Rabu, 27 November 2013

masih. jogja.


Masih tentang keprihatinan (semacam pak presiden) pembangunan gedung bertingkat di Jogja. Bulan lalu, beberapa aksi terlihat, beberapa tulisan dimuat media cetak dan nyinyir di media sosial terasa gencar berbunyi menyerukan satu suara kontra terhadap banyak hotel dan lima pusat perbelanjaan yang akan berdiri di Jogja. Pembicaraan pun santer membahas keprihatinan ini.
Seakan tak bersuara, pagi tadi baru benar-benar menyadari. Bangunan tinggi sudah menampakkan kerangkanya di beberapa sudut Jogja. Dari utara ke selatan. Dari dalam kota hingga pinggiran. Tanpa berbuat apa-apa. Sedih. Bukan menolak perubahan atau modernitas, tapi ini Jogja, rumah Saya.
Saya membutuhkan perkembangan, tapi tanpa macet dan polusi. Saya memerlukan lapangan kerja, tapi bukan keegoisan untuk laba semata. Saya menginginkan hiburan, tapi bukan budaya konsumtif dan hedon.
Bangunan tinggi menjulang itu, betul membawa modernitas. Betul menciptakan lapangan pekerjaan. Betul memberikan tempat hiburan. Dan betul-betul menyingkirkan kenyamanan Saya.
Bukankah lebih menyenangkan seandainya modal usaha bangunan tinggi menjulang itu diinvestasikan untuk mendirikan sekolah atau sanggar seni, membiayai anak-anak kurang mampu dan merenovasi museum? Yakinlah, wisatawan datang ke Jogja untuk menikmati keindahan budayanya. Apalagi wisatawan mancanegara, pusat perbelanjaan tidak akan menjadi tujuan mereka datang ke Jogja. Hotel hanya akan penuh pada akhir tahun dan liburan sekolah (kadang juga penuh untuk regional meeting). Pelajar pendatang di Jogja seharusnya tidak di"nyaman"kan dengan hiburan metropolitan semata. Cukup 2-3 pusat perbelanjaan, tidak perlu 10.
Tapi ya sudah, bangunan tinggi tidak mungkin dirobohkan, pemikiran orang tidak mungkin digagalkan. Saya hanya akan tetap tinggal di Jogja dan menikmatinya dengan cara Saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar