Tulisan kali ini akan terasa sangat emosional meskipun Saya menulis dalam keadaan paling rileks minggu ini.
Posisi Saya saat ini adalah Marketing Executive (semacam kepala bagian katanya) di sebuah perusahaan kreatif di Jogja. Saya memiliki satu atasan langsung, lima pengampu brand, tiga marcomm, dan beberapa desainer. Saya memiliki tim yang membantu penjualan di gerai. Saya juga memiliki tim untuk pengembangan produk. Membangun tim tidak pernah menjadi hal yang mudah dalam hidup Saya. Bertemu banyak kepala. Menanamkan kepercayaan. Mengalahkan ego. Berdebat hebat.
Satu yang membuatnya jadi mudah adalah Saya memperlakukan anggota tim dan pekerjaannya secara manusiawi. Rekan, bukan hierarki.
rekan : teman (sekerja)
hierarki : urutan tingkatan atau jenjang jabatan (pangkat kedudukan)
Beberapa minggu ini, kami memiliki Sales Manager (SM). Jabatan ini merupakan struktur baru dalam perusahaan kami. Tugasnya berhubungan dengan penjualan, yang berarti juga mengambil alih salah satu pekerjaan Saya. Termasuk tim yang membantu penjualan Saya di gerai. Sedih dan berat hati melepaskan tim untuk berada pada divisi yang berbeda.
Mimpi buruk rasanya melihat latar belakang sang SM yang notabene akrab bekerja di ritel besar. Takut kalau beliau membawa budaya lamanya ke dalam perusahaan kami. Dan mimpi buruk terjadi. Keluh kesah berdatangan. Penyesuaian diri yang gagal. Hobi bermulut manis di depan atasan dan semena - mena kepada bawahan; tidak tahu bagaimana menyelesaikan pekerjaannya dan tidak berusaha mencari tahu cara yang paling pas; harus kelihatan paling kerja keras padahal orang lain yang susah payah menyelesaikan pekerjaannya (mental bos kelas tirani); mempertaruhkan citra perusahaan dengan bekerja tanpa attitude yang baik. Mulutnya bak Mario Teguh yang selalu manis dan menyejukkan tapi tidak ada isi. Optimis demi komentar positif. Mengesampingkan realistis.
Memiliki posisi yang baik seharusnya diikuti dengan attitude yang semakin baik dan berkelas, bukan menegur bawahan untuk kesalahannya sendiri. Gila hierarki dan pengakuan. Halah!
Kepemimpinan yang buruk, versi Saya. Saya kategorikan buruk, jelas karena berbeda dengan cara Saya berkoordinasi dengan tim atau divisi lain. Ego Saya meningkat. Saya mulai memaksakan kehendak. Kehendak untuk menyamakan orang lain dengan Saya. Kehendak untuk menilai sesuatu buruk dan salah hanya karena tidak dilakukan seperti apa yang Saya lakukan. Ups! Saya terjebak.
Saya yakin, permasalahan seperti ini akan selalu ada dimanapun Saya dan anda berada. Posisi dimana tidak tahan lagi akan suatu kondisi tapi tidak ingin berhenti.
Untuk kemudian Saya memutuskan menerima kondisi ini. Membiarkan setiap manusia hidup dengan caranya sendiri. Kembali berlatih menahan makian tanpa membiarkan orang lain menghancurkan apa yang sudah susah payah Saya perjuangkan. Dan melihat, bagaimana alam akan menyeimbangkan.
Semoga tulisan ini menginspirasi mereka yang berada dalam satu tim dengan Sales Manager untuk tetap bekerja dengan hati, karena kota ini dan pekerjaan di dalamnya harus tetap bisa dinikmati tanpa tirani dan hierarki, seperti yang selalu Saya perjuangkan. Tidak perlu sama, yang penting kerjasama.
Terima kasih untuk menempa kebajaanku dan menjadikannya keris yang tajam.
Terima kasih untuk menempa kebajaanku dan menjadikannya keris yang tajam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar