Apa kabar baby bluesku?
Saya terserang baby blues pasca melahirkan anak pertama. Tentang baby blues bisa dicari tahu sendiri ya. Yang Saya alami sebatas perasaan bersalah terus menerus dan merasa tidak mampu. Mulai dari kesulitan mengejan, asi tidak langsung keluar lancar, hingga metode merawat bayi. Semuanya membuat perempuan perfeksionis seperti Saya merasa gagal. Mendekati habis masa cuti kala itu, rasanya semakin menjadi. Kawatir akan segala kemungkinan, terlebih waktu itu mili lagi getol getolnya belajar minum susu menggunakan botol dot. Belum lagi tentang caranya belajar yang tak bisa Saya paksakan orang rumah untuk "mengajarkan" mili tentang ini itu. Karena dasarnya Saya hanya menitipkan mili. Saya tidak bisa memaksa orang untuk mengubah hidupnya demi mili. Misal : kebiasaan eyang merokok tidak bisa serta merta Saya minta berhenti karena mili di rumah, atau tentang jam minumnya mili : ya terserah yang jaga mau ngasih minumnya kapan dan saat apa. Karena ini keluarga dan bukan pembantu yang Saya bayar untuk jaga mili (ada pembantu tapi alih fungsi jadi mengurus rumah), jadi Saya tidak bisa seenaknya 'perintah' ini itu. Alasan utamanya karena Ibu Saya agak sulit menerima masukan dari Saya. Kami musuh bebuyutan soalnya. Satu - satunya yang Saya coba hindari atas hubungan Saya dan mili.
Kali pertama dinas ke luar kota setelah empat bulan absen. Dengan berbagai pertimbangan, Saya memutuskan mengambil pekerjaan ini. Di tengah tak mudahnya menidurkan mili dan membantunya menyusu menggunakan botol. Sekarang pun DBF nya sebentar - bentar banget.
Di sela menunggu waktu pesawat datang, sore ini, sebelum pulang ke pelukan mili, Saya memikirkan tentang semuanya.
Saya belum sungguh berproses sebagai seorang ibu. Tak sanggup mengajarkan anak Saya tentang cara minum dari botol dot. Tak selalu berhasil menidurkan dia pada jamnya. Tak mengerti mengapa mulutnya mendadak dipenuhi bercak putih. Tak mengajaknya bermain dengan mainan yang merangsang inderanya. Belum lagi besok ketika dia mulai makan. Tak paham bagaimana mengajarinya banyak hal. Saya gagal. Tapi tak pernah sedikitpun cinta Saya berkurang untuk anak perempuan Saya. Kelak dia dewasa dan membaca tulisan ini, Saya harap dia akan mengerti dan memaafkan Saya : ibunya yang (merasa) gagal.
Saat ini pilihannya adalah tentang tetap bekerja kantoran atau berada di rumah bersama mili demi melihat tumbuh kembangnya. Kupikirkan perlahan dalam perjalananku pagi tadi dan tetap belum bisa kutemukan jawabnya.
Ini perjuangan kita. Biarlah semesta menyertai kemanapun kaki kita melangkah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar