If silent isn't gold anymore, let's speak loud(er)
Akhir tahun 2016 indera Saya menjadi lebih sensitif akan keprihatinan yang terjadi di bumi ini. Bencana, tindak kejahatan, kesulitan ekonomi, permainan politik, dan lain sebagainya. Saya terbiasa hanya mengumpat dalam hati dan cenderung tidak melakukan apapun. Ya, kecuali nulis status atau mengunggah foto terkait di media sosial, untuk kemudian dihapus karena malu. Saya geram, tapi tidak tahu bagaimana mengatasi permasalahan yang ada. Meskipun secara alamiah kerap berujar "harusnya tuh bisa blablabla".
Di tengah terpaan keprihatinan ini, media sosial banyak membantu Saya untuk lebih mau terlibat. Banyak lho gerakan yang digagas hanya dari ide atau atas keprihatinan. Ambil contoh : Konser Gugur Gunung, Gelang Harapan, dan Lepas Tukik di Bali.
jogja.tribunnews.com/2016/12/23/video-konser-gugur-gunung-untuk-gempa-aceh
gelangharapan.org
m.antarabali.com/berita/73725/gema-inti-lepas-tukik-di-pantai-kuta
Atau gerakan semenyenangkan Stand Up Comedy Tour - Pandji Pragiwaksono. Setiap pesan yang Pandji bawa melalui stand up comedy -nya selalu mudah dicerna dan terekam dengan baik.
Perlahan Saya menghilangkan umpatan dan memilih untuk berjuang bersama gerakan - gerakan yang saat ini ada. Gerakan berkelanjutan yang tak hanya keras untuk sekali dengar tapi pelan dan bermanfaat panjang.
Kalau membuat sebuah gerakan atas keprihatinan rasanya masih mustahil, lihat sekitar dan keraskan suara. Kalau dari kecil didoktrin bahwa orang tua selalu paling benar, coba sesekali mengutarakan pendapat. Kalau sering kesulitan cari baju yang nyaman, coba mulai bikin baju sendiri dan jadi clothing line besar. Atau, kalau di kantor terbiasa dengan "selalu disalahkan" dan terbiasa mengalah, coba mulai sekarang biasakan menyajikan data dan nikmati rasanya "menang dengan benar".
Karena, diam tidak lagi (selalu) emas yang bisa mengatasi permasalahan dan keprihatinan dalam hidup. Bergerak dan lihat bagaimana semesta mengiringi perjuangan Saya (dan Anda).
Akhir tahun 2016 indera Saya menjadi lebih sensitif akan keprihatinan yang terjadi di bumi ini. Bencana, tindak kejahatan, kesulitan ekonomi, permainan politik, dan lain sebagainya. Saya terbiasa hanya mengumpat dalam hati dan cenderung tidak melakukan apapun. Ya, kecuali nulis status atau mengunggah foto terkait di media sosial, untuk kemudian dihapus karena malu. Saya geram, tapi tidak tahu bagaimana mengatasi permasalahan yang ada. Meskipun secara alamiah kerap berujar "harusnya tuh bisa blablabla".
Di tengah terpaan keprihatinan ini, media sosial banyak membantu Saya untuk lebih mau terlibat. Banyak lho gerakan yang digagas hanya dari ide atau atas keprihatinan. Ambil contoh : Konser Gugur Gunung, Gelang Harapan, dan Lepas Tukik di Bali.
jogja.tribunnews.com/2016/12/23/video-konser-gugur-gunung-untuk-gempa-aceh
gelangharapan.org
m.antarabali.com/berita/73725/gema-inti-lepas-tukik-di-pantai-kuta
Atau gerakan semenyenangkan Stand Up Comedy Tour - Pandji Pragiwaksono. Setiap pesan yang Pandji bawa melalui stand up comedy -nya selalu mudah dicerna dan terekam dengan baik.
Kalau membuat sebuah gerakan atas keprihatinan rasanya masih mustahil, lihat sekitar dan keraskan suara. Kalau dari kecil didoktrin bahwa orang tua selalu paling benar, coba sesekali mengutarakan pendapat. Kalau sering kesulitan cari baju yang nyaman, coba mulai bikin baju sendiri dan jadi clothing line besar. Atau, kalau di kantor terbiasa dengan "selalu disalahkan" dan terbiasa mengalah, coba mulai sekarang biasakan menyajikan data dan nikmati rasanya "menang dengan benar".
Karena, diam tidak lagi (selalu) emas yang bisa mengatasi permasalahan dan keprihatinan dalam hidup. Bergerak dan lihat bagaimana semesta mengiringi perjuangan Saya (dan Anda).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar