia pegang, malah dibuang. Sontak Saya ngomel halus, mewek lagi lah dia. Eyangnya datang dan gendong dengan sigapnya. Mendadak tangis anakbaik terhenti, seakan juga bilang "utii, ibu marahin aku". Bukan sedih atau kecewa karena anakbaik punya tameng eyang ketika Saya coba mendidik, tapi Saya geli. Lucu amat anak ini. Mungkin mulai tahu intonasi tinggi dan menerimanya sebagai "Ibu marah, aku salah. Aku tau aku salah, aku takut. Aku cari eyang karena eyang nggak pernah marah". Eyangnya pun akan semakin memandang Saya tidak bisa mengurus anak, cuma bisa marah, tidak sabar, tidak benar. 

Lumrah. Begitulah posisi eyang bagi setiap cucu di muka bumi ini. Pun begitulah posisi orang tua di mata eyang.

Terus gimana donk pola asuh anakbaik sekarang? Ya gampang aja. Kalau lagi sama eyang, ikut aturan eyang. Kalau lagi sama Saya, ikut aturan Saya. Pada waktunya nanti, Saya percaya anakbaik akan memilih aturannya sendiri, yang baik menurut dia.

Belajar menerima adalah hal tersulit yang harus dan mau tidak mau dilakukan. Saya berjuang. Mengalahkan segala ego. Memendam segala kecewa. Demi satu tujuan awal : membesarkan anak ini dengan penuh kasih dan memastikan bahagianya. 

Bergelut beberapa bulan, beberapa tips ini bisa kalian terapkan : 

1. Biasakan mengeluarkan apa yang kalian rasakan, bisa dengan menulis. Dan mengunggahnya di akun pribadi. Tapi hati - hati untuk kalian yang bekerja di perusahaan yang suka keganggu dengan unggahan karyawan. Kalian bisa private akun atau milih nulis di tembok rumah aja.

2. Sering - sering tarik nafas dan hela kemudian. Kalo bisa, menghelanya agak pake suara supaya orang yang dirasa mengesalkan saat itu bisa mendengar. Paling tidak itu bisa bantu kasih sinyal kalo "eh, uwe kesel tauk lu giniin, tapi uwe gpp kok"

3. Berdamai dengan diri sendiri. Caranya? Sugesti diri : ini gpp kok, ini bukan salah uwe, mereka cuma mau bantu kok bukan mau nyulik anak uwe.

Saya menuliskan ini supaya kalian yang mengalami hal serupa bisa merasa berkawan. Kalian nggak sendirian.


"Yang penting gaduh dulu, rencana utamanya jadi bisa tetep jalan"~ Bapak muda berbintang Gemini dengan satu anak perempuan lucu.


Aku, Anak dan Ibuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar