Tak ada menang kalah yang seharga persatuan bangsa - Najwa Shihab
Ini tentang rangkaian Pemilihan Umum di Indonesia.
17 April 2019 Pemilu diselenggarakan serentak untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, beserta anggota legislatif. Penghitungan cepat sementara mengeluarkan hasil unggul untuk pasangan calon 01 Jokowi - Ma'aruf Amin. Seketika juga muncullah reaksi dari kubu pasangan calon 02 Prabowo - Sandi, klaim kemenangan pun terucap dari kubu ini. Kemenangan atas hasil penghitungan cepat yang mereka lakukan sendiri.
Dari sinilah semua bermula. Kondisi setiap hari semakin panas di media sosial. Politik : klaim kemenangan dan kecurangan. Begitu seterusnya sampai 21 Mei KPU mengumumkan hasil akhir Pemilu unggul untuk pasangan calon 01. Sontak unjuk rasa yang memang sudah dipersiapkan untuk menolak hasil pengumuman KPU ini digelar.
Saya terbangun dini hari dan terjaga menonton siaran langsung TV One mengenai kondisi saat itu. Geram rasanya. Mengutuki manusia - manusia sampah yang demi rupiah kemudian rela memecah belah. Sementara mereka berpeluh darah, para elite yang mungkin mereka bela itu sedang tidur nyenyak berselimutkan pelukan kepuasan.
Hari berikutnya aksi damai kembali digelar. Entah apa yang coba disuarakan, sementara elite yang dibela sudah meminta mereka mengalah dan menempuh jalur hukum untuk hasil Pemilu yang tidak mereka terima. Kali ini siaran langsung di televisi berhasil memperlihatkan betapa harunya keadaan di luar sana. Pengunjuk rasa yang hendak membubarkan diri harus menghalau provokator yang tiba - tiba melemparkan beberapa benda ke arah aparat. Mereka menjadi tameng dari aksi mereka sendiri, lawan bangsa sendiri. Aparat yang berjaga menahan diri cukup baik untuk tidak melakukan apapun. Hanya bertahan. Menahan diri secukupnya.
Provokator mungkin tak lebih menyedihkan dari para pengunjuk rasa. Rela seharian nongkrongin gedung Bawaslu. Berorasi. Berpanasan. Beberapa juga mungkin berpuasa, mengingat ini bulan Ramadhan. Berjuang demi apa yang mereka yakini benar. Yang membedakan hanyalah provokator ini dibayar untuk melakukan aksinya. Apapun akan dilakukan demi uang. Lumayan lah. Bikin onar dan dibayar. Naluri perusak terpenuhi, kebutuhan raga pun tercukupi. Seolah tak peduli berapa banyak kerugian yang orang lain harus tanggung karenanya. Manusia kasta bawah.
https://today.line.me/ID/article/Y96pDN?utm_source=copyshare
https://today.line.me/ID/article/Y96pDN?utm_source=copyshare
Pikiran para elite beda lagi. Persiapkan provokator dengan harapan keadaan akan memanas, memancing aparat untuk bertindak. Kalau jatuh korban, tinggal salahkan aparat yang tidak menghargai kebebasan berpendapat. Pengunjuk rasa menyalahkan aparat, menyerang pemerintahan. Sederhana.
Saya merasa beruntung dibesarkan dan dididik dengan cara orang tua Saya. Ditanamkan dasarnya, dibiarkan mencoba apa yang Saya inginkan dan diajarkan bertanggungjawab atas setiap tindakan Saya. Pendirian Saya nggak kuat - kuat banget, tapi paling tidak, Saya selalu membuat pertimbangan untuk setiap langkah yang Saya ambil. Kalo langkahnya salah bahkan kalah, ya sudah. Saya bersyukur untuk memiliki akal sehat dan tidak mudah disetir. Tidak merugikan orang lain dan memelintir.
Kembali ke kasus Pemilu dan huru haranya. Pemerintah dan aparat bertindak dengan baik menurut Saya. Semuanya. Termasuk tindakan preventif yang diambil untuk memblokir penyebaran foto dan video di media sosial beberapa saat. Ini dilakukan untuk mengurangi sebaran hoax, terorisme dan segala hal yang akan menimbulkan kepanikan. Keren.
Entah apa yang akan terjadi ke depan. Tapi berhenti melakukan tindakan bodoh dalam hidup tak pernah ada ruginya. Berjalan sebagaimana mestinya manusia. Tak memuja sesuatu secara berlebihan.
Selesailah dengan diri sendiri dan berdamai.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar